Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) telah berhasil mengungkap misteri di balik fenomena kematian massal ikan yang terjadi di Danau Batur, Bali, pada akhir Juli lalu. Melalui penelitian mendalam, BRIN memberikan penjelasan ilmiah yang komprehensif mengenai penyebab kejadian tersebut.
Temuan tim peneliti BRIN menunjukkan bahwa faktor utama yang memicu kematian massal ikan adalah perubahan mendadak pada kualitas air. Perubahan ini dipicu oleh tingginya kadar amonia di dalam air danau yang melebihi ambang batas toleransi bagi kehidupan ikan.
Menurut data yang dihimpun, kadar amonia di Danau Batur pada periode tersebut mencapai angka yang sangat mengkhawatirkan. “Kadar amonia yang terdeteksi mencapai 5,7 miligram per liter,” ungkap Dr. Muhammad Kamal, Peneliti BRIN, dalam keterangan resminya. Angka ini jauh melampaui batas aman yang seharusnya hanya berkisar 0,02 miligram per liter.
Peningkatan kadar amonia ini sendiri diduga kuat berasal dari aktivitas budidaya ikan keramba jaring apung (KJA) yang masif di Danau Batur. Sisa pakan ikan yang tidak termakan dan kotoran ikan dari KJA tersebut terakumulasi di dasar danau. Ketika terjadi perubahan kondisi lingkungan, seperti peningkatan suhu atau penurunan kadar oksigen terlarut, senyawa organik dari akumulasi tersebut akan terurai dan melepaskan amonia.
Selain amonia, BRIN juga mencatat adanya penurunan kadar oksigen terlarut di dalam air. “Kadar oksigen terlarut juga menurun di bawah 4 miligram per liter,” tambah Dr. Kamal. Kondisi kekurangan oksigen ini, yang dikenal sebagai hipoksia, semakin memperparah stres pada ikan dan berujung pada kematian massal.
Fenomena ini menjadi pengingat pentingnya pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan, terutama di kawasan ekowisata seperti Danau Batur. BRIN merekomendasikan adanya pembatasan ketat terhadap jumlah KJA serta penerapan praktik budidaya yang lebih ramah lingkungan untuk mencegah terulangnya kejadian serupa di masa mendatang.
