Fenomena Tokophobia Meningkat, Media Sosial Dinilai Jadi Pemicu Utama Ketakutan Ibu Hamil

Rini Widiyarti

Kehamilan yang seharusnya menjadi momen membahagiakan kini justru memicu ketakutan ekstrem bagi sebagian perempuan. Kondisi psikologis yang dikenal dengan istilah tokophobia ini kian marak terjadi di era digital.

Berdasarkan data global, sebanyak 14 persen perempuan di seluruh dunia dilaporkan mengidap fobia spesifik ini. Angka tersebut mencerminkan kecemasan mendalam terhadap proses mengandung dan melahirkan.

Kondisi ini berbeda jauh dengan rasa gugup biasa yang kerap dialami ibu hamil. Pengidapnya bahkan bisa melakukan langkah ekstrem untuk menghindari kehamilan sama sekali.

Laporan Mental Health Foundation di Inggris mencatat terdapat 8,2 juta kasus kecemasan yang terdeteksi. Perempuan muda usia 16 hingga 24 tahun tercatat memiliki risiko tiga kali lebih tinggi.

Salah satu pemicu utama fenomena ini adalah paparan konten negatif di berbagai platform media sosial. Grup daring sering menjadi wadah berbagi cerita persalinan yang traumatis.

Dosen kebidanan Universitas Hull, Catriona Jones, menyoroti dampak buruk forum diskusi daring. Narasi mengerikan seperti pertumpahan darah sering membuat pembaca merasa sangat ketakutan.

Secara medis, tokophobia terbagi menjadi dua jenis berdasarkan riwayat kesehatan. Tokophobia primer menyerang perempuan yang belum pernah hamil sebelumnya.

Sementara itu, tokophobia sekunder dialami mereka yang memiliki trauma persalinan di masa lalu. Keduanya membutuhkan penanganan psikologis yang tepat agar tidak berlarut.

Penggunaan media sosial yang intens memicu bias negatif pada otak manusia. Otak cenderung lebih mudah menyerap dan mengingat informasi buruk daripada pengalaman positif.

Algoritma media sosial memperburuk keadaan dengan terus menyodorkan konten serupa. Hal ini menciptakan ilusi seolah semua proses melahirkan sangat berbahaya bagi keselamatan ibu.

Padahal, secara medis, mayoritas persalinan berjalan dengan aman dan lancar. Kecemasan berlebih ini sering kali tidak berbanding lurus dengan realita medis yang ada.

Gejala tokophobia meliputi serangan panik saat membahas kehamilan dan insomnia. Beberapa pengidap bahkan nekat menolak pemeriksaan medis demi menghindari realita kehamilan.

Langkah mitigasi terbaik adalah membatasi durasi bermedia sosial setiap hari. Saringlah konten edukatif yang berasal dari sumber kredibel dan ahli kesehatan.

Prioritaskan konsultasi dengan dokter kandungan atau bidan resmi daripada mencari jawaban di internet. Dukungan emosional dari pasangan juga berperan krusial dalam pemulihan mental.

Setiap perjalanan kehamilan bersifat unik bagi setiap individu. Jangan biarkan pengalaman buruk orang lain di media sosial mendikte kesehatan mental Anda.

Pendampingan psikolog profesional sangat disarankan jika kecemasan sudah mulai mengganggu aktivitas harian. Penanganan dini dapat membantu perempuan menghadapi proses kehamilan dengan lebih tenang dan percaya diri.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All