Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) memberikan penjelasan mengenai fenomena erupsi beberapa gunung api yang terjadi secara bersamaan dalam rentang waktu berdekatan. Kejadian ini memicu perhatian publik dan menimbulkan pertanyaan mengenai penyebabnya.
Menurut PVMBG, fenomena ini bukanlah hal yang baru dan sering kali berkaitan dengan aktivitas tektonik yang lebih luas di bawah permukaan bumi. Aktivitas tersebut dapat memicu pelepasan energi yang kemudian mempengaruhi stabilitas beberapa gunung api sekaligus.
Kepala PVMBG, Hendra Gunawan, menjelaskan bahwa salah satu faktor pemicu erupsi gunung api yang berdekatan adalah adanya pergerakan lempeng tektonik. “Apabila ada satu aktivitas tektonik besar, itu bisa memicu dan mengganggu keseimbangan beberapa gunung api di sekitarnya,” ujar Hendra Gunawan dalam keterangan resmi pada hari Jumat, 19 April 2024.
Hendra menambahkan bahwa pada dasarnya, gunung api memang memiliki potensi untuk erupsi. Namun, aktivitas tektonik yang kuat dapat mempercepat atau memicu proses erupsi pada gunung api yang sebelumnya mungkin hanya menunjukkan tanda-tanda aktivitas minor. “Jadi, itu memang sudah ada potensi, tapi terpicu oleh aktivitas tektonik,” jelasnya.
Fenomena ini pernah terjadi sebelumnya, seperti pada tahun 2018, di mana erupsi Gunung Api Merapi dan Gunung Api Sinabung terjadi dalam waktu yang berdekatan. Pada saat itu, PVMBG juga mengaitkan kejadian tersebut dengan aktivitas tektonik yang signifikan di wilayah tersebut.
Meski demikian, PVMBG terus melakukan pemantauan intensif terhadap seluruh gunung api aktif di Indonesia. Masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan dari pihak berwenang, serta tidak terpancing oleh isu-isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Informasi terkini mengenai status aktivitas gunung api selalu dapat diakses melalui situs resmi PVMBG.
