Calon Manajer Koperasi Keempat Meninggal dalam Latihan Militer, Protokol Kesehatan Dipertanyakan

Darus H

Jakarta – Kabar duka kembali menyelimuti program pelatihan calon manajer Koperasi Desa Merah Putih dan Koperasi Kampung Nelayan Merah Putih. Muhammad Rifki Renaldi Gunawan, salah satu peserta pelatihan militer, dinyatakan meninggal dunia pada Jumat dini hari, 26 Juni 2026. Insiden ini menambah panjang daftar korban jiwa menjadi empat orang dalam rangkaian pelatihan serupa yang digelar di berbagai lokasi.

Kematian Rifki yang mengikuti pelatihan di Jakarta ini dikonfirmasi langsung oleh Deputi Bidang Pengembangan Talenta dan Daya Saing Kementerian Koperasi, Destry Anna Sari. Menurut Sari, keluarga korban menginformasikan bahwa almarhum memang memiliki riwayat penyakit tertentu sebelum mengikuti program pelatihan yang digagas untuk para calon manajer koperasi tersebut. "Ya, keluarga mengatakan penyakit bawaan almarhum," ujar Sari kepada Tempo melalui pesan singkat, Jumat.

Kronologi kematian Rifki, yang juga calon manajer dari Kodam III/Siliwangi, telah diverifikasi oleh Destry Anna Sari. Laporan menyebutkan bahwa Rifki mulai menunjukkan gejala gangguan kesehatan pada Kamis, 25 Juni 2026, sekitar pukul 14.30 WIB. Saat itu, ia mendatangi ruang kesehatan di lokasi pelatihan dengan keluhan sesak napas dan tubuh terasa lemas.

Tim medis satuan TNI setempat segera melakukan pemeriksaan awal. Tercatat suhu tubuh Rifki berada di angka 36,8 derajat Celsius dengan saturasi oksigen 96 persen. Dari rekam medisnya, diketahui Rifki memiliki riwayat hipertensi dan rutin mengonsumsi Amlodipin 5 miligram.

Sebagai penanganan awal, tim kesehatan memberikan terapi oksigen 3 liter per menit melalui nasal kanul dan mengarahkan Rifki untuk beristirahat di ruang kesehatan. Kondisinya sempat membaik, memungkinkan dirinya untuk kembali mengikuti sebagian kegiatan pelatihan. Namun, perbaikan itu tidak bertahan lama.

Sekitar pukul 18.00 WIB, Rifki kembali mengalami sesak napas yang signifikan. Melihat kondisi yang memburuk, sekitar 25 menit kemudian, ia segera dirujuk ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Angkatan Udara dr. Esnawan Antariksa, Jakarta, untuk penanganan medis lebih lanjut.

Setibanya di rumah sakit sekitar pukul 18.30 WIB, kondisi kesehatan Rifki semakin kritis. Berdasarkan resume dokter yang tercantum dalam laporan, pasien didiagnosis mengalami penurunan kesadaran dengan dugaan penyebab neurogenik, kardiogenik, serta pneumonia. Dokter juga mencatat kemungkinan syok hipovolemik atau syok sepsis serta hiponatremia berat yang dialami Rifki. Ia akhirnya dinyatakan meninggal dunia pada pukul 00.28 WIB.

"Hasil koordinasi dengan pihak keluarga, rencananya almarhum akan dikebumikan di Sumedang," demikian keterangan yang tertulis dalam laporan tersebut. Kepergian Rifki menjadi sorotan tajam, mengingat ini adalah kasus kematian keempat dalam rentetan pelatihan yang sama.

Sebelumnya, Kementerian Pertahanan juga telah mengonfirmasi kematian tiga calon manajer Koperasi Desa Merah Putih dan Koperasi Kampung Nelayan Merah Putih lainnya yang gugur saat mengikuti pelatihan militer dasar komando cadangan. Ketiga korban tersebut adalah Novia Rahmadhani Sihotang, Anisa Muyassaroh, dan Yonanda Muhammad Taufiq, yang masing-masing meninggal setelah mengalami penurunan kondisi kesehatan serius.

Novia Rahmadhani Sihotang, yang mengikuti pelatihan di Pusat Bahasa Komando Pembinaan Doktrin, Pendidikan, dan Latihan TNI Angkatan Udara, Jakarta, meninggal pada Selasa, 23 Juni 2026. Ia diketahui memiliki riwayat penyakit tuberkulosis atau TBC. Kasusnya juga memicu pertanyaan mengenai screening kesehatan peserta sebelum dan selama pelatihan.

Sementara itu, Anisa Muyassaroh mengembuskan napas terakhirnya pada 18 Juni 2026 setelah mengalami heat stroke. Tragedi ini terjadi saat ia mengikuti pelatihan di Satuan Pendidikan Resimen Induk Kodam Mulawarman, Balikpapan, Kalimantan Timur, sebuah wilayah dengan iklim yang menantang.

Korban ketiga, Yonanda Muhammad Taufiq, dinyatakan wafat akibat cardiac arrest atau henti jantung pada 17 Juni 2026. Yonanda mengikuti pelatihan di Satuan Pendidikan Pusat Latihan Tempur TNI Angkatan Darat, Baturaja, Kabupaten Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan. Berbagai lokasi dan penyebab kematian ini mengindikasikan adanya isu yang lebih luas terkait keselamatan dan standar pelatihan.

Rangkaian kematian ini menimbulkan pertanyaan besar mengenai standar keamanan, proses skrining kesehatan peserta, serta intensitas latihan militer yang diterapkan bagi calon manajer koperasi. Program yang seharusnya membekali keterampilan kepemimpinan ini kini justru diwarnai tragedi, menuntut evaluasi menyeluruh dari Kementerian Koperasi dan Kementerian Pertahanan untuk mencegah insiden serupa terulang di masa mendatang.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All