Beijing dilaporkan telah meminta warga negaranya yang berada di Eswatini untuk segera meninggalkan negara tersebut. Langkah ini diambil menyusul adanya kekhawatiran akan risiko keamanan yang meningkat di wilayah tersebut.
Eswatini, sebelumnya dikenal sebagai Swaziland, merupakan satu-satunya negara di benua Afrika yang masih menjalin hubungan diplomatik resmi dengan Taiwan. Hubungan ini menjadikan Eswatini sebagai salah satu dari 12 negara di dunia yang mengakui Taiwan.
Menurut laporan yang beredar, imbauan dari pemerintah China ini didasarkan pada penilaian terhadap situasi keamanan terkini di Eswatini. Detail spesifik mengenai ancaman keamanan yang dimaksud tidak dirinci lebih lanjut dalam imbauan tersebut.
Langkah China ini dapat diinterpretasikan sebagai bagian dari upaya Beijing untuk terus menekan Taiwan dalam kancah internasional. China secara konsisten berupaya mengisolasi Taiwan secara diplomatik, mendorong negara-negara yang masih memiliki hubungan resmi untuk beralih mengakui Beijing.
Hubungan diplomatik antara Eswatini dan Taiwan telah terjalin sejak lama, menjadikan Eswatini sebagai sekutu penting Taiwan di Afrika. Keputusan China untuk mengeluarkan peringatan keamanan bagi warganya ini berpotensi menimbulkan ketegangan diplomatik baru antara Beijing dan Taipei, serta berdampak pada hubungan Eswatini dengan kedua entitas tersebut.
Pihak berwenang China belum memberikan pernyataan resmi yang merinci alasan di balik imbauan tersebut. Namun, situasi ini menyoroti kompleksitas hubungan internasional yang melibatkan Taiwan dan pengaruh China yang semakin meluas.
