Negara kepulauan kecil Tanjung Verde, dengan populasi kurang dari 525.000 jiwa, telah menciptakan salah satu kisah paling menakjubkan di ajang Piala Dunia 2026. Tim berjuluk ‘Hiu Biru’ ini berhasil mencetak sejarah dengan menahan imbang dua negara peraih gelar Piala Dunia pada babak grup, menempatkan mereka pada posisi yang sangat menjanjikan untuk lolos ke babak gugur. Perjalanan mereka menjadi bukti bahwa di panggung sepak bola terbesar, semangat dan determinasi bisa mengalahkan prediksi.
Debut Tanjung Verde di Piala Dunia 2026 langsung memukau dunia saat mereka berhasil menahan imbang Spanyol 0-0. Hasil tersebut menjadi kejutan terbesar di awal turnamen, sekaligus mengirimkan pesan kuat bahwa ‘Hiu Biru’ bukanlah tim yang bisa diremehkan. Para pengamat sepak bola dibuat terdiam melihat solidnya pertahanan dan keberanian tim dari Samudra Atlantik ini.
Tak berhenti di situ, Tanjung Verde kembali menunjukkan kualitasnya dengan menahan imbang Uruguay 2-2 dalam pertandingan kedua Grup H. Melawan raksasa Amerika Latin yang juga memiliki dua trofi Piala Dunia, mereka tidak hanya bertahan, tetapi juga berani melancarkan serangan. Performa ini menegaskan bahwa keberhasilan mereka bukanlah kebetulan, melainkan hasil dari kerja keras dan strategi yang matang.
Sorotan utama pada laga-laga tersebut tak hanya tertuju pada kolektivitas tim, melainkan juga aksi heroik kiper Vozinha. Penjaga gawang Tanjung Verde ini mencuri perhatian dunia setelah melakukan tujuh aksi penyelamatan krusial saat menghadapi Spanyol. Popularitasnya meroket drastis, dengan jumlah pengikut Instagram-nya melonjak dari 40.000 sebelum pertandingan Spanyol menjadi lebih dari 15 juta.
Melawan Uruguay, Tanjung Verde membuktikan bahwa lini depan mereka juga tidak bisa diremehkan. Kevin Pina berhasil memecah kebuntuan melalui tendangan bebas akurat yang menembus pagar betis dan mengecoh kiper Fernando Muslera. Gol ini disambut gegap gempita di Praia, ibu kota Tanjung Verde, yang menjadi simbol kebangkitan sepak bola nasional. Helio Varela kemudian menambah gol kedua dengan sentuhan halus yang melewati Muslera, menunjukkan kombinasi kekuatan bertahan dan ancaman serangan yang mematikan.
Mantan bek Wales, Ashley Williams, menyatakan kekagumannya terhadap performa para pemain Tanjung Verde, "Mereka pasti akan memeriksa ponsel mereka untuk melihat berapa banyak pengikut yang mereka miliki," ujarnya kepada BBC, menyoroti dampak instan ketenaran di panggung Piala Dunia. Sementara itu, mantan penyerang Skotlandia, James McFadden, menambahkan, "Hal terbesar bagi saya adalah betapa Cape Verde menikmati permainan mereka. Mereka sangat menikmati permainan. Sangat menyenangkan untuk ditonton." Semangat dan kegembiraan para pemain menjadi energi positif yang menular.
Dua hasil imbang tersebut, yakni melawan Spanyol dan Uruguay, menjadikan Tanjung Verde sebagai tim debutan pertama yang tidak terkalahkan dalam dua pertandingan pertama Piala Dunia sejak Senegal pada tahun 2002. Rekor impresif ini menempatkan ‘Hiu Biru’ di posisi ketiga klasemen Grup H dengan dua poin. Format baru Piala Dunia 2026 yang melibatkan 48 tim dan babak 32 besar memberikan peluang emas bagi tim-tim seperti Tanjung Verde untuk melaju lebih jauh.
Pada pertandingan penentu babak grup, Tanjung Verde akan menghadapi Arab Saudi. Lawan mereka ini memiliki rekor yang tidak konsisten, bermain imbang 1-1 dengan Uruguay dan kalah telak 4-0 dari Spanyol. Dengan demikian, tiga poin penuh melawan Arab Saudi akan cukup bagi Tanjung Verde untuk memastikan tiket ke babak 32 besar, melanjutkan kisah dongeng mereka di turnamen paling bergengsi ini.
Di balik gemerlapnya aksi di lapangan, ada kisah mengharukan yang juga menyertai perjalanan Tanjung Verde. Ibu kiper Vozinha, Ana Candida Evora, awalnya tidak dapat menyaksikan putranya berlaga di Piala Dunia karena tingginya biaya visa AS, yang saat itu mengharuskan deposit sekitar £11.000. Namun, berkat bantuan berbagai pihak, termasuk Ketua Fraksi Demokrat di DPR AS, Hakeem Jeffries, dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio, biaya visa digratiskan dan tiket pesawat diatur agar ibunya bisa hadir.
"Saya sangat bahagia," kata Ana Candida Evora kepada BBC di Sao Vicente. "Semua ini terjadi begitu cepat, tetapi saya tetap cukup bahagia. Saya akan melihat anak saya bermain di Piala Dunia, jika Tuhan menghendaki. Saya akan pergi ke sana untuk mendukungnya, memberinya kekuatan dan keberanian. Saya akan memeluknya setelah pertandingan." Kehadiran sang ibu di Stadion Miami pada 21 Juni 2026 saat Tanjung Verde menghadapi Uruguay menambah dimensi emosional pada perjuangan tim ini. Hakeem Jeffries menegaskan bahwa "Tidak ada seorang ibu pun yang seharusnya kehilangan kesempatan untuk melihat anaknya mencetak sejarah."
Perjalanan Tanjung Verde di Piala Dunia 2026 adalah inspirasi bagi banyak negara kecil di dunia. Mereka telah membuktikan bahwa dengan keyakinan, kerja keras, dan dukungan, batasan geografis atau persepsi sebagai ‘underdog’ dapat diatasi. ‘Hiu Biru’ kini bukan lagi sekadar tim debutan, melainkan kekuatan yang diperhitungkan, siap menulis babak baru dalam sejarah sepak bola mereka di babak gugur.











