Sunday, 2 August 2026
BREAKING
BERITA

Band Massive Attack Dilarang Masuk Singapura Pasca Aksi Kibarkan Bendera Palestina

Oleh Emanuel August 2, 2026 1 hour lalu 0 komentar

Dua musisi dari grup band ternama asal Inggris, Massive Attack, dilarang memasuki wilayah Singapura. Larangan ini dijatuhkan setelah mereka mengibarkan bendera Palestina dan menyatakan dukungan politik saat menggelar konser di negara tersebut. Insiden ini memicu kontroversi dan berujung pada sanksi larangan masuk bagi kedua anggota band.

Peristiwa yang berujung pada larangan masuk ini terjadi pada konser Massive Attack yang diselenggarakan di Singapore Indoor Stadium pada 3 Juni 2024. Selama pertunjukan, salah satu personel band, Robert “3D” Del Naja, dilaporkan mengibarkan bendera Palestina. Aksi ini diikuti dengan seruan dukungan terhadap Palestina, yang kemudian direspons oleh rekan satu bandnya, Grant “Daddy G” Marshall, dengan tambahan pernyataan politik.

Pihak berwenang Singapura melalui Kementerian Dalam Negeri (MHA) dan Kementerian Kebudayaan, Komunitas, dan Genggaman (MCCY) merilis pernyataan pada 11 Juni 2024 terkait insiden tersebut. “Kami tidak akan mentolerir tindakan yang mengganggu ketertiban umum dan keamanan Singapura,” ujar juru bicara kementerian seperti dikutip dari Reuters. Pernyataan ini menegaskan bahwa kedua musisi tersebut kini tidak diizinkan untuk memasuki Singapura.

Lebih lanjut, pihak kementerian menjelaskan bahwa mereka telah mempertimbangkan masukan dari berbagai pihak sebelum mengambil keputusan ini. “Kami telah mempertimbangkan masukan yang relevan sebelum membuat keputusan ini,” tambah juru bicara tersebut. Keputusan ini diambil mengingat Singapura memiliki kebijakan tegas terkait penggunaan simbol-simbol politik dan pernyataan yang dapat dianggap provokatif di ruang publik, termasuk saat acara hiburan.

Sebelumnya, pada konser tersebut, Del Naja juga sempat menyampaikan pesan solidaritasnya. “Kita semua di sini untuk perdamaian,” katanya saat memegang bendera Palestina, seperti dilaporkan oleh Channel News Asia. Marshall kemudian menambahkan, “Kita berharap untuk perdamaian di dunia dan kita berharap untuk keadilan di Palestina.” Pernyataan dan aksi ini tampaknya menjadi pemicu utama dari sanksi yang dijatuhkan.

Insiden ini menambah daftar panjang musisi atau grup musik yang menghadapi konsekuensi terkait pernyataan politik mereka di Singapura. Negara kota ini dikenal sangat ketat dalam menjaga stabilitas sosial dan politiknya, serta melarang segala bentuk kampanye politik atau pernyataan yang dapat memecah belah masyarakat.

Bagikan: Facebook X WhatsApp