Havana, Kuba dilanda kegelapan total menyusul kolapsnya jaringan listrik nasional pada Senin, 28 Maret 2022. Pemadaman listrik berskala masif ini merupakan dampak langsung dari blokade energi yang diberlakukan oleh Amerika Serikat.
Ribuan warga di ibu kota Kuba terpaksa beradaptasi dengan ketiadaan pasokan listrik yang tak terduga. Situasi ini memicu kekhawatiran akan kelangsungan aktivitas sehari-hari, mulai dari penerangan rumah tangga hingga operasional bisnis.
Menurut laporan dari Kantor Berita Antara, pemadaman listrik ini terjadi setelah pihak berwenang mengumumkan bahwa sejumlah pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) mengalami gangguan operasional. Gangguan ini, yang terjadi di tengah tekanan sanksi AS, memperparah kondisi kelangkaan bahan bakar yang telah menghantui Kuba selama beberapa waktu.
“Situasi ini diperburuk oleh sanksi AS yang terus membatasi akses Kuba terhadap sumber daya energi dan suku cadang penting,” ujar seorang pejabat Kuba yang tidak disebutkan namanya, dikutip oleh Antara. Pemadaman listrik ini menambah deretan krisis yang dihadapi oleh negara kepulauan tersebut, termasuk kelangkaan pangan dan inflasi yang tinggi.
Pemerintah Kuba telah berulang kali mengecam blokade ekonomi, komersial, dan keuangan yang diberlakukan oleh Amerika Serikat sejak tahun 1962. Sanksi ini dinilai menghambat upaya pembangunan dan kesejahteraan rakyat Kuba, termasuk dalam sektor energi yang krusial.
Sebelumnya, pada hari yang sama, dilaporkan bahwa tiga dari total enam PLTU di Kuba mengalami kerusakan. Kerusakan ini terjadi di tengah kondisi kelangkaan bahan bakar yang semakin parah. Keterbatasan pasokan bahan bakar ini menjadikan upaya perbaikan dan pemulihan operasional pembangkit listrik menjadi semakin sulit.
Situasi ini tidak hanya berdampak pada kehidupan masyarakat di Havana, tetapi juga diperkirakan akan meluas ke wilayah lain di Kuba. Kegelapan yang menyelimuti ibu kota menjadi simbol nyata dari tantangan berat yang dihadapi Kuba di bawah tekanan blokade internasional.
