Pemerintah India mengambil langkah strategis untuk menstabilkan perekonomian negara yang tengah menghadapi defisit anggaran. Alih-alih membebani rakyat dengan pajak baru, New Delhi memilih opsi menjual sebagian saham Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sebagai sumber pendanaan alternatif.
Langkah ini diambil menyusul proyeksi defisit anggaran India yang diperkirakan mencapai 5,9% dari Produk Domestik Bruto (PDB) untuk tahun fiskal 2023-2024. Keputusan tersebut diungkapkan oleh Menteri Keuangan India, Nirmala Sitharaman, dalam sebuah pernyataan yang menggarisbawahi upaya pemerintah untuk menjaga kesehatan fiskal tanpa mengorbankan pertumbuhan ekonomi.
Meskipun angka pasti mengenai nilai saham BUMN yang akan dilepas belum dirinci, Sitharaman menegaskan bahwa proses divestasi akan dilakukan secara hati-hati dan terukur. “Kami akan terus melakukan divestasi dan manajemen aset untuk mendanai pengeluaran kami,” ujar Sitharaman, mengindikasikan bahwa strategi ini akan menjadi bagian dari solusi jangka panjang.
Target divestasi tahun fiskal 2023-2024 ditetapkan sebesar 510 miliar rupee (sekitar Rp95 triliun). Namun, hingga awal Februari 2024, realisasi dari target tersebut baru mencapai sekitar 210 miliar rupee (sekitar Rp39 triliun). Dengan sisa waktu yang semakin sempit, penjualan saham BUMN menjadi salah satu opsi krusial untuk mengejar target tersebut.
Langkah serupa pernah diambil oleh pemerintah India sebelumnya. Pada tahun fiskal 2022-2023, India berhasil melampaui target divestasi dengan mengumpulkan sekitar 350 miliar rupee (sekitar Rp65 triliun), sebagian besar berasal dari penawaran umum perdana (IPO) perusahaan asuransi negara, Life Insurance Corporation of India (LIC).
Selain penjualan saham BUMN, India juga terus mengoptimalkan penerimaan dari sektor pajak. Pendapatan pajak langsung India diproyeksikan tumbuh 9,7% menjadi 18,9 triliun rupee (sekitar Rp3.535 triliun) pada tahun fiskal 2024-2025. Sementara itu, pendapatan pajak tidak langsung diperkirakan naik 7,9% menjadi 15,3 triliun rupee (sekitar Rp2.860 triliun).
Strategi diversifikasi sumber pendanaan ini diharapkan dapat membantu India menjaga stabilitas fiskal sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi di tengah berbagai tantangan global.
