Amerika Serikat menunjukkan ketidakpuasan terhadap Malaysia menyusul janji Perdana Menteri Anwar Ibrahim untuk mendeportasi warga negara Israel. Sikap tegas AS ini memicu kekhawatiran akan potensi pemutusan hubungan keamanan dan ekonomi antara kedua negara.
Ketegangan ini bermula dari pernyataan Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, yang menegaskan komitmen negaranya untuk mendeportasi warga negara Israel yang berada di Malaysia. Langkah ini diambil sebagai respons terhadap situasi di Gaza.
Menanggapi janji tersebut, Kongres Amerika Serikat telah menyuarakan keprihatinan mendalam. Sejumlah anggota Kongres mendesak adanya peninjauan ulang terhadap seluruh aspek hubungan bilateral, khususnya yang berkaitan dengan kerja sama keamanan dan kemitraan ekonomi. Desakan ini menunjukkan bahwa isu deportasi warga Israel telah menjadi perhatian serius bagi para pembuat kebijakan di AS.
Meskipun tidak ada pernyataan resmi yang secara gamblang menyatakan ancaman pemutusan hubungan, desakan dari Kongres AS ini mengindikasikan adanya ketidaknyamanan yang signifikan. Peninjauan ulang hubungan keamanan dan ekonomi dapat berdampak luas pada berbagai sektor, termasuk potensi penundaan atau pembatalan kerja sama militer, latihan bersama, serta hubungan perdagangan dan investasi antara kedua negara. Situasi ini menempatkan hubungan diplomatik AS-Malaysia pada posisi yang genting, menunggu langkah selanjutnya dari kedua belah pihak.
