Organisasi global industri telekomunikasi, GSMA, menyarankan Indonesia untuk tidak terburu-buru dalam mengadopsi teknologi jaringan seluler generasi keenam (6G). Penekanan justru harus diberikan pada optimalisasi pemanfaatan teknologi 5G yang sudah ada agar mampu memberikan kontribusi signifikan bagi perekonomian nasional.
Menurut GSMA, saat ini Indonesia masih berada dalam tahap awal implementasi 5G. Oleh karena itu, prioritas utama seharusnya adalah memastikan bahwa infrastruktur dan ekosistem 5G dapat berkembang secara maksimal. Hal ini penting agar manfaat ekonomi dari teknologi 5G dapat dirasakan secara luas oleh masyarakat dan berbagai sektor industri.
Dalam sebuah diskusi yang diselenggarakan pada 16 Mei 2024, perwakilan GSMA menggarisbawahi potensi besar 5G yang belum sepenuhnya tergali di Indonesia. “Indonesia memiliki peluang besar untuk memanfaatkan 5G guna mendorong transformasi digital dan pertumbuhan ekonomi. Namun, hal ini memerlukan fokus pada implementasi yang matang dan ekosistem yang mendukung,” ujar perwakilan GSMA.
Pernyataan ini menekankan bahwa kesiapan infrastruktur, ketersediaan perangkat yang mendukung, serta regulasi yang kondusif menjadi kunci keberhasilan adopsi 5G. Tanpa fondasi yang kuat, mengejar teknologi yang lebih baru seperti 6G dikhawatirkan akan menjadi pemborosan sumber daya dan belum tentu memberikan hasil yang optimal.
GSMA menyarankan agar pemerintah dan pelaku industri telekomunikasi di Indonesia melakukan evaluasi mendalam terhadap perkembangan 5G saat ini. Upaya percepatan penetrasi 5G di berbagai wilayah, pengembangan aplikasi dan layanan berbasis 5G, serta peningkatan literasi digital masyarakat perlu menjadi agenda utama. Dengan demikian, Indonesia dapat membangun basis yang kokoh sebelum melangkah ke era 6G yang diprediksi baru akan matang secara komersial pada tahun 2030-an.
