Cermin Budaya Bangsa di Jalanan Menteng: Korlantas Polri Soroti Rendahnya Kesadaran Berlalu Lintas dan Bahaya Kecelakaan

Darus H

Jakarta – Sebuah acara "city walking tour" bertajuk ‘Telusur Budaya: Menjaga Ruang Hidup Bersama di Jalan’ dalam rangkaian "Scene & Sound Vol.1" di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, pada Sabtu, 27 Juni 2026, tak hanya menawarkan pengalaman eksplorasi sejarah, namun juga menyingkap beragam pelanggaran dan penyalahgunaan ruang publik yang kerap terjadi. Observasi ini memicu Korlantas Polri untuk kembali mengingatkan pentingnya kesadaran berlalu lintas sebagai cerminan budaya dan keselamatan diri, terutama di tengah data kecelakaan yang masih memprihatinkan.

Para peserta yang menjelajahi Menteng, sebuah kawasan bersejarah yang dirancang sebagai garden city pertama di Indonesia pada masa kolonial Belanda, menemukan banyak ironi di lapangan. Mereka menyaksikan trotoar yang seharusnya menjadi hak pejalan kaki justru beralih fungsi menjadi area berjualan dan parkir kendaraan. Selain itu, kendaraan yang melawan arus lalu lintas juga menjadi pemandangan umum, serta kondisi trotoar yang belum sepenuhnya ramah bagi penyandang disabilitas, menunjukkan bagaimana ruang publik seringkali jauh dari fungsi idealnya.

Menanggapi fenomena ini, Brigadir Susan dari National Traffic Management Center Korlantas Polri, yang hadir sebagai salah satu narasumber, menegaskan bahwa kepolisian telah gencar melakukan berbagai upaya edukasi dan imbauan. Tujuannya adalah untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat akan keselamatan di jalan. "Polri pun mempunyai salah satu program, namanya program Polisi Menyapa atau Polantas Menyapa, yang langsung turun ke kampus-kampus untuk menyapa generasi-generasi muda," ujar Brigadir Susan, menunjukkan komitmen Polri dalam mendekati masyarakat secara langsung.

Program Polantas Menyapa menjadi salah satu strategi kunci kepolisian untuk memberikan pemahaman mendalam tentang aturan dan etika berlalu lintas. Namun, Brigadir Susan menekankan bahwa efektivitas program ini sangat bergantung pada kesadaran pribadi. "Tapi kembali lagi, kesadaran diri itu dimulai dari diri kita sendiri. Jadi jangan karena ada polisi, kita baru ingat tuh helm tidak ada, karena lupa dan sebagainya," tegasnya. Ia menyoroti kebiasaan buruk di mana pengendara baru akan patuh pada aturan ketika berhadapan langsung dengan aparat penegak hukum.

Faktanya, Brigadir Susan mengungkapkan, banyak temuan di lapangan menunjukkan pengendara baru teringat kewajiban mereka, seperti membawa helm atau surat-surat kendaraan seperti SIM, setelah diberhentikan oleh polisi. Situasi ini mengindikasikan bahwa kepatuhan seringkali didasari oleh rasa takut akan sanksi, bukan dari kesadaran penuh akan pentingnya keselamatan diri dan orang lain. Oleh karena itu, edukasi berkelanjutan dan penanaman nilai-nilai kesadaran menjadi sangat krusial.

Melihat kondisi ini, Brigadir Susan sangat berharap bahwa setelah acara "Scene & Sound Vol.1" yang berorientasi pada generasi muda, akan muncul kepedulian yang lebih tinggi. Ia berharap kaum muda lebih sadar untuk memperhatikan keselamatan di jalan dan melengkapi segala kewajiban yang harus digunakan. "Jangan sampai hal-hal kecil malah dianggap remeh, yang akhirnya merugikan diri sendiri. Jadi kembali ke diri kita masing-masing, kepedulian kita akan menyelamatkan kita. Ingat keselamatan nomor satu," pungkasnya, mengingatkan betapa vitalnya setiap tindakan kecil dalam menjaga keselamatan.

Pentingnya kesadaran ini semakin diperkuat dengan data statistik kecelakaan lalu lintas. Brigadir Susan menjelaskan bahwa pada 27 Juni 2026, dalam kurun waktu 1×24 jam, tercatat 298 kasus kecelakaan di seluruh Indonesia. Angka tersebut bukan sekadar deretan statistik, melainkan kisah tragis yang merenggut nyawa dan meninggalkan luka. Dari jumlah kecelakaan itu, 24 orang meninggal dunia, 26 orang mengalami luka berat, dan 399 orang luka ringan. "Saya berharap setelah saya menyampaikan ini, teman-teman lebih peduli dengan keselamatan di jalan," tuturnya, menyampaikan urgensi data tersebut.

Brigadir Susan menambahkan, mayoritas kasus kecelakaan tersebut diakibatkan oleh kecerobohan pengendara. Faktor-faktor seperti mengantuk, merasa capek, atau lelah saat berkendara menjadi pemicu utama insiden di jalan. Oleh karena itu, ia memberikan imbauan sederhana namun krusial: "Jadi ketika mengantuk, merasa capek, atau lelah di jalan. Lebih baik berusaha untuk istirahat dulu." Pesan ini menekankan bahwa tindakan pencegahan sederhana dapat menghindarkan diri dari risiko yang fatal.

Selain itu, Brigadir Susan juga menyerukan agar generasi muda tidak mudah terpengaruh oleh perilaku negatif di jalan. "Jadi hal-hal kecil yang bisa untuk diatasi, ayo pasti bisa dan jangan ikut-ikutan yang salah. Yakin sama diri sendiri bahwa kalian itu bisa berada di jalur yang benar," katanya, mendorong kepercayaan diri dalam mematuhi aturan demi keselamatan bersama. Menjaga keselamatan bukan hanya tentang mematuhi rambu, tetapi juga tentang melawan godaan untuk melanggar dan memprioritaskan kesehatan diri saat berkendara.

Acara "Scene & Sound Vol.1" yang diselenggarakan oleh Unframed.it di Balai Budaja ini memang dirancang untuk mengajak generasi muda merefleksikan hubungan mereka dengan kota dan ruang publik. Mengutip kalimat populer, "untuk melihat budaya suatu bangsa, lihatlah lalu lintasnya," acara ini mencoba mengaitkan secara langsung bagaimana cara masyarakat menggunakan jalanan dan ruang publik mencerminkan nilai-nilai yang hidup di dalamnya. Ini mencakup bagaimana masyarakat memperlakukan pejalan kaki, menghargai sesama pengguna jalan, merespons perbedaan, menjaga kebersihan, hingga berbagi ruang dengan orang lain.

City walking tour di Menteng, yang dilanjutkan dengan bincang santai, mengajak peserta untuk melihat kota bukan sekadar sebagai jalur yang dilalui. Lebih dari itu, kota adalah ruang yang menyimpan pengalaman, ingatan, dan makna bagi orang-orang yang hidup di dalamnya. Kebiasaan sehari-hari dalam berinteraksi di ruang publik inilah yang membentuk pengalaman hidup bersama dan sekaligus menjadi wajah budaya sebuah kota. Acara yang sarat makna ini ditutup dengan penampilan musik dari 1Tengah, menyisakan refleksi mendalam tentang peran setiap individu dalam membentuk budaya keselamatan dan keteraturan di jalanan.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All