Harga minyak mentah dunia kompak melemah pada perdagangan Kamis, 2 Juli 2026. Penurunan ini dipicu sentimen positif pertemuan Amerika Serikat dan Iran.
Delegasi kedua negara bertemu di Doha, Qatar, untuk membahas perdamaian. Pertemuan tersebut merespons konflik yang berlangsung sejak Februari lalu.
Data Investing menunjukkan harga minyak mentah WTI turun 1,01 persen. Kini, harganya berada di level 67,89 dollar AS per barel.
Kontrak berjangka Brent turut terkoreksi sebesar 0,28 persen. Harga komoditas ini kini bertengger di level 70,99 dollar AS per barel.
Presiden AS, Donald Trump, menyebut pertemuan di Doha berjalan lancar. Ia menyatakan diskusi kedua pihak menghasilkan kemajuan positif bagi Timur Tengah.
Trump menegaskan pembahasan tersebut berlangsung secara konstruktif bagi kedua negara. Fokus utama diskusi adalah teknis arus pelayaran Selat Hormuz.
Selat Hormuz merupakan jalur perdagangan energi paling strategis dunia. Ketegangan geopolitik sempat mengancam keamanan distribusi minyak di jalur tersebut.
Kini, lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz mulai pulih. Wakil Presiden AS, JD Vance, menyebut volume minyak kembali normal.
Arus pengiriman dilaporkan sudah mencapai level sebelum perang terjadi. Pemulihan ini menjadi sinyal positif bagi stabilitas pasokan energi global.
Raksasa minyak Arab Saudi, Aramco, pun telah beraksi kembali. Mereka kembali memuat minyak mentah di terminal Ras Tanura sejak Jumat.
Aktivitas ekspor di terminal tersebut sempat terhenti selama empat bulan. Langkah ini mempercepat pengiriman minyak setelah adanya kesepakatan sementara.
Para produsen Timur Tengah kini gencar meningkatkan volume produksi mereka. Hal ini dilakukan demi mengantisipasi kebutuhan pasar pasca kesepakatan damai.
Namun, analis ANZ memberikan catatan penting terkait kondisi pasar. Mereka menilai pemulihan penuh masih membutuhkan waktu cukup lama ke depan.
Masalah antrean kapal tanker dan kerusakan infrastruktur masih menjadi hambatan. Penghentian produksi selama konflik juga memengaruhi efisiensi pasokan fisik saat ini.
Diperkirakan pasokan baru akan mendekati tingkat normal akhir tahun nanti. Pasar kini terus memantau perkembangan implementasi kesepakatan antara AS dan Iran.
Penurunan harga minyak mencerminkan harapan pasar akan stabilitas global. Meski demikian, tantangan logistik tetap membayangi pemulihan industri energi internasional.
Situasi di Timur Tengah akan terus menjadi penentu harga minyak. Investor kini menunggu langkah lanjutan dari kesepakatan damai yang terbangun.











