Paruh pertama tahun 2026 menjadi periode yang sangat menantang bagi stabilitas mata uang di berbagai belahan dunia. Gejolak geopolitik yang dipicu perang antara Amerika Serikat dan Iran sejak akhir Februari lalu menjadi pemicu utama kekacauan pasar global.
Penutupan Selat Hormuz sebagai jalur vital distribusi minyak mentah dunia memicu lonjakan harga energi secara drastis. Efek domino dari kenaikan harga minyak ini merambat ke sektor logistik, transportasi, hingga memicu inflasi harga barang kebutuhan pokok di banyak negara.
Situasi ekonomi global yang kian tidak menentu memaksa pelaku pasar memproyeksikan suku bunga acuan dunia akan bertahan tinggi dalam jangka waktu lama. Ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga The Federal Reserve bahkan menguat menjelang penutupan semester I-2026.
Dalam kondisi penuh ketidakpastian, investor cenderung beralih ke aset aman atau safe haven. Dolar Amerika Serikat menjadi pilihan utama, sehingga posisinya kian perkasa dan menekan mata uang negara lain, khususnya di pasar negara berkembang.
Berdasarkan data yang dihimpun melalui Refinitiv, berikut adalah daftar 10 mata uang dengan performa terburuk sepanjang enam bulan pertama 2026.
Rial Iran mencatatkan pelemahan terdalam dengan ambruk hingga 3.173,8 persen. Kurs rial merosot dari 42.000 menjadi 1.374.998 per dolar AS. Konflik bersenjata dengan AS serta jeratan sanksi ekonomi internasional menjadi faktor utama yang memukul mata uang Iran.
Di posisi kedua, bolivar Venezuela melemah 110,16 persen. Gejolak politik pasca penangkapan Presiden Nicolás Maduro oleh pasukan AS pada Januari 2026 membuat kurs bolivar anjlok dari 300,61 menjadi 631,78 per dolar AS.
Dinar Libya menyusul di peringkat ketiga dengan pelemahan 18,42 persen, diikuti oleh lira Turki yang turun 8,61 persen. Rupee Sri Lanka juga terpuruk dengan pelemahan 8,56 persen, sementara cedi Ghana mencatatkan koreksi sebesar 8,13 persen.
Won Korea Selatan, sebagai perwakilan ekonomi besar Asia, ikut melemah 7,26 persen menjadi 1.547,33 per dolar AS. Posisi kedelapan ditempati rupiah yang melemah 7,23 persen. Kurs rupiah bergerak dari Rp16.670 menjadi Rp17.875 per dolar AS.
Tekanan terhadap rupiah diperparah oleh kekhawatiran pasar terkait kondisi fiskal domestik dan arah kebijakan pemerintah. Keraguan investor terhadap kemampuan menjaga defisit di bawah batas 3 persen, ditambah penurunan outlook oleh lembaga pemeringkat Fitch dan Moody’s, menambah beban bagi mata uang Garuda.
Melengkapi daftar tersebut, shilling Tanzania melemah 6,97 persen, sementara hryvnia Ukraina berada di posisi kesepuluh dengan pelemahan 5,84 persen. Kondisi Ukraina yang masih terbelit perang berkepanjangan menjadi beban berat bagi stabilitas mata uang negara tersebut hingga pertengahan tahun ini.











