Mexico City – Kekalahan dramatis Meksiko dari Inggris di babak 16 besar Piala Dunia 2026 meninggalkan luka mendalam. Namun, semangat juang dan keramahan masyarakat Meksiko sebagai tuan rumah tak luntur, bahkan menuai pujian. Pagi buta di Calle Genova, Mexico City, sudah ramai. Suara musik terdengar dari bar-bar. Sekitar pukul 11 pagi, warga sudah berkumpul di jalanan.
Seragam tim nasional Meksiko terlihat dikenakan banyak orang. Jika ada yang tidak mengikuti berita, mereka mungkin mengira malam sebelumnya adalah perayaan besar. Kenyataannya, malam sebelumnya adalah kekecewaan pahit. Paseo de la Reforma, jalan utama yang biasanya ramai, tampak lengang tiga setengah jam setelah Inggris mengubur mimpi El Tri.
Area publik yang tadinya dipenuhi 1,4 juta orang untuk menonton laga melawan Ekuador, kini mulai dibersihkan. Sisa-sisa euforia pasca-kemenangan atas Ekuador masih terasa. Namun, di sisi lain, kekecewaan atas kekalahan dari Inggris juga tak terhindarkan.
Meskipun begitu, senyum tetap terlihat di antara warga Meksiko. Perayaan mungkin berlanjut di jalan-jalan kecil, dengan refleksi yang positif. Banyak yang mengakui Meksiko telah memberikan segalanya dalam pertandingan klasik Piala Dunia ini. Ada rasa pahit manis, tim bermain cukup baik untuk meraih lebih.
"Sebuah kemunduran yang akan menyakitkan selamanya," tulis El Universal, koran ternama Meksiko. Mereka memuji "penampilan epik melawan Inggris." Ada keyakinan bahwa Meksiko sedikit banyak menciptakan kejatuhan heroik mereka sendiri. Pertahanan yang lemah memungkinkan Anthony Gordon mencetak gol penalti yang menentukan.
Presiden Meksiko, Claudia Sheinbaum, berusaha menjaga optimisme. "Kami menunjukkan kepada semua orang bahwa Meksiko adalah tuan rumah terbaik di dunia, dengan rakyat yang bahagia dan bersatu," tulisnya di media sosial. Pernyataan ini disambut baik oleh para penggemar Inggris. Mereka melaporkan kekaguman atas kehangatan dan keramahtamahan tuan rumah.
Meskipun ada tantangan seperti krisis penculikan dan kekerasan kartel, acara olahraga besar ini memang seringkali menutupi masalah sosial. Namun, semangat penyelenggaraan pesta sepak bola dunia tetap membekas. Atmosfer di Estadio Azteca sungguh luar biasa. Tidak ada permusuhan terhadap tim tamu.
Sama seperti timnasnya yang tersingkir, Meksiko pun mengakhiri peran mereka sebagai tuan rumah bersama Piala Dunia 2026. Jika Amerika Serikat menjadi jantung turnamen, Meksiko adalah jiwanya. Sepak bola di sini sangat penting, tertanam dalam masyarakat. Pengalaman di Meksiko selama babak gugur terasa menyegarkan.
Estadio Azteca, Guadalajara, dan Monterrey akan kosong untuk sisa musim panas. Azteca mungkin tidak semewah stadion lain, namun memiliki pesona tersendiri. Akses dan infrastruktur di sekitarnya sudah membaik seiring turnamen. Sayangnya, monument sepak bola ini harus ditinggalkan lebih cepat.
Ada harapan agar visibilitas pemain Meksiko dapat menjadi batu loncatan. Gilberto Mora, pemain 17 tahun yang tampil memukau, menunjukkan bakat luar biasa. Liga Meksiko memang kuat dan nyaman bagi talenta lokal. Namun, mobilitas dan eksposur di Eropa akan membantu negara ini mencapai potensi besarnya.




