Global Emotions Report Ungkap Negara Paling Rentan Terpapar Kemarahan: Chad di Puncak Daftar

Heni Maulidya

Sebuah laporan global terbaru mengungkapkan negara-negara di mana penduduknya paling sering merasakan emosi kemarahan. Studi yang dilakukan oleh Gallup pada tahun 2025 ini memetakan tingkat kemarahan di 144 negara, menyoroti bagaimana kondisi sosial, politik, dan ekonomi dapat memengaruhi emosi kolektif masyarakat. Temuan ini juga menggarisbawahi korelasi kuat antara ketidakstabilan dan tingginya tingkat kemarahan di suatu negara.

Laporan Global Emotions Report 2025 dari Gallup menemukan bahwa secara global, hampir seperlima penduduk dunia melaporkan merasakan kemarahan dalam 24 jam terakhir. Survei ini melibatkan wawancara mendalam dengan individu dewasa berusia 15 tahun ke atas di berbagai negara dan wilayah. Hasilnya memunculkan daftar negara-negara yang paling rentan mengalami emosi negatif ini, dengan beberapa di antaranya tengah berada dalam situasi konflik atau ketegangan yang signifikan.

Chad memegang posisi teratas dalam daftar negara yang paling mudah marah. Data survei menunjukkan bahwa sebanyak 47 persen responden di negara Afrika Tengah ini mengaku mengalami rasa marah pada sebagian besar hari sebelumnya. Tingkat ini jauh melampaui rata-rata global dan mengindikasikan adanya tekanan emosional yang intens di kalangan masyarakatnya.

Di sisi lain, sebagai perbandingan, Mauritius yang juga berada di benua Afrika, mencatat tingkat kemarahan terendah di kawasan tersebut, hanya sebesar 8 persen. Perbedaan yang mencolok ini menunjukkan bahwa faktor-faktor spesifik di suatu negara sangat memengaruhi prevalensi emosi tertentu.

Selain Chad, beberapa negara di kawasan Timur Tengah dan sekitarnya juga mencatat tingkat kemarahan yang relatif tinggi. Negara-negara seperti Irak, Iran, Yordania, Lebanon, dan Turki masuk dalam daftar ini. Keberadaan negara-negara yang sedang menghadapi konflik atau ketidakstabilan politik di dalam daftar ini bukanlah suatu kebetulan.

Laporan ini secara implisit menunjukkan bahwa situasi perang dan konflik berkepanjangan memiliki dampak langsung terhadap kondisi psikologis penduduknya. Menurut analisis yang mengutip Facts Institute, negara-negara yang mengalami ketidakstabilan politik, krisis ekonomi, atau dampak dari konflik yang berlangsung lama cenderung memiliki penduduk yang lebih rentan terhadap stres, frustrasi, dan akhirnya kemarahan.

Republik Demokratik Kongo menjadi salah satu contoh nyata dari fenomena ini. Konflik yang terus-menerus di negara tersebut telah memicu krisis kemanusiaan yang meluas, memaksa jutaan orang mengungsi, menghadapi kelangkaan pangan, dan terpuruk dalam kesulitan ekonomi. Kondisi yang serba sulit ini secara alami meningkatkan tingkat kecemasan dan kemarahan di kalangan masyarakat.

Irak juga secara konsisten muncul dalam daftar negara dengan tingkat kemarahan tinggi. Negara ini belum sepenuhnya pulih dari dampak invasi yang dimulai sejak tahun 2003, meninggalkan luka mendalam pada infrastruktur, ekonomi, dan tatanan sosialnya. Trauma kolektif dan kesulitan yang terus berlanjut membuat warga Irak lebih rentan terhadap luapan emosi negatif.

Palestina menempati posisi kesembilan dalam daftar tersebut, mencerminkan tekanan luar biasa akibat konflik yang berkepanjangan, pembatasan mobilitas yang ketat, dan krisis ekonomi yang melumpuhkan. Kehidupan sehari-hari yang dipenuhi ketidakpastian dan tantangan membuat rasa marah menjadi respons yang sering muncul sebagai bentuk ekspresi dari tekanan yang tak kunjung usai.

Dalam konteks ini, daftar negara yang paling mudah marah bukan sekadar catatan tentang temperamen individu, melainkan sebuah cerminan dari realitas sosial, politik, dan ekonomi yang berat yang dihadapi oleh penduduknya. Emosi kolektif suatu masyarakat sangat dipengaruhi oleh kondisi hidup yang mereka jalani setiap hari.

Temuan dari Global Emotions Report 2025 ini memberikan pandangan yang lebih dalam tentang bagaimana faktor eksternal dapat membentuk pengalaman emosional manusia dalam skala global. Hal ini juga menekankan pentingnya stabilitas, perdamaian, dan pemulihan ekonomi dalam menciptakan lingkungan yang lebih kondusif bagi kesejahteraan psikologis masyarakat di seluruh dunia.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All