Presiden Amerika Serikat Donald Trump baru-baru ini menghadapi dua pukulan telak dalam waktu singkat, di mana sekutu politik terdekatnya memilih untuk tidak mendukung agenda pribadinya. Pengalaman ini menjadi catatan penting bagi seorang pemimpin yang terbiasa mengarahkan jalannya politik AS sesuai keinginannya.
Kekalahan pertama datang dari Senat AS, yang pada Selasa (10/12/2019) menolak mosi yang diajukan oleh Senator Lindsey Graham. Mosi tersebut bertujuan untuk menghentikan proses pemakzulan terhadap Trump yang sedang berjalan di Dewan Perwakilan Rakyat. Graham, seorang sekutu dekat Trump, berupaya agar Senat tidak mengikuti prosedur standar dalam menghadapi mosi tersebut, namun upayanya tidak berhasil.
βIni adalah momen penting,β ujar Graham, yang juga merupakan Ketua Komite Kehakiman Senat, seperti dikutip dari BBC. βSaya tidak akan membiarkan proses ini menjadi seperti yang diinginkan oleh kubu Demokrat.β Namun, meskipun Graham berusaha keras, Senat tetap memutuskan untuk melanjutkan sesuai dengan aturan yang ada, menandakan adanya perbedaan pendapat bahkan di kalangan pendukung Trump.
Kekalahan kedua dialami Trump terkait dengan pemilihan umum sela di negara bagian Louisiana. Dalam pemilihan yang berlangsung pada Sabtu (7/12/2019) itu, kandidat yang didukung penuh oleh Trump, Eddie Rispone, kalah dari calon dari Partai Demokrat, John Bel Edwards. Edwards berhasil mempertahankan kursinya sebagai Gubernur Louisiana.
Trump secara pribadi telah memberikan dukungan penuh kepada Rispone, termasuk melakukan kampanye dan meminta pemilih untuk memberikan suara mereka. Namun, upaya ini tidak cukup untuk memenangkan Rispone. Kekalahan ini menunjukkan bahwa pengaruh Trump dalam pemilihan tidak selalu menghasilkan kemenangan, terutama ketika berhadapan dengan kandidat yang kuat dari partai lawan.
Kedua peristiwa ini, yang terjadi dalam rentang waktu beberapa hari, mengindikasikan adanya pergeseran dalam lanskap politik AS. Meskipun Trump masih memiliki basis pendukung yang kuat, namun sekutu-sekutu politiknya tampaknya mulai berhati-hati dalam mendukung setiap langkah dan agenda pribadinya. Hal ini bisa menjadi indikasi tantangan yang lebih besar bagi Trump di masa mendatang, baik dalam upayanya untuk memenangkan pemilihan kembali maupun dalam menjalankan kebijakan-kebijakannya.
