Dokter dan Inovator Ungkap Tantangan Mengubah Ide Medis Menjadi Bisnis Berkelanjutan

Rini Widiyarti

Dunia medis terus berkembang berkat inovasi yang lahir dari ruang praktik. Namun, bagi para dokter yang mencoba beralih menjadi pengusaha, memiliki ide brilian hanyalah langkah awal dari perjalanan panjang yang penuh liku.

Brandon Baartman, MD, dari GreenMan dan Vance Thompson Vision, membagikan pengalamannya saat menciptakan InSightVR. Bersama rekannya, Michael Greenwood, MD, ia ingin mempermudah edukasi pasien katarak melalui teknologi realitas virtual.

Ide tersebut muncul saat mereka melihat potensi teknologi VR untuk menjelaskan implan lensa. Setelah memastikan ide itu belum ada di pasaran, mereka mulai membangun konsep dari nol dengan pendanaan mandiri.

Baartman mengakui bahwa ia sempat berharap bisa bergerak lebih cepat. Ia menekankan bahwa dalam dunia inovasi, kompetisi akan selalu muncul ketika sebuah ide terbukti berhasil.

Menurutnya, memiliki ide saja tidak cukup. Ide tersebut harus bisa menjadi bisnis yang diadopsi oleh penyedia layanan kesehatan agar benar-benar berdampak bagi pasien.

Ia belajar bahwa memahami sisi bisnis, mulai dari komersialisasi hingga strategi pasar, sama pentingnya dengan inovasi teknis itu sendiri. Pengalaman selama empat tahun mengembangkan InSightVR menyadarkannya bahwa kesuksesan membutuhkan kerja keras di luar ranah medis.

Senada dengan Baartman, Vikram A. Shankar, MD, dari DropMate dan Stanford, menyoroti bahwa inovasi sering kali dimulai dari masalah yang terabaikan di sekitar kita. Ia mencontohkan masalah limbah alat kesehatan sekali pakai yang membengkak di klinik pasca-pandemi COVID-19.

Shankar melihat bahwa pemborosan tersebut merupakan gejala dari kesenjangan prosedur disinfeksi yang tidak praktis. Ia kemudian merancang Saniteyes atau DropMate untuk mengatasi masalah tersebut.

Shankar mengungkapkan bahwa tantangan terbesarnya bukan saat merancang solusi, melainkan saat menghadapi dunia bisnis yang kompleks. Ia harus berurusan dengan insinyur, regulasi FDA, sistem kualitas, hingga strategi harga.

Bahasa sains yang digunakan untuk meyakinkan sesama dokter ternyata tidak cukup untuk meyakinkan pihak administrator rumah sakit atau grup pembeli. Ia harus belajar bahasa produksi, distribusi, dan pertumbuhan bisnis secara otodidak.

Bagi para dokter yang ingin melakukan inovasi serupa, Shankar menyarankan untuk segera mencari mentor. Membangun jaringan dengan orang-orang yang sudah berpengalaman dalam dunia operasional bisnis dapat membantu menghindari kesalahan yang merugikan.

Inovasi medis bukan hanya soal menemukan terobosan baru, melainkan tentang ketekunan mengelola proses bisnis yang rumit. Perjalanan dari laboratorium atau ruang praktik menuju pasar komersial adalah kurva belajar yang terus menanjak bagi setiap dokter-pendiri.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All