Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil menutup perdagangan di zona hijau pada Rabu (1/7/2026). Indeks mencatatkan penguatan sebesar 0,92 persen ke level 5.695,12.
Laju positif bursa domestik ditopang oleh performa gemilang sejumlah saham berkapitalisasi besar. Penggerak utama indeks hari ini adalah saham BREN, TLKM, dan BRPT.
Meski demikian, penguatan IHSG sempat tertahan oleh koreksi pada saham BBRI, BMRI, dan CPIN. Investor asing terpantau masih melakukan aksi jual bersih atau net sell.
Total nilai jual bersih asing mencapai Rp548,44 miliar di pasar reguler. Sementara di seluruh pasar, angka net sell tercatat menyentuh Rp577,79 miliar.
Sektor energi menjadi primadona dengan kenaikan tertinggi mencapai 2,61 persen. Sebaliknya, sektor transportasi menjadi pemberat dengan pelemahan terdalam sebesar 0,91 persen.
Kondisi ini berbanding terbalik dengan bursa Amerika Serikat yang ditutup melemah. Indeks Dow Jones turun 0,03 persen, S&P 500 terkoreksi 0,22 persen, dan Nasdaq terpangkas 0,66 persen.
Pasar global saat ini tengah mencermati data defisit neraca perdagangan dan kontraksi manufaktur. Selain itu, sentimen negatif muncul akibat suspensi 16 emiten karena keterlambatan laporan keuangan 2025.
Di tengah dinamika pasar, tiga emiten besar Indonesia justru tancap gas melakukan ekspansi dan aksi korporasi. PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) terus mempercepat proyek infrastruktur nikel di Maluku Utara.
Melalui anak usahanya, PT Karunia Permai Sentosa, NCKL membangun smelter RKEF ketiga, pabrik quicklime, dan fasilitas pengolahan ekor produksi. Proyek ini ditargetkan meningkatkan kapasitas produksi feronikel hingga 305.000 ton per tahun pada akhir 2026.
Sementara itu, PT United Tractors Tbk (UNTR) kembali menyiapkan dana untuk aksi buyback saham. Perusahaan mengalokasikan anggaran hingga Rp2 triliun dari kas internal yang tersedia.
Program buyback ini dijadwalkan berlangsung sejak 1 Juli hingga 30 September 2026. Langkah ini diambil sebagai kelanjutan dari program kuartal kedua yang telah terealisasi Rp860,35 miliar.
Di sisi lain, PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA) resmi membagikan dividen tunai tahun buku 2025. Pemegang saham akan menerima pembagian sebesar Rp25 per lembar saham.
Total dividen yang digelontorkan mencapai Rp389,62 miliar. Angka ini setara dengan 32,58 persen dari laba bersih perusahaan yang tumbuh 15,83 persen menjadi Rp1,20 triliun.
Manajemen menetapkan jadwal cum dividen di pasar reguler dan negosiasi pada 7 Juli 2026. Proses pembayaran kepada investor akan dilakukan pada 31 Juli 2026 mendatang.











