Harga minyak mentah dunia kembali tertekan hebat pada perdagangan Kamis pagi (2/7/2026). Tren pelemahan ini terus berlanjut setelah berlangsung selama beberapa hari terakhir.
Data Refinitiv pukul 09.55 WIB menunjukkan harga minyak Brent berada di posisi US$70,82 per barel. Angka ini mencatatkan penurunan sebesar 1,05 persen dibandingkan penutupan sebelumnya.
Kondisi serupa dialami oleh West Texas Intermediate (WTI) yang diperdagangkan pada level US$67,74 per barel. Harga tersebut tercatat melemah sekitar 1,22 persen.
Dalam kurun waktu kurang dari dua pekan, Brent telah anjlok sekitar 12 persen dari posisi US$80,57 per barel pada 19 Juni. Penurunan tajam juga terjadi pada WTI sebesar 11,6 persen dari US$76,60 per barel.
Tekanan jual di pasar energi dipicu oleh hasil positif negosiasi tidak langsung antara Amerika Serikat dan Iran di Doha. Pemerintah Qatar menyatakan kedua negara mencapai kemajuan signifikan terkait Selat Hormuz.
Wilayah Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran sangat strategis bagi distribusi energi global. Sebelum konflik terjadi, jalur ini mengalirkan sekitar seperlima pasokan minyak dunia setiap hari.
Perundingan selama dua hari tersebut membahas kelancaran lalu lintas maritim dan pencairan dana Iran yang sempat dibekukan. Kini, arus kapal tanker mulai pulih kembali ke tingkat normal.
Pulihnya aktivitas ekspor dari kawasan Teluk memicu kekhawatiran pasar akan potensi kelebihan pasokan global. Para investor kini menantikan keputusan pertemuan OPEC+ pada akhir pekan mendatang.
Reuters melaporkan adanya potensi kenaikan kuota produksi untuk bulan Agustus sebesar 188.000 barel per hari. Rencana penambahan ini serupa dengan kuota pada Juni dan Juli lalu.
Prospek tambahan pasokan tersebut memperkuat sentimen negatif bagi para pemegang aset minyak. Persaingan pangsa pasar diprediksi akan semakin ketat seiring dibukanya kembali jalur Selat Hormuz.
Sementara itu, data persediaan minyak Amerika Serikat memberikan penopang harga yang cukup terbatas. Laporan Energy Information Administration menyebut stok minyak mentah AS turun 3,8 juta barel pekan lalu.
Total persediaan minyak AS kini berada di angka 408,4 juta barel. Level ini tercatat sebagai posisi terendah sejak September 2018.
Namun, penurunan stok tersebut lebih kecil dari estimasi para analis dalam jajak pendapat Reuters. Sebelumnya, pasar memperkirakan penyusutan stok mencapai 4,5 juta barel per pekan.
Saat ini, pelaku pasar terus mencermati dinamika geopolitik dan kebijakan produksi minyak global. Ketidakpastian pasokan menjadi penentu utama arah pergerakan harga minyak dalam jangka pendek.











