Cegah PPOK dari Rumah, FK UWKS Edukasi Warga Sumenep Pentingnya Lingkungan Bebas Asap Rokok

Danu Ilham

Sumenep – Tim dosen Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma Surabaya (FK UWKS) terjun langsung ke Desa Batang-Batang Daya, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, untuk memberikan edukasi strategis mengenai pencegahan Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK). Kegiatan pengabdian masyarakat yang berlangsung pada Sabtu (27/6/2026) ini menekankan peran vital keluarga dan kesehatan lingkungan sebagai garda terdepan dalam menangkal penyakit tidak menular yang kian mengancam kualitas hidup masyarakat.

Kepala Desa Batang-Batang Daya, Siti Naisa, S.Sos., menyambut baik inisiatif akademisi tersebut. Dalam sambutannya, ia menekankan bahwa kolaborasi antara perguruan tinggi dan pemerintah desa menjadi kunci penting untuk meningkatkan literasi kesehatan warga. Menurutnya, kesadaran kolektif yang dibangun melalui edukasi semacam ini sangat krusial agar masyarakat lebih proaktif dalam menjaga kesehatan paru-paru sebelum gejala penyakit menjadi kronis dan sulit ditangani.

Ketua tim pelaksana pengabdian, dr. Nugroho Eko W. B., S.H., M.Si., menjelaskan bahwa PPOK merupakan tantangan kesehatan yang kerap terabaikan karena sifatnya yang berkembang secara perlahan. Banyak penderita baru menyadari kondisi paru-parunya setelah fungsi organ vital tersebut mengalami penurunan drastis. Oleh karena itu, FK UWKS memilih pendekatan berbasis keluarga untuk menekan angka prevalensi penyakit ini dari akar permasalahannya.

Salah satu poin krusial yang ditekankan dalam edukasi tersebut adalah menciptakan rumah yang benar-benar bebas dari asap rokok. Dr. Nugroho memaparkan bahwa paparan asap rokok, baik dari perokok aktif maupun pasif, menjadi faktor risiko utama kerusakan paru jangka panjang. Keluarga diminta untuk tidak hanya menjaga pola hidup bersih dan sehat (PHBS), tetapi juga memberikan dukungan emosional serta meminimalisir polusi udara di dalam hunian demi melindungi anak-anak dan lansia yang lebih rentan terhadap gangguan pernapasan.

Selain menjaga kebersihan lingkungan, masyarakat juga diimbau untuk lebih peka terhadap gejala awal yang sering dianggap sepele. Gejala seperti batuk kronis berdahak, sesak napas yang sering kambuh, atau batuk yang tidak kunjung sembuh merupakan sinyal peringatan yang tidak boleh diabaikan. Masyarakat diminta untuk segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat jika mengalami tanda-tanda tersebut agar deteksi dini melalui pemeriksaan fungsi paru menggunakan spirometri dapat segera dilakukan.

Peran keluarga, menurut dr. Nugroho, sangat strategis dalam membentuk perilaku hidup sehat di rumah tangga. Dukungan anggota keluarga untuk berhenti merokok di dalam ruangan dan menjaga sirkulasi udara yang baik adalah langkah nyata yang efektif mencegah PPOK. Upaya ini merupakan investasi kesehatan jangka panjang yang dampaknya tidak hanya dirasakan oleh individu, tetapi juga meningkatkan kualitas hidup seluruh anggota keluarga di lingkungan tersebut.

Antusiasme warga terlihat jelas selama kegiatan berlangsung, terutama saat sesi diskusi interaktif. Banyak peserta yang baru menyadari bahwa perokok pasif di rumah memiliki risiko gangguan paru yang setara dengan perokok aktif. Pertanyaan mengenai cara berhenti merokok, teknik menjaga kualitas udara di rumah, hingga pengenalan gejala klinis PPOK mengalir deras dari peserta, yang kemudian dijawab dengan solusi praktis dan aplikatif oleh tim dosen FK UWKS.

Kegiatan ini merupakan bentuk nyata implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi yang dilakukan oleh Fakultas Kedokteran UWKS. Fokus utama program ini adalah pemberdayaan masyarakat melalui edukasi preventif, yang diharapkan mampu menciptakan kemandirian warga dalam menjaga kesehatan paru. Melalui edukasi yang menyasar tingkat keluarga, diharapkan pengetahuan medis yang kompleks dapat diterjemahkan menjadi tindakan preventif sederhana yang mudah dilakukan setiap hari.

Pendanaan kegiatan ini bersumber dari skema hibah Pengabdian kepada Masyarakat Tahun 2026 yang dikelola oleh Universitas Wijaya Kusuma Surabaya. Tim pelaksana menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UWKS yang telah memberikan dukungan penuh, baik dari sisi pendanaan maupun pembinaan, sehingga program ini dapat terselenggara dengan sukses dan tepat sasaran.

Selain dr. Nugroho Eko W. B., S.H., M.Si. selaku ketua, tim pengabdian ini juga melibatkan tenaga ahli lain yakni Dr. dr. Indah Widyaningsih, M.Kes., dan Dr. drg. Wike Herawaty, M.Kes. Kehadiran mereka diperkuat oleh mahasiswa yaitu Keysha Amirah Hanny, Muhammad Collin, dan Bustanu Arifin. Keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan ini juga bertujuan sebagai bagian dari implementasi pembelajaran berbasis pengabdian, di mana mereka dapat langsung mempraktikkan ilmu kedokteran untuk memecahkan masalah kesehatan nyata di masyarakat.

Pemerintah Desa Batang-Batang Daya dan Puskesmas Batang-Batang juga mendapatkan apresiasi besar atas sinergi yang terjalin selama proses kegiatan. Kerjasama lintas sektoral ini diharapkan menjadi model percontohan bagi desa-desa lain dalam upaya promotif dan preventif kesehatan. Keberhasilan program ini menjadi cermin bahwa pendekatan berbasis komunitas adalah cara paling efektif untuk mengubah perilaku masyarakat ke arah yang lebih sehat.

Sebagai penutup, kegiatan ini menjadi momentum penting bagi warga Sumenep untuk lebih peduli terhadap kesehatan paru. Dengan memahami bahaya PPOK dan pentingnya menciptakan lingkungan rumah yang bebas asap, diharapkan masyarakat dapat terhindar dari beban biaya pengobatan jangka panjang. FK UWKS berkomitmen untuk terus konsisten mendampingi masyarakat dalam meningkatkan derajat kesehatan melalui program-program edukasi yang berkelanjutan dan bermanfaat nyata bagi kualitas hidup warga.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All