JAKARTA – Kebijakan larangan ekspor model kecerdasan buatan (AI) terbaru Anthropic kepada pengguna asing tengah memicu perdebatan sengit di Washington. Perusahaan yang dikenal vokal menyuarakan risiko AI itu kini menghadapi kritik bahwa kampanye mereka justru berkontribusi pada pembatasan akses terhadap model inovatif mereka, seperti Mythos dan Fable.
Analisis mendalam yang dilakukan Financial Times (FT) terhadap pernyataan resmi, unggahan media sosial, serta tulisan Anthropic dan pendirinya, Dario Amodei, menunjukkan adanya pola komunikasi yang sangat berbeda dibandingkan dengan pesaing utama mereka, OpenAI. Selama tahun 2026, frekuensi penggunaan kata-kata yang berkaitan dengan risiko, regulasi, atau pembatasan dalam setiap 1.000 kata komunikasi Anthropic mencapai sekitar lima kata. Angka ini jauh melampaui OpenAI dan CEO-nya, Sam Altman, yang hanya menggunakan sekitar 0,6 kata per 1.000 kata untuk topik serupa.
Bahasa yang berhati-hati dan cenderung menyoroti potensi bahaya dari teknologi AI yang selama ini dibangun Anthropic, kini justru berbalik menjadi bumerang. Perusahaan ini secara konsisten memposisikan diri sebagai suara paling waspada dalam industri AI, sering kali mengangkat isu-isu krusial seperti ancaman, kebutuhan pengawasan ketat, dan urgensi campur tangan pemerintah. Strategi ini berhasil membangun citra perusahaan yang sangat peduli terhadap aspek keselamatan AI. Namun, narasi yang dibangun ini justru dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang menentang, yang menganggap Anthropic turut membuka jalan bagi diberlakukannya pembatasan akses.
Situasi memanas setelah pemerintah Amerika Serikat pekan lalu mengeluarkan larangan bagi warga negara asing untuk menggunakan model AI terbaru Anthropic, yaitu Mythos dan Fable. Sejumlah tokoh di dunia teknologi menilai keputusan ini memiliki korelasi langsung dengan peringatan berulang yang kerap disampaikan Anthropic mengenai risiko AI bagi masyarakat, terutama terkait dengan kemampuan model Mythos. Yann LeCun, mantan ilmuwan utama AI di Meta, bahkan secara terang-terangan menyebut peringatan yang disampaikan Dario Amodei sebagai "fear-mongering" atau penyebaran ketakutan yang berlebihan. Ia menambahkan, "Anda menuai apa yang Anda tabur."
Pernyataan-pernyataan kritis semacam ini bukan sekadar perdebatan di kalangan para pakar. Bagi para pelaku industri teknologi, hal ini dapat menjadi sinyal penting bagi regulator, investor, dan mitra pemerintah. Ketika sinyal tersebut ditafsirkan sebagai potensi ancaman keamanan, pintu akses terhadap teknologi canggih bisa tertutup dengan sangat cepat.
Analisis data FT yang menghitung frekuensi kata-kata seperti "harmful" (berbahaya), "dangerous" (berbahaya), dan "misaligned" (tidak selaras) dalam komunikasi publik kedua perusahaan memberikan gambaran yang jelas. Kata "risk" (risiko) muncul sebanyak 336 kali dalam komunikasi Anthropic pada tahun 2026. Kata "safeguard" (perlindungan) muncul 121 kali, dan "vulnerability" (kerentanan) tercatat 128 kali. Bandingkan dengan OpenAI, di mana ketiga kata tersebut masing-masing hanya muncul 30 kali, 33 kali, dan 10 kali.
Selain itu, analisis sentimen yang dilakukan FT juga membandingkan nada positif dan negatif dalam komunikasi publik kedua perusahaan. Meskipun komunikasi publik Anthropic secara keseluruhan tetap cenderung positif, namun memiliki proporsi nada negatif yang lebih tinggi dibandingkan dengan OpenAI. Menariknya, FT menemukan bahwa bahasa Anthropic justru cenderung melunak sejak tahun 2023, seiring dengan semakin populernya alat AI mereka. Frekuensi penggunaan kata-kata terkait risiko dan regulasi dilaporkan turun sekitar setengahnya dibandingkan dengan periode tiga tahun sebelumnya.
Hal ini menunjukkan bahwa Anthropic tidak selalu mengadopsi narasi yang sangat pesimistis. Namun, dalam konteks perdebatan seputar model Mythos dan Fable, rekam jejak peringatan mereka tetap menjadi catatan penting. Reputasi yang telah terbangun sulit untuk diubah, terutama ketika berhadapan dengan perubahan kebijakan pemerintah yang berujung pada larangan nyata.
Model Mythos dipromosikan oleh Anthropic sebagai teknologi yang mampu mengidentifikasi celah keamanan siber yang krusial. Pada tahap awal pengembangannya, akses ke model ini sengaja dibatasi hanya untuk organisasi tertentu di Amerika Serikat dengan alasan keamanan. Perusahaan tersebut juga dilaporkan telah bekerja sama dengan pejabat pemerintah untuk memastikan peluncuran yang diawasi sebelum akhirnya merilis Mythos secara lebih luas pada awal bulan ini.
Namun, proses tersebut tidak berjalan mulus. Sejumlah pihak dalam industri AI mengkritik cara Anthropic bernegosiasi dengan pemerintah terkait peluncuran model baru mereka. David Sacks, mantan penasihat AI untuk pemerintah AS, melalui akun X-nya menyatakan bahwa "mitra tepercaya" telah mendekati pemerintah untuk mencari cara mengakali mekanisme pengaman pada model Fable. Ia menuduh Anthropic meremehkan kekhawatiran tersebut, yang akhirnya "memaksa" pemerintah untuk memberlakukan larangan.
Dari sinilah, isu teknis yang awalnya diperdebatkan, berubah menjadi ranah politik. Larangan tersebut tidak hanya menyasar produk, tetapi juga menyentuh arah kebijakan AI Amerika Serikat secara keseluruhan: sejauh mana model AI tercanggih boleh diakses oleh pihak luar, siapa saja yang berhak menggunakannya, dan kapan aspek keamanan harus diprioritaskan di atas inovasi.
Keputusan Washington ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan sejumlah pihak di Eropa dan Silicon Valley. Mereka khawatir bahwa pemerintahan di AS, terlepas dari siapa yang memimpin, mungkin akan cenderung membatasi akses non-AS terhadap model AI paling canggih. Bagi para eksekutif dan pejabat, ini bisa menjadi uji coba awal bagaimana Amerika Serikat akan mengawasi model AI yang semakin kuat, mahal, dan strategis.
Survei yang dilakukan oleh YouGov dan dikutip oleh FT menunjukkan bahwa mayoritas responden sepakat bahwa regulasi yang efektif sangat penting, bahkan jika hal itu berpotensi memperlambat laju perkembangan teknologi. Publik tampaknya tidak serta-merta menolak pembatasan. Yang menjadi pertanyaan adalah cara dan konsistensi penerapannya. Jika perusahaan AI sendiri yang secara aktif mendorong narasi bahaya, lalu pemerintah kemudian menutup akses, timbul pertanyaan siapa sebenarnya yang memegang kendali atas arah perkembangan teknologi ini.
Presiden Prancis, Emmanuel Macron, turut angkat bicara dalam perdebatan ini. Ia menyatakan bahwa sengketa terkait Anthropic telah "memperjelas taruhan" bagi Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya di G7. Macron menyerukan "regulasi kecerdasan buatan yang lebih kuat" dan memperingatkan akan risiko "ketidakkoordinasian di antara negara-negara demokrasi." Pesannya jelas: tanpa adanya kerja sama yang erat, negara-negara demokrasi berisiko saling curiga satu sama lain di tengah pesatnya perkembangan AI.
Lennart Heim, seorang peneliti kebijakan AI independen yang pernah bekerja di Rand, menilai respons pemerintah AS sebagai tindakan yang "tidak memberi kepercayaan." Menurutnya, pemerintah yang selama ini memosisikan diri sebagai pendukung inovasi, bahkan mendorong ekspor chip AI canggih ke Tiongkok dan mengkritik regulasi yang berfokus pada keselamatan, kini justru berbalik melarang model AI paling maju buatan AS. Kontradiksi semacam ini, menurutnya, sulit untuk dijelaskan secara transparan kepada publik.
Kasus Anthropic ini secara sederhana menunjukkan satu hal: dalam dunia AI, ucapan dan narasi yang dibangun oleh perusahaan dapat berpotensi menjadi dasar bagi kebijakan negara. Ketika sebuah perusahaan secara konsisten menekankan potensi bahaya dari teknologi yang mereka kembangkan, regulator dapat melihatnya sebagai alasan kuat untuk mengambil tindakan pembatasan. Sebaliknya, ketika perusahaan terkesan meremehkan risiko, publik dapat menuduh mereka bersikap sembrono. Dalam ruang dilematis inilah arah perkembangan industri AI akan terus ditentukan.
Implikasi dari keputusan semacam ini sangat nyata bagi para penggunanya. Pembatasan akses terhadap model AI frontier bukan lagi sekadar urusan perusahaan teknologi raksasa atau para pejabat di Washington. Keputusan-keputusan seperti ini dapat memengaruhi siapa saja yang berhak mencoba model AI terbaru, bagaimana para peneliti di luar Amerika Serikat dapat bekerja, dan seberapa cepat fitur-fitur AI akan terintegrasi ke dalam produk-produk yang kita gunakan sehari-hari.
Anthropic kini berada dalam posisi yang sangat rumit. Di satu sisi, mereka ingin tampil sebagai penjaga etika AI dan penggerak keselamatan. Namun di sisi lain, mereka tidak ingin dicap sebagai penyebab lahirnya kebijakan larangan ekspor AI. Ke depan, perhatian publik tidak hanya akan tertuju pada performa model Mythos atau Fable, tetapi juga pada apakah pemerintah Amerika Serikat akan mulai menjadikan pembatasan akses model AI sebagai alat kebijakan standar. Hal ini diprediksi akan menjadi cerita besar berikutnya dalam evolusi industri AI global.











