Manila dilanda banjir parah pada hari Rabu, 12 Juli 2023, setelah hujan deras yang dipicu oleh badai monsun barat daya mengguyur Pulau Luzon. Genangan air merendam sejumlah rumah warga dan mengubah ruas-ruas jalan utama menjadi seperti sungai, melumpuhkan aktivitas di jantung kota tetangga Indonesia tersebut.
Curah hujan ekstrem yang berlangsung berjam-jam menyebabkan sistem drainase tak mampu menampung debit air. Akibatnya, banjir dengan ketinggian bervariasi dilaporkan terjadi di berbagai wilayah di Metro Manila. Kantor berita Associated Press melaporkan bahwa setidaknya 10.000 orang terpaksa mengungsi dari rumah mereka yang terendam air.
Situasi darurat ini memaksa penutupan sejumlah jalan raya vital, termasuk EDSA (Epifanio de los Santos Avenue), arteri utama yang melintasi Metro Manila. Kendaraan roda empat maupun roda dua tampak terombang-ambing di tengah genangan yang cukup dalam, sementara warga berjuang menyelamatkan harta benda mereka.
Kepala Badan Manajemen dan Pengurangan Risiko Bencana Nasional Filipina (NDRRMC), Ariel T. Ong, dalam konferensi pers pada hari yang sama, menyatakan bahwa upaya evakuasi dan bantuan darurat tengah digencarkan. “Kami memobilisasi semua sumber daya yang kami miliki untuk membantu warga yang terdampak. Prioritas utama kami adalah keselamatan jiwa,” ujar Ong.
Cuaca buruk yang disebabkan oleh badai monsun barat daya ini diperkirakan masih akan berlangsung beberapa hari ke depan, menurut perkiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Filipina (PAGASA). Pihak berwenang mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi banjir susulan dan tanah longsor, terutama bagi mereka yang tinggal di daerah rawan.
Kejadian banjir ini kembali menyoroti kerentanan Filipina terhadap bencana alam, khususnya yang berkaitan dengan perubahan iklim dan pola cuaca ekstrem. Pemerintah setempat terus berupaya meningkatkan infrastruktur pengelolaan air dan sistem peringatan dini untuk meminimalkan dampak bencana di masa mendatang.
