Peran Chief Financial Officer (CFO) kini mengalami pergeseran signifikan. Tidak lagi hanya berfokus pada kesehatan finansial perusahaan, CFO dituntut untuk menjadi motor penggerak utama dalam transformasi bisnis menuju ekonomi rendah karbon, seiring dengan target net zero emissions yang semakin mendesak. Perubahan peran ini menjadi sorotan utama dalam Roundtable Dialog Eksklusif yang diselenggarakan oleh Indonesia Business Council for Sustainable Development (IBCSD) pada Rabu (24/6) di Jakarta.
Forum yang bertajuk "Strategi CFO Menghadapi Era Net Zero – Menjaga Profitabilitas, Akses Pembiayaan, dan Daya Saing" ini mempertemukan para petinggi keuangan dari perusahaan anggota IBCSD dan jejaringnya, bersama mitra strategis dari sektor keuangan dan pelaporan keberlanjutan. Diskusi difokuskan pada bagaimana transisi menuju ekonomi rendah karbon berdampak pada strategi bisnis dan pembiayaan perusahaan di masa depan.
Kebutuhan untuk memperkuat ketahanan bisnis melalui integrasi aspek keberlanjutan dalam setiap pengambilan keputusan, mulai dari investasi, pengelolaan risiko, hingga strategi pertumbuhan jangka panjang, semakin mengemuka. Hal ini didorong oleh berbagai faktor, termasuk perkembangan regulasi yang semakin ketat, meningkatnya ekspektasi dari para investor global, serta tuntutan dekarbonisasi yang merambat ke seluruh rantai pasok global.
Dalam konteks ini, peran CFO menjadi semakin strategis. Mereka dituntut untuk mampu menerjemahkan agenda net zero menjadi keputusan investasi yang tidak hanya realistis dan bankable, tetapi juga mampu memperkuat daya saing perusahaan di pasar global yang semakin sadar lingkungan. Tantangan ini membutuhkan kemampuan analitis keuangan yang mendalam, dipadukan dengan pemahaman yang kuat tentang isu-isu keberlanjutan dan dampak iklim.
Direktur Eksekutif IBCSD, Indah Budiani, dalam sambutannya, menekankan pergeseran paradigma ini. "Peran CFO saat ini tidak lagi terbatas pada menjaga kinerja keuangan perusahaan semata," ujar Indah. "Namun, mereka juga harus menjadi penggerak transformasi bisnis yang mampu menciptakan nilai jangka panjang. Ini berarti CFO harus mampu mengintegrasikan pertimbangan lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) ke dalam inti strategi bisnis."
Transformasi ini menuntut CFO untuk memiliki pemahaman yang komprehensif tentang bagaimana risiko iklim, baik fisik maupun transisi, dapat memengaruhi aset, operasional, dan arus kas perusahaan. Selain itu, CFO juga diharapkan mampu mengidentifikasi peluang bisnis baru yang muncul dari transisi ke ekonomi hijau, seperti investasi pada energi terbarukan, efisiensi energi, atau pengembangan produk dan layanan berkelanjutan.
Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi CFO adalah bagaimana menyeimbangkan tujuan keberlanjutan dengan target profitabilitas jangka pendek. Investasi dalam teknologi hijau atau praktik bisnis berkelanjutan seringkali membutuhkan modal awal yang besar, yang mungkin belum tentu memberikan imbal hasil instan. Di sinilah peran CFO sebagai pembuat keputusan strategis menjadi krusial. Mereka harus mampu membangun kasus bisnis yang kuat untuk investasi berkelanjutan, menunjukkan bagaimana inisiatif ini dapat mengurangi biaya operasional dalam jangka panjang, meningkatkan efisiensi, membuka akses ke pasar baru, serta memperbaiki reputasi perusahaan.
Akses terhadap pembiayaan juga menjadi topik hangat dalam dialog tersebut. Semakin banyak lembaga keuangan dan investor yang mengaitkan pemberian pinjaman atau investasi dengan kinerja ESG perusahaan. CFO perlu memahami kriteria penilaian keberlanjutan yang digunakan oleh para pemberi dana, serta mampu menyajikan laporan keuangan dan non-keuangan yang transparan dan akurat terkait upaya dekarbonisasi dan inisiatif berkelanjutan lainnya. Kemampuan untuk mendapatkan green financing atau sustainability-linked loans akan menjadi keunggulan kompetitif yang signifikan.
Diskusi ini juga menyoroti pentingnya kolaborasi antar departemen dalam perusahaan. Transformasi menuju net zero bukan hanya tanggung jawab tim keuangan, tetapi membutuhkan sinergi antara operasional, riset dan pengembangan, pemasaran, hingga sumber daya manusia. CFO berperan sebagai koordinator utama, memastikan bahwa seluruh elemen perusahaan bergerak seiring untuk mencapai tujuan keberlanjutan yang ambisius.
Dalam menghadapi era net zero, CFO dituntut untuk mengembangkan kompetensi baru, termasuk pemahaman mendalam tentang metodologi pelaporan emisi, analisis siklus hidup produk, serta strategi manajemen risiko iklim. Mereka juga perlu mengasah kemampuan komunikasi untuk dapat menjelaskan kompleksitas isu keberlanjutan kepada berbagai pemangku kepentingan, mulai dari dewan direksi, karyawan, hingga publik.
Tantangan ini bukanlah tanpa imbalan. Perusahaan yang berhasil mengintegrasikan keberlanjutan ke dalam strategi bisnisnya, dengan CFO sebagai motor penggeraknya, tidak hanya akan lebih tangguh menghadapi perubahan iklim, tetapi juga berpotensi meraih keunggulan kompetitif yang berkelanjutan, meningkatkan loyalitas pelanggan, menarik talenta terbaik, serta berkontribusi pada pembangunan ekonomi yang lebih hijau dan inklusif. Forum IBCSD ini menjadi bukti nyata komitmen para pelaku bisnis di Indonesia untuk terus beradaptasi dan memimpin transisi menuju masa depan yang lebih berkelanjutan.











