Emosi Amadou Onana Saat Harus Melawan Tanah Kelahiran Senegal di Piala Dunia

Rini Widiyarti

Gelandang tim nasional Belgia, Amadou Onana, akan menghadapi laga emosional dalam babak 32 besar Piala Dunia 2026. Ia dijadwalkan bertanding melawan Senegal, negara tempat ia dilahirkan, di Lumen Field, Seattle, pada Kamis (2/7/2026).

Pertandingan ini menjadi momen perdana bagi Onana berhadapan dengan negara yang membentuk masa kecilnya. Meski lahir di Dakar, pemain Aston Villa ini hijrah ke Brussels, Belgia, bersama ibu dan adiknya saat berusia 11 tahun menggunakan paspor Belgia.

Keputusan Onana membela Setan Merah bukan tanpa alasan. Ia mengaku sempat tidak pernah mendapatkan panggilan dari tim nasional Senegal, bahkan saat masih berada di level remaja. Kondisi tersebut akhirnya membawanya memilih Belgia sebagai rumah bagi karier internasionalnya.

Namun, di balik kesuksesan yang ia raih saat ini, terdapat kisah perjuangan luar biasa yang melibatkan sang kakak, Melissa. Onana menyebut sosok kakaknya sebagai pilar mental yang membuatnya tetap teguh meski menghadapi tekanan berat di lapangan hijau.

Melissa adalah sosok yang selalu hadir saat Onana mengalami masa sulit, termasuk saat ia sempat dibekukan oleh pelatih di klub pertamanya. Lebih dari sekadar dukungan moral, Melissa menunjukkan pengorbanan besar ketika berjuang melawan kanker.

Salah satu momen yang paling membekas terjadi saat Melissa bersikeras menemani Onana menjalani seleksi di klub Jerman, Hoffenheim. Meski dalam kondisi kesehatan yang menurun pasca-kemoterapi, Melissa nekat mendampingi sang adik di tengah badai salju dengan suhu minus 12 derajat Celsius.

Onana mengenang saat ia melihat kakaknya berjalan menggunakan kruk di peron stasiun Frankfurt. Pemandangan tersebut memberikan perspektif baru bagi sang pemain bahwa tantangan di lapangan hijau tidak sebanding dengan perjuangan hidup sang kakak.

"Kita bukan pecundang," tegas Onana untuk menguatkan mental dirinya sendiri dan sang kakak.

Peristiwa di stasiun itu menjadi titik balik yang menghapus rasa takutnya. Kariernya pun melesat tajam, mulai dari Hoffenheim, Hamburg, Lille, Everton, hingga kini menjadi bintang di Aston Villa serta timnas senior Belgia.

Dukungan pun terus mengalir dari keluarga besarnya di Afrika yang selalu memantau perkembangannya. Sang kakek mengungkapkan rasa bangga atas keteguhan hati Onana dalam mengejar mimpi hingga mencapai level tertinggi sepak bola dunia saat ini.

Kini, di tengah gemuruh stadion Seattle, Onana harus menanggalkan kenangan masa kecil saat ia masih fasih berbahasa Wolof. Ia harus profesional membela Belgia demi melaju ke babak selanjutnya, meski lawan yang dihadapi adalah tanah kelahirannya sendiri.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All