Masa depan kecerdasan buatan kini tidak lagi sekadar bicara soal pusat data raksasa. Fokus dunia teknologi mulai bergeser ke unit data mikro yang disebut token. Token menjadi satuan ukur vital yang menentukan harga, kecepatan, hingga daya komputasi layanan AI.
China kini memimpin transformasi ini dengan menggenjot penggunaan token dalam skala masif. Para pengamat menyebut langkah ini sebagai lahirnya ekonomi token yang sesungguhnya. Fenomena tersebut menandai transisi sektor AI di Negeri Tirai Bambu dari sekadar eksperimen menuju penerapan industri secara luas.
Qian Zilan, peneliti di Oxford China Policy Lab, mencatat perusahaan telekomunikasi milik negara di China kini mulai menjual paket langganan token. Layanan ini menyasar pengguna umum hingga pengembang aplikasi. Strategi ini dianggap sebagai upaya serius mengintegrasikan AI ke dalam utilitas publik.
Secara teknis, token adalah potongan data kecil yang diproses model AI untuk memahami instruksi. James Pang, profesor analitik di National University of Singapore, menjelaskan token ibarat kepingan Lego. Unit ini menentukan seberapa panjang jawaban yang dihasilkan AI serta besarnya biaya komputasi yang harus dibayar.
Perbedaan bahasa turut memengaruhi efisiensi penggunaan token. Bahasa Mandarin, misalnya, cenderung lebih padat makna dibandingkan bahasa Inggris. Namun, efisiensi ini sangat bergantung pada bagaimana sebuah model AI dilatih sejak awal.
Data dari National Data Administration China menunjukkan konsumsi token harian mencapai 140 triliun pada Maret 2026. Angka ini melonjak tajam lebih dari 40 persen dibandingkan akhir tahun lalu. China bahkan secara resmi mengadopsi istilah ciyuan untuk merujuk pada nilai ekonomi token tersebut.
Operator telekomunikasi seperti China Telecom kini telah merilis skema tarif berbasis token. Pengguna bisa membeli paket mulai dari 9,9 yuan untuk 10 juta token hingga 299,9 yuan untuk kuota yang jauh lebih besar. Kebijakan ini menegaskan posisi token sebagai komoditas ekonomi baru.
Namun, pesatnya ekonomi token ini membawa risiko keamanan yang tidak bisa diremehkan. Kementerian Keamanan Negara China telah mengeluarkan peringatan terkait potensi kejahatan siber. Modus penipuan mulai muncul dengan mengemas ulang token sebagai produk investasi bodong.
Huang Daoli dari Kementerian Keamanan Publik China menegaskan bahwa token harus diperlakukan sebagai kredensial sensitif. Jika keamanan token dibobol, dampaknya bisa meluas dari kebocoran privasi hingga ancaman stabilitas ekonomi nasional.
Selain risiko pencurian, integrasi AI ke alur kerja nyata memperluas permukaan serangan siber. James Pang mengingatkan bahwa agen AI yang terhubung ke sistem pembayaran atau email perusahaan menjadi sasaran empuk peretas. Karena itu, tata kelola data dan kontrol akses yang ketat menjadi syarat mutlak keberhasilan ekonomi AI di masa depan.











