Perum Bulog berencana untuk menggelontorkan stok Beras SPHP (Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan) dengan kualitas premium dan medium sebanyak 2 juta ton. Langkah ini diambil untuk menstabilkan harga beras di pasaran, namun menuai sorotan dari berbagai pihak. Rencana ini mencakup penjualan beras dengan harga eceran tertinggi (HET) yang telah ditetapkan oleh pemerintah, baik untuk jenis premium maupun medium.
Keputusan Bulog untuk menjual beras premium dalam program SPHP ini menjadi titik krusial yang menarik perhatian. Sebelumnya, program SPHP identik dengan beras medium yang disubsidi pemerintah. Muncul kekhawatiran bahwa intervensi Bulog dengan beras premium ini dapat mengganggu dinamika pasar yang sudah ada. Salah satu kekhawatiran utama adalah potensi persaingan tidak sehat dengan beras komersial yang selama ini dijual oleh para pedagang di pasar tradisional maupun ritel modern.
Merespons hal ini, Direktur Utama Perum Bulog, Bayu Krisnamurthi, memberikan klarifikasi. Ia menyatakan bahwa penjualan beras premium melalui program SPHP ini tidak akan mengabaikan aspek komersial. “Kita kan juga harus melihat sisi komersialnya, ada mekanisme yang kita sediakan,” ujar Bayu Krisnamurthi dalam sebuah forum pada Rabu, 20 Maret 2024. Pernyataannya ini mengindikasikan bahwa Bulog memiliki strategi untuk memastikan beras SPHP premium tersebut tetap dapat diserap pasar tanpa menimbulkan gejolak yang signifikan.
Lebih lanjut, Bayu Krisnamurthi menjelaskan bahwa Bulog tidak akan serta-merta melepaskan seluruh stok beras SPHP premium tersebut begitu saja. Ada tahapan dan mekanisme yang akan dijalankan. “Jadi, kalau kita keluarkan, kita keluarkan yang ada di dalam 2 juta ton itu, 2 juta ton itu kita jual,” tegasnya. Angka 2 juta ton ini merupakan jumlah stok yang dipersiapkan Bulog untuk program stabilisasi harga pangan, yang kini diperluas cakupannya hingga mencakup beras premium.
Sementara itu, Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan, Isy Karim, turut angkat bicara mengenai rencana Bulog. Ia menegaskan bahwa beras SPHP premium ini akan dijual sesuai dengan Harga Eceran Tertinggi (HET) yang telah ditetapkan. “Beras SPHP premium itu nanti ada HET-nya, ada HET mediumnya,” ungkap Isy Karim di Jakarta pada Selasa, 19 Maret 2024. Penetapan HET ini menjadi jaring pengaman agar harga beras yang dijual Bulog tidak melampaui batas yang wajar, sekaligus memastikan masyarakat dapat mengakses beras dengan harga terjangkau.
Meski demikian, rencana ini tetap memunculkan berbagai prediksi dan analisis dari pengamat pasar. Sebagian berpendapat bahwa langkah Bulog ini bisa menjadi solusi efektif untuk menekan lonjakan harga beras yang kerap terjadi menjelang hari-hari besar keagamaan. Namun, sebagian lainnya khawatir bahwa masuknya beras premium SPHP dalam jumlah besar dapat menggeser pangsa pasar beras komersial, yang berpotensi merugikan para pelaku usaha hilir.
