Dominasi Amerika Serikat di Luar Angkasa Terancam, China Siap Ambil Alih Kendali Orbit

Emanuel

Persaingan eksplorasi antariksa kini memasuki babak baru yang krusial. Stasiun Luar Angkasa Internasional atau ISS yang selama ini menjadi laboratorium raksasa di orbit Bumi mulai menghadapi masa depan yang tidak menentu.

Di sisi lain, stasiun antariksa milik China, Tiangong, terus menunjukkan taringnya. Meski memiliki ukuran lebih kecil dan lebih baru, Tiangong kini sepenuhnya berada di bawah kendali penuh pemerintah China.

Kondisi ini memicu spekulasi besar. Jika ISS benar-benar mempensiunkan operasionalnya pada 2030 tanpa adanya stasiun komersial pengganti, Tiangong berpotensi menjadi satu-satunya stasiun berawak yang beroperasi permanen di orbit Bumi.

Skenario ini bukanlah hal mustahil. Saat ini, terdapat dua garis waktu yang berjalan beriringan, yakni rencana pensiun ISS dan transisi menuju stasiun komersial di orbit rendah Bumi atau LEO yang hingga kini progresnya masih terhambat.

Banyak pihak menyederhanakan sejarah berdirinya Tiangong dengan narasi bahwa China membangun stasiun sendiri karena dikeluarkan dari program ISS. Namun, realitanya jauh lebih kompleks dari sekadar drama politik.

Berdasarkan data Science Daily, China memang tidak pernah menjadi mitra resmi dalam proyek ISS. Amerika Serikat bahkan sudah menolak keterlibatan China jauh sebelum 2011.

Situasi tersebut semakin kaku setelah pemerintah AS mengesahkan Wolf Amendment pada 2011. Aturan dalam Public Law 112-10 Section 1340 melarang NASA dan Kantor Kebijakan Sains dan Teknologi Gedung Putih menggunakan anggaran untuk kerja sama bilateral dengan China.

Regulasi tersebut secara ketat membatasi kunjungan resmi delegasi China ke fasilitas NASA. Dampaknya, kolaborasi antarlembaga menjadi hambatan hukum sekaligus politik yang sangat besar bagi ISS.

Sebagai proyek yang terintegrasi secara teknis, ISS mengandalkan kemitraan dari lima lembaga yakni NASA, Roscosmos, ESA, JAXA, dan Canadian Space Agency. China secara otomatis berada di luar struktur tersebut.

Kini, Tiangong bukan lagi sekadar rencana di atas kertas. China telah meluncurkan modul inti Tianhe pada 2021, disusul modul laboratorium Wentian dan Mengtian pada 2022.

Sejak misi Shenzhou 14 dan 15, China konsisten mengoperasikan Tiangong sebagai stasiun yang dihuni terus-menerus. Sistem rotasi awak yang rutin serta dukungan logistik via wahana kargo Tianzhou menjadi bukti nyata kemapanan infrastruktur tersebut.

Bahkan, pada 24 Mei 2026, China sukses mengirimkan awak Shenzhou 23 sebagai bagian dari rotasi reguler. Meski sempat menghadapi kendala teknis pada 2025 hingga 2026, Tiangong terbukti mampu bertahan di tengah situasi darurat.

Keberhasilan tersebut menegaskan bahwa Tiangong bukan sekadar simbol prestise nasional. Stasiun ini telah berevolusi menjadi infrastruktur antariksa yang matang dan siap menjadi penguasa baru di orbit Bumi.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All