Insiden di Assen ini terjadi hanya seminggu setelah Grand Prix Ceko (19-21 Juni) di mana Acosta terpaksa mundur dari balapan pada lap terakhir akibat masalah serupa. Situasi ini tentu menimbulkan kekhawatiran serius bagi pembalap yang dikenal dengan julukan "Si Hiu" tersebut, terutama mengingat target ambisius yang ia pasang untuk musim ini.
Manajer Tim Red Bull KTM Factory Racing, Aki Ajo, melaporkan bahwa salah satu masalah yang muncul pada Sabtu adalah kerusakan sensor yang berulang di lokasi yang sama. Namun, Acosta sendiri mengungkapkan bahwa ia juga menghadapi masalah baru yang belum pernah ditemui sebelumnya. "Setiap hari selalu ada kejutan," ujar Acosta dengan nada frustrasi.
Salah satu masalah yang paling mengkhawatirkan adalah ketika gas motor tetap terbuka saat ia mencoba menutupnya. "Ini masalah baru, setiap hari selalu ada kejutan," ungkap Acosta. "Kami masih harus percaya (pada tim). Mereka harus memeriksa segalanya, karena hari ini entah bagaimana masalah pertama yang saya ingat adalah gas yang terbuka ketika saya menutupnya, dan ketika ini menyangkut keselamatan, itu adalah hal lain. Untuk ini, mereka harus memperhatikannya."
Pernyataan Acosta ini menyoroti dimensi keselamatan yang krusial, sebuah aspek yang tidak bisa ditawar dalam dunia balap motor kecepatan tinggi. Masalah pada kontrol gas dapat berakibat fatal, sehingga desakan Acosta agar tim lebih serius menangani hal ini sangat beralasan. Kepercayaan pembalap pada motornya adalah fondasi utama untuk bisa tampil maksimal dan tanpa rasa takut.
Terlepas dari serangkaian masalah yang terus berulang pada motor RC16, Acosta menekankan bahwa keluhan yang ia alami pada hari Sabtu di Assen adalah jenis masalah yang belum pernah ia hadapi sebelumnya. Ini mengindikasikan bahwa tim KTM mungkin dihadapkan pada tantangan yang lebih kompleks dalam mendiagnosis dan memperbaiki akar masalah reliabilitas yang terus bermunculan.
Pembalap berusia 22 tahun ini, yang baru saja diumumkan akan bergabung dengan tim pabrikan Ducati pada tahun 2027, menyatakan bahwa ia tidak membutuhkan permintaan maaf dari KTM. Baginya, permintaan maaf tidak akan menyelesaikan masalah. "Maksud saya, permintaan maaf tidak akan menyelesaikan (apa pun), Anda tahu," katanya. "Itu tidak akan membantu. Ketika masalahnya ada dan Anda tahu kapan itu akan datang, tidak peduli seberapa menyesalnya, Anda tahu. Saya butuh masalahnya teratasi dan tidak terjadi lagi. Inilah yang saya butuhkan."
Sikap tegas Acosta ini menunjukkan profesionalisme dan fokusnya pada solusi, bukan sekadar basa-basi. Sebagai seorang pembalap yang memiliki kontrak baru dengan tim rival di masa depan, ia berada di posisi yang unik. Meskipun loyalitasnya masih untuk KTM di musim ini, ia juga perlu menjaga reputasi dan performanya agar tetap prima, yang pada akhirnya akan menguntungkan transisinya ke Ducati.
Kurangnya putaran di sesi latihan pagi berdampak langsung pada Sprint Race. Acosta, yang start dari posisi kedelapan, merasa tidak siap untuk balapan 13 lap tersebut. Ia melebar di tikungan tujuh pada lap-lap awal dan sempat melorot ke posisi ke-14 sebelum akhirnya berhasil bangkit dan finis di posisi kesembilan.
"Tidak mudah, lebih dari segalanya karena Anda tiba di balapan Sprint tanpa persiapan karena Anda hanya melakukan 10 lap, atau mungkin hanya enam lap yang valid sepanjang hari," jelasnya. "Anda balapan dengan motor yang sama seperti kemarin (Jumat), melaju setengah detik lebih cepat – cukup sulit untuk siap menghadapi sprint."
Ia menambahkan, "Maksud saya, ketika Anda tidak melakukan lap sama sekali sepanjang hari dan Anda balapan dengan motor dari kemarin, cukup mudah untuk membuat kesalahan seperti yang saya lakukan, Anda tahu. Juga cukup sulit untuk mengikuti orang lain, tetapi lebih dari segalanya karena kami tidak siap." Komentar ini menggambarkan tekanan mental dan fisik yang harus dihadapi Acosta ketika motornya tidak memberikan performa yang konsisten.
Acosta telah berkali-kali menyatakan bahwa targetnya untuk musim ini adalah finis di lima besar klasemen, bukan hanya sekadar podium atau kemenangan. Namun, dengan situasi reliabilitas yang terus-menerus terjadi, ia merasa KTM "sangat jauh" dari mampu mencapai tujuan tersebut.
"Saat ini kami benar-benar, sangat jauh dari target kami," katanya ketika ditanya apakah ia bisa finis di lima besar pada balapan utama hari Minggu. "Pertama-tama, mari kita berdoa agar motornya berjalan sepanjang balapan, dan kemudian kita lihat. Saya pikir dengan start yang bagus dan lap pertama yang bagus, seperti yang saya lakukan, itu akan jauh lebih mudah. Tapi kami harus entah bagaimana mempersiapkan balapan di sesi pemanasan. Kami sudah terlambat akhir pekan ini."
Tantangan yang dihadapi Pedro Acosta di Assen bukan hanya sekadar masalah teknis semata, tetapi juga ujian kesabaran, kepercayaan, dan fokus. Dengan kontrak Ducati di tangan untuk 2027, Acosta berada di persimpangan jalan antara memaksimalkan sisa waktunya di KTM dan memastikan keselamatannya tetap menjadi prioritas utama. Bagi KTM, ini adalah alarm keras untuk segera mengatasi masalah reliabilitas jika mereka ingin mempertahankan reputasi sebagai tim pabrikan papan atas di MotoGP. Balapan utama hari Minggu akan menjadi pertaruhan besar bagi Acosta dan tim KTM untuk menunjukkan bahwa mereka bisa bangkit dari keterpurukan ini.











