Di tengah keheningan hutan Batang Palupuah, Kabupaten Agam, Sumatra Barat, seorang pria bernama Joni Hartono mendedikasikan hidupnya untuk merawat dan melestarikan salah satu keajaiban alam Indonesia: bunga Rafflesia arnoldii. Dikenal juga sebagai bunga bangkai atau padma raksasa, tumbuhan parasit ini terancam punah, namun Joni tak pernah lelah menjaga kelangsungan hidupnya. Perjalanannya menuju lokasi mekarnya bunga langka ini bukanlah hal yang mudah, membutuhkan waktu berjam-jam menyusuri medan hutan yang menantang.
Pada Jumat, 15 Mei, langit di Batang Palupuah dipenuhi awan gelap, menandakan potensi hujan. Namun, kondisi cuaca tak menyurutkan langkah Joni Hartono, 54 tahun, menuju jantung hutan. Misi utamanya adalah memastikan bunga Rafflesia arnoldii yang telah mekar selama tiga hari terakhir dalam kondisi prima. Bunga yang dijuluki "bunga bangkai" ini memiliki siklus hidup singkat, mekar hanya selama tujuh hari sebelum akhirnya membusuk.
Perjalanan Joni dimulai dari pematang sawah yang becek akibat hujan semalam. Ia terus melangkah, menembus lebatnya hutan. Tanjakan curam pertama segera menyambutnya, namun dengan napas yang teratur, ia terus mendaki sambil memindai pepohonan rindang di sekitarnya. "Dari sini jaraknya kurang lebih dua jam perjalanan ke dalam hutan," ujarnya kepada wartawan Halbert Caniago, yang mendampinginya.
Di tengah perjalanan, Joni bertemu dengan beberapa warga yang hendak mencari kulit manis, komoditas pertanian yang menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat setempat. Semakin dalam ia memasuki hutan, semakin kuat aroma lumut tercium dan suara burung bersahutan terdengar. Deru air sungai mulai mengalun dari kejauhan. Saat jalur mulai mendatar, Joni mempercepat langkahnya.
Setelah melewati tanjakan kedua, ia menyeberangi sungai kecil yang dangkal. Akar-akar pohon besar menjadi pegangan di setiap tanjakan yang licin. "Kemarin di lokasi ini turis dari China yang saya bawa terjatuh dan tim itu tidak sempat melihat bunga Rafflesia yang sedang mekar saat ini," kenangnya sambil menunjuk arah tanjakan di depannya. Suara gemericik air terjun, jangkrik, dan burung terdengar harmonis, berpadu dengan aroma tanah lembab dan dedaunan yang membusuk.
"Dari sini tidak terlalu jauh. Tinggal satu tanjakan lagi nanti kita akan sampai di lokasi bunga Rafflesia yang saat ini sedang mekar," kata Joni dengan penuh semangat. Sekitar sepuluh menit kemudian, tanjakan curam di pinggir sungai akhirnya membawanya ke lokasi. Di lereng bukit itu, bunga Rafflesia arnoldii mekar dengan sempurna.
"Itu bunganya. Ini sudah memasuki hari ketiga mekarnya. Tinggal tiga atau empat hari lagi nanti baru akan membusuk dan dia akan memulai kembali proses hidupnya yang baru," jelasnya sambil menunjuk bunga berwarna merah marun dengan bercak oranye itu. Joni segera mencabuti tumbuhan liar di sekitar bunga tersebut dan mengambil beberapa foto untuk dilaporkan kepada Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA).
"Nanti saya akan mengirimkan foto ini untuk mengabarkan bahwa bunga Rafflesia ini sudah mekar dan sudah memasuki hari ke-3. Saya akan terus ke sini untuk melihat bunga ini sampai hari terakhirnya mekar," tambahnya. Meski rintik hujan mulai turun, Joni tetap melanjutkan pengecekan terhadap beberapa bonggol Rafflesia arnoldii yang diperkirakan akan mekar dalam beberapa bulan mendatang. "Kemungkinan dalam dua bulan lagi akan mekar dan nanti ukurannya mungkin bisa lebih besar dari yang tadi," ujarnya sambil membersihkan pinggiran bonggol dari rerumputan liar.
Setelah memastikan semua bonggol aman, Joni bergegas menuruni lereng untuk pulang dan menunaikan salat Jumat. Dalam perjalanan, ia berpapasan dengan sepasang turis asal Jerman yang tengah menuju lokasi mekarnya bunga Rafflesia. Hujan semakin deras saat ia mencapai pintu keluar hutan, namun Joni tetap melangkah pulang.
Awal jatuh cinta pada Rafflesia bersemi di masa muda Joni. Meskipun Rafflesia sering ditemukan di sekitar hutan Batang Palupuah, ia tidak terlalu memperhatikannya. Ketertarikannya mulai tumbuh saat ia menjadi pemandu wisata lokal pada tahun 2000-an dan sering membawa turis melihat bunga langka ini. Pertemuannya dengan peneliti Greg Hambali, yang memberinya buku tentang tanaman aglonema, menjadi titik balik. Joni mendalami Rafflesia dan pada tahun 2002, ia mencoba menanamnya di dekat rumah orang tuanya.
Upaya tersebut membuahkan hasil. Pada tahun 2009, bunga Rafflesia arnoldii berhasil mekar di halaman rumahnya. "Saat itu kecintaan saya terhadap bunga Rafflesia ini mulai tumbuh dan saya menyatakan bahwa saya akan mendedikasikan diri saya untuk bunga Rafflesia ini," tuturnya. Meskipun pohon inang tumbang akibat angin kencang beberapa tahun lalu, merusak tanaman Rafflesia di lokasi tersebut, semangat Joni tidak padam.
Ia kemudian berinisiatif membangun kawasan konservasi sendiri di lahan terbengkalai dekat persawahan. Setelah meminta izin pemilik lahan, Joni membersihkan lahan seluas lebih dari satu hektare secara manual selama sebulan penuh. Ia menanam tetrastigma sebagai inang Rafflesia, berharap tanaman ini dapat tumbuh dan menjalar di pepohonan. "Saya yakin suatu saat nanti akan ada bunga Rafflesia yang mekar di lokasi itu. Tapi memang membutuhkan waktu yang cukup lama untuk itu," katanya. Ia juga mulai menyemai serbuk bunga Rafflesia yang telah membusuk, berharap kesempatan kedua untuk membudidayakan bunga ini datang. "Waktu yang dibutuhkan hingga adanya bunga Rafflesia yang mekar di sana kurang lebih 10 tahun. Saya tidak tahu apakah saya masih sempat melihatnya atau tidak. Yang penting saya sudah melakukan apa yang seharusnya saya lakukan," ujarnya penuh keyakinan.
Dalam upayanya merawat Rafflesia, Joni kerap menghadapi kesulitan finansial. Penghasilannya sebagai pemandu wisata tidak selalu menentu, membuatnya kesulitan untuk membeli polybag atau memenuhi kebutuhan sehari-hari untuk pergi ke hutan. "Dulu saya pernah mendapatkan pendanaan dari seorang yang peduli terhadap keberlangsungan hidup bunga Rafflesia ini. Tapi itu tidak berlangsung lama. Kurang lebih hanya dua tahun," ungkapnya. Ia berharap ada dukungan yang lebih besar, mengingat pelestarian flora seringkali kurang mendapat perhatian dibandingkan fauna. "Kalau untuk flora ini memang sangat sulit untuk mendapatkan donatur. Berbeda dengan fauna seperti harimau Sumatra atau hewan dilindungi lainnya yang bisa cepat mendapatkan perhatian dari berbagai pihak," keluhnya.
Belum ada dukungan langsung dari pemerintah, baik moril maupun materiil, membuat Joni semakin mengandalkan tekadnya sendiri. Namun, dukungan dari istri dan putrinya menjadi sumber kekuatan. "Alhamdulillah sampai saat ini saya masih diberikan dukungan oleh keluarga. Karena istri dan puteri tunggal saya memahami apa yang menjadi keinginan saya selama ini," tukasnya. Joni juga mengkhawatirkan dampak perubahan iklim dan deforestasi terhadap kelangsungan hidup Rafflesia. "Global warming dan penebangan hutan akan membuat iklim menjadi lebih panas yang tentunya tidak akan baik untuk bunga Rafflesia ini," katanya. Cuaca panas dapat menyebabkan bonggol Rafflesia mengering dan membusuk, menghambat mekarnya bunga dengan sempurna.
Pengamat lingkungan, Indang Dewata, sependapat bahwa kerusakan hutan mengancam habitat Rafflesia. "Keberlangsungan hidup bunga Rafflesia ini sebenarnya sangat erat hubungannya dengan iklim yang tentunya harus dijaga melalui hutan," katanya.
Menanggapi hal ini, Kepala Seksi Konservasi Wilayah I BKSDA Sumatra Barat, Antonius Vevri, menegaskan bahwa keberadaan Rafflesia arnoldii sangat bergantung pada kondisi lingkungan dan inangnya, yaitu tetrastigma, yang membutuhkan pohon-pohon besar. BKSDA melakukan perlindungan di kawasan konservasi, sementara di luar kawasan, perlindungan diserahkan kepada pemilik lahan. "Seperti yang di Palupuh itu memang sangat banyak dan bahkan ada yang mekar di perkebunan masyarakat juga. Kalau itu berada di luar lokasi konservasi, kami serahkan kepada pemilik lahannya untuk melakukan perlindungan," jelasnya.
Vevri menambahkan bahwa petugas BKSDA akan mencatat dan melindungi bunga Rafflesia di kawasan konservasi hingga layu. Hingga kini, tercatat dua wilayah penyebaran Rafflesia di Sumatra Barat, yaitu Hutan Palupuh dan Cagar Alam Maninjau. Di Maninjau, bahkan ditemukan jenis baru yang belum dinamai. Untuk area di luar konservasi, BKSDA memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga lingkungan.
Kegiatan Joni Hartono di lahan pribadinya dinilai sah oleh BKSDA. "Sebenarnya sah-sah saja, karena beliau menggunakan wilayah di luar konservasi dan menggunakan tanahnya sendiri. Walaupun itu flora yang dilindungi, tapi Rafflesia itu ada di sekitar lokasi yang dibuat konservasi itu," ujar Vevri. Meskipun belum ada program khusus atau penganggaran dari BKSDA untuk kegiatan Joni, pihaknya memberikan motivasi. Joni sendiri sering berdiskusi dan memberikan laporan perkembangan bunga Rafflesia kepada pihak BKSDA.
Pengamat Indang Dewata menilai upaya konservasi Joni sangat luar biasa dan layak mendapat perhatian serius dari pemerintah daerah, termasuk Dinas Pariwisata dan Dinas Lingkungan Hidup. Keberadaan Rafflesia, menurutnya, merupakan bio-indikator kesehatan lingkungan dan berpotensi besar mendongkrak pariwisata, baik lokal maupun mancanegara. "Makanya Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang terkait dengan ini ayo dong berikan dukungan untuk beliau agar bisa menjaga fungsi lingkungan, dan juga ekonomi bisa meningkat dengan pariwisata tersebut," pungkasnya, berharap dukungan yang lebih besar dapat mengalir untuk menjaga kelestarian bunga langka ini dan memanfaatkan potensinya sebagai daya tarik wisata.











