Pemerintah Indonesia tengah menggodok rencana pengembangan mobil nasional. Dalam perencanaannya, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengambil pelajaran dari pengalaman negara tetangga, Malaysia, yang membutuhkan waktu puluhan tahun untuk berhasil membangun industri mobil nasionalnya, yaitu Proton dan Perodua.
Strategi jangka panjang ini menjadi pertimbangan utama Kemenperin dalam merumuskan peta jalan pengembangan kendaraan nasional. Pengalaman Malaysia menunjukkan bahwa pembentukan basis industri otomotif yang kuat memerlukan komitmen dan waktu yang tidak sebentar.
Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) Kemenperin, Taufiek Bawazier, menjelaskan bahwa keberhasilan Malaysia dalam meluncurkan Proton pada 1983 dan Perodua pada 1993 merupakan hasil dari proses yang panjang dan berkelanjutan. “Malaysia itu butuh waktu puluhan tahun untuk bikin mobil nasional,” ujar Taufiek dalam sebuah kesempatan.
Proton, yang merupakan mobil nasional pertama Malaysia, diluncurkan pada tahun 1983. Sementara itu, Perodua menyusul pada tahun 1993. Kedua merek ini menjadi bukti nyata bagaimana sebuah negara dapat membangun industri otomotifnya dari nol hingga menjadi pemain signifikan di pasar regional, meskipun prosesnya memakan waktu beberapa dekade.
Kemenperin melihat bahwa keberhasilan Malaysia dalam mengembangkan Proton dan Perodua tidak terlepas dari dukungan pemerintah yang konsisten dan strategi industri yang terarah. Hal ini menjadi acuan bagi Indonesia untuk merancang kebijakan yang mampu mendorong pertumbuhan industri otomotif dalam negeri secara berkelanjutan. Pengembangan mobil nasional bukan sekadar menciptakan produk baru, melainkan membangun ekosistem industri yang kuat, mulai dari riset dan pengembangan, komponen dalam negeri, hingga manufaktur dan pemasaran.
Oleh karena itu, Kemenperin menekankan pentingnya kesabaran dan konsistensi dalam mewujudkan visi mobil nasional Indonesia. Pelajaran dari Malaysia ini diharapkan dapat memperkaya strategi yang akan diterapkan, sehingga Indonesia dapat mencapai tujuannya dalam membangun industri otomotif yang berdaya saing di masa depan.
