Drama Adu Penalti Paling Apes di Piala Dunia 2026: Rekor Gagal Beruntun Warnai Lolosnya Maroko

Emanuel

Maroko mencatatkan sejarah manis sekaligus menciptakan rekor aneh yang bakal dikenang lama dalam gelaran Piala Dunia 2026. Singa Atlas resmi melaju ke babak 16 besar setelah menyingkirkan Belanda lewat drama adu penalti yang menegangkan di Monterrey, Selasa (30/6). Pertandingan babak 32 besar ini berakhir dengan skor 3-2 untuk keunggulan Maroko, namun yang menjadi sorotan dunia bukan sekadar hasil akhirnya, melainkan efektivitas eksekusi penalti yang sangat buruk dari kedua tim.

Berdasarkan data dari MisterChip, laga ini menorehkan rekor baru dalam sejarah Piala Dunia sebagai adu penalti dengan tingkat kegagalan paling tidak lazim. Tercatat ada empat eksekusi yang membentur tiang gawang dan satu tendangan yang melenceng jauh dari sasaran. Fenomena ini menggambarkan betapa tingginya tekanan mental yang dirasakan para algojo di titik putih, hingga membuat akurasi mereka benar-benar hilang di saat krusial.

Ketegangan di Stadion Monterrey sudah terasa sejak eksekutor pertama maju. Teun Koopmeiners membuka keunggulan Belanda 1-0 dengan tembakan tenang, meski arah bola sempat terbaca oleh kiper Maroko, Bono. Namun, nasib sial mulai menghampiri Maroko saat Neil El Aynaoui gagal menjalankan tugasnya setelah sepakannya hanya membentur mistar gawang.

Drama berlanjut pada penendang kedua Belanda, Justin Kluivert, yang juga mengalami kegagalan serupa setelah bola membentur tiang. Maroko akhirnya menyamakan kedudukan menjadi 1-1 lewat gol Soufiane Rahimi. Pada ronde ketiga, Wout Weghorst sukses menuntaskan tugasnya untuk Belanda, yang kemudian dibalas dengan sempurna oleh Chemsdine Talbi, membuat skor imbang 2-2.

Memasuki ronde keempat, situasi semakin mencekam. Quinten Timber yang maju sebagai eksekutor Belanda gagal total karena tendangannya melebar jauh dari gawang, meski ia sudah berhasil mengecoh pergerakan Bono. Sayangnya, Maroko tidak bisa memanfaatkan momentum tersebut karena Achraf Hakimi yang menjadi penendang keempat justru bernasib sama dengan rekannya, di mana bola sepakannya menghantam tiang gawang.

Puncak drama terjadi pada ronde kelima. Crysencio Summerville yang menjadi tumpuan harapan Belanda gagal menaklukkan Bono, yang melakukan blok krusial. Ismael Saibari kemudian menjadi pahlawan Maroko dengan sukses mengecoh kiper Belanda, Verbruggen, sekaligus memastikan kemenangan 3-2 yang membawa Maroko melenggang ke fase 16 besar.

Sebelum drama adu penalti yang menyesakkan tersebut, kedua tim sejatinya menyuguhkan permainan sengit sepanjang waktu normal. Belanda sempat memimpin lebih dulu melalui gol indah Cody Gakpo pada menit ke-72. Gol tersebut berawal dari skema serangan balik cepat yang diawali sundulan Wout Weghorst kepada Summerville. Meski sempat terjatuh saat berlari, Summerville mampu mengirim umpan matang kepada Gakpo yang berdiri bebas untuk menggetarkan jala gawang Maroko.

Namun, Maroko menunjukkan mentalitas pantang menyerah. Bek tengah Issa Diop sukses menyamakan kedudukan menjadi 1-1 setelah berhasil menyambut umpan silang akurat dari Chemsdine Talbi. Gol tersebut memaksa pertandingan berlanjut hingga ke babak tambahan waktu. Selama 30 menit extra time, Maroko tampil lebih dominan dan terus menekan pertahanan Belanda yang mulai kelelahan, namun skor imbang tetap bertahan hingga wasit meniup peluit panjang.

Bagi Belanda, kekalahan ini menjadi catatan kelam yang menyamai rekor buruk Spanyol dalam sejarah Piala Dunia. Tim Oranje kini tercatat telah menelan empat kekalahan dalam adu penalti di panggung sepak bola terakbar dunia tersebut. Catatan statistik menunjukkan bahwa Belanda sebelumnya pernah tersingkir lewat adu penalti dari Argentina pada perempat final Piala Dunia 2022 di Qatar, serta kegagalan serupa melawan Argentina pada edisi 2014, dan kekalahan pertama mereka terjadi saat menghadapi Brasil di tahun 1998.

Kekalahan ini menempatkan Belanda dan Spanyol sebagai tim dengan riwayat kegagalan adu penalti terbanyak di Piala Dunia. Sementara itu, tim-tim besar lainnya seperti Prancis, Italia, dan Inggris masing-masing telah mencatatkan tiga kali kekalahan dalam skema penentuan pemenang melalui titik putih.

Bagi skuad asuhan pelatih Maroko, kemenangan ini menjadi bukti kedewasaan taktik dan mentalitas pemain Afrika di kancah internasional. Keberhasilan menembus 16 besar dengan cara yang dramatis akan menjadi modal kepercayaan diri yang besar bagi Singa Atlas untuk menatap babak selanjutnya. Di sisi lain, Belanda harus pulang lebih awal dengan menyisakan pekerjaan rumah besar terkait efektivitas eksekusi penalti yang seolah menjadi kutukan bagi mereka dalam dua dekade terakhir.

Publik sepak bola dunia kini menanti langkah selanjutnya dari Maroko yang secara mengejutkan mampu mendepak salah satu tim unggulan Eropa. Konsistensi permainan di waktu normal dan keberuntungan dalam drama adu penalti menjadi pembeda utama di Monterrey. Sementara itu, Belanda dipastikan harus melakukan evaluasi menyeluruh terhadap mentalitas pemain mereka saat menghadapi situasi adu penalti yang terus menjadi mimpi buruk di setiap gelaran Piala Dunia.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All