Sebuah foto yang menampilkan Presiden ke-7 RI Joko Widodo menginjak kepala kerbau memicu kegaduhan di ruang publik. Peristiwa tersebut terjadi saat prosesi adat penyematan gelar Baginda Pemuka Bangsa di Lampung.
Politisi PDI Perjuangan Guntur Romli melayangkan kritik tajam terkait tindakan mantan kader partainya tersebut. Guntur menyoroti posisi kaki Jokowi yang berada di atas kepala kerbau saat prosesi berlangsung.
Menurut Guntur, aksi ini dianggap sebagai simbol perilaku layaknya seorang raja. Ia menilai tindakan tersebut menunjukkan sikap yang terbuai oleh ambisi kekuasaan keluarga.
Guntur menyinggung posisi Gibran Rakabuming Raka sebagai Wakil Presiden dan Bobby Nasution sebagai Gubernur Sumatra Utara. Selain itu, ia menyoroti Kaesang Pangarep yang kini menjabat Ketua Umum PSI.
Ia menegaskan perbedaan mendasar antara kerbau yang diinjak dengan lambang banteng moncong putih milik PDIP. Banteng merupakan satwa dilindungi, sedangkan kerbau hanyalah hewan ternak biasa.
Kritik ini dikaitkan dengan hasil disertasi Sekretaris Jenderal PDIP, Hasto Kristiyanto. Disertasi tersebut membahas perpaduan tiga konsep populisme otoriter dalam kepemimpinan Joko Widodo.
Guntur menyebut ada unsur feodalisme yang mempersepsikan diri sebagai raja. Selain itu, terdapat karakter populisme melalui pembagian sembako dan amplop kepada masyarakat.
Terakhir, ia menyinggung watak Machiavelianisme yang menempatkan kekuasaan sebagai tujuan utama. Pandangan ini mencerminkan keresahan PDIP terhadap gaya kepemimpinan Jokowi selama ini.
Hingga saat ini, polemik foto tersebut masih ramai diperbincangkan warganet di berbagai platform media sosial. Banyak pihak menyoroti kemiripan visual kerbau dengan logo partai berlambang banteng.
Situasi ini menambah ketegangan hubungan antara PDIP dan Joko Widodo. Publik kini menanti apakah akan ada respons resmi dari pihak istana terkait kritik tersebut.











