JAKARTA – Anggota Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI, Tubagus Hasanuddin, menyoroti secara serius prosedur asesmen kesehatan bagi calon manajer Koperasi Desa Merah Putih dan Koperasi Nelayan Merah Putih. Penyorotan ini menyusul insiden tragis meninggalnya empat peserta pelatihan dasar kemiliteran (latsarmil) yang seharusnya mempersiapkan mereka untuk posisi manajerial. Hasanuddin menegaskan bahwa jika proses skrining kesehatan dilakukan secara komprehensif dan objektif, kejadian fatal seperti henti jantung seharusnya bisa dideteksi lebih awal, sehingga tidak ada korban jiwa.
Kritik tajam dari politikus PDI Perjuangan ini muncul setelah terungkapnya fakta bahwa empat calon manajer gugur saat mengikuti kegiatan latsarmil. Mereka adalah Novia Rahmadhani Sihotang, Anisa Muyassaroh, Yonanda Muhammad Taufiq, dan Muhammad Rifki Renaldi Gunawan. Peristiwa duka ini sontak memicu pertanyaan besar mengenai standar kelayakan peserta dan relevansi materi pelatihan yang diberikan.
Menurut Tubagus Hasanuddin, proses asesmen kesehatan yang dijalankan Kementerian Pertahanan (Kemhan) harus dievaluasi secara ketat dan menyeluruh. Tujuannya adalah untuk memastikan skrining kesehatan para peserta dapat dilakukan secara lebih objektif dan mendalam. Ia menekankan pentingnya deteksi dini terhadap kondisi medis yang berpotensi membahayakan, terutama saat peserta dihadapkan pada aktivitas fisik yang intens.
Lebih lanjut, Hasanuddin juga mempertanyakan relevansi porsi latihan fisik militer yang terlalu berat dalam pelatihan bagi calon manajer koperasi. Ia menyarankan agar elemen seperti lari dan push-up ditiadakan. Baginya, jika substansi kegiatan ini adalah untuk menggembleng disiplin dan mental calon manajer, maka latihan fisik militer yang ekstensif tidaklah relevan dengan tujuan tersebut. Fokus utama, kata Hasanuddin, sebaiknya diarahkan pada pelatihan manajemen koperasi, penguatan kapasitas organisasi, dan pelatihan teknis yang secara langsung mendukung peran manajerial mereka.
Keempat calon manajer yang meninggal dunia berasal dari lokasi pelatihan yang berbeda dengan penyebab dan waktu yang bervariasi. Novia Rahmadhani Sihotang meninggal dunia pada Selasa, 23 Juni 2026, atau pada hari keenam setelah pelatihan dimulai pada 17 Juni 2026. Novia mengikuti latsarmil di Pusat Bahasa Komando Pembinaan Doktrin, Pendidikan, dan Latihan TNI Angkatan Udara (Kodiklat TNI AU) di Jakarta.
Sehari setelah Novia, Anisa Muyassaroh menghembuskan napas terakhirnya pada 18 Juni 2026 akibat serangan heat stroke. Anisa sedang mengikuti pelatihan militer di Satuan Pendidikan Resimen Induk Komando Daerah Militer (Rindam) Mulawarman Balikpapan, Kalimantan Timur. Kasus Anisa menyoroti potensi bahaya kondisi lingkungan dan intensitas latihan terhadap kesehatan peserta.
Sementara itu, Yonanda Muhammad Taufiq dinyatakan wafat akibat cardiac arrest atau henti jantung pada 17 Juni 2026, tepat di hari pertama pelatihan. Yonanda tercatat mengikuti program di Satuan Pendidikan Pusat Latihan Tempur (Puslatpur) TNI Angkatan Darat Kota Baturaja, Kabupaten Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan. Kasus henti jantung ini menjadi salah satu poin krusial yang disorot Hasanuddin, mengindikasikan kemungkinan adanya kondisi medis yang tidak terdeteksi sebelumnya.
Korban keempat adalah Muhammad Rifki Renaldi Gunawan, yang meninggal dunia setelah mengeluhkan sesak napas. Rifki mengikuti latsarmil di Satuan Pendidikan Batalyon Pasukan Para Komando (Parako) 465, Jakarta Timur. Meskipun tanggal pasti kematian Rifki tidak disebutkan secara eksplisit, insiden ini menambah daftar panjang kasus tragis yang menimpa peserta latsarmil.
Menanggapi insiden memilukan ini, Kepala Biro Informasi Pertahanan Sekretariat Jenderal Kementerian Pertahanan, Brigadir Jenderal Rico Sirait, menyampaikan dukacita mendalam atas nama instansinya. Terkait asesmen kesehatan, Rico menuturkan bahwa seluruh peserta telah menjalani berbagai proses pemeriksaan sebelum dipastikan dapat mengikuti latsarmil. Ia mengklaim bahwa berdasarkan hasil seleksi, khususnya untuk kasus Rifki, yang bersangkutan dinyatakan memenuhi syarat untuk mengikuti program pendidikan.
Namun demikian, Rico menegaskan bahwa Kementerian Pertahanan tidak akan tinggal diam. Instansinya bersama Panitia Seleksi Nasional dan penyelenggara pendidikan akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan Program SPPI (Program Seleksi Potensi dan Pengembangan Individu) yang menjadi payung kegiatan latsarmil tersebut. Evaluasi ini mencakup beberapa aspek penting.
Rico merinci bahwa evaluasi yang akan dilakukan meliputi penguatan proses seleksi kesehatan untuk memastikan tidak ada celah. Selain itu, Kemhan akan fokus pada deteksi dini kondisi medis peserta yang lebih cermat, peningkatan pengawasan oleh tenaga kesehatan selama pendidikan berlangsung, serta penelusuran terhadap peserta lain yang mungkin memiliki keluhan serupa di seluruh satuan pendidikan yang menyelenggarakan latsarmil. Komitmen ini diharapkan dapat mencegah terulangnya tragedi serupa di masa mendatang.
Insiden kematian empat calon manajer koperasi ini menjadi pengingat serius bagi penyelenggara pelatihan, terutama yang melibatkan aktivitas fisik intens. Perlindungan terhadap keselamatan dan kesehatan peserta harus menjadi prioritas utama, didukung oleh asesmen yang ketat dan materi pelatihan yang relevan. DPR melalui Komisi I akan terus mengawasi proses evaluasi yang dilakukan Kementerian Pertahanan guna memastikan akuntabilitas dan perbaikan sistemik dalam penyelenggaraan program-program serupa di masa depan.











