Jakarta – Seiring pesatnya transformasi digital dalam transaksi pembayaran di Indonesia, ancaman baru yang lebih sulit dideteksi kini membayangi pelaku industri ritel, perbankan, hingga penyelenggara program loyalitas. Penipuan berbasis gift card digital semakin marak dan berpotensi menggerus pendapatan, bukan karena membobol sistem keamanan, melainkan dengan memanfaatkan celah dalam proses operasional yang sah.
Regal Star, CEO Zentara Technologies, menyoroti fenomena ini dalam Konferensi International Marketing Association (IMA) Europe di Kopenhagen. Ia menjelaskan bahwa bentuk fraud yang paling merusak saat ini tidak lagi selalu melibatkan peretasan sistem secara langsung. Sebaliknya, pelaku penipuan semakin lihai menyamarkan aksinya agar tampak sepenuhnya normal. Banyak perusahaan yang masih berpegang pada harapan bahwa aktivitas mencurigakan akan memicu alarm keamanan standar, padahal transaksi gift card yang disalahgunakan sering kali tidak berbeda dengan aktivitas pelanggan sehari-hari.
"Fraud yang paling merusak saat ini tidak selalu melibatkan peretasan sistem. Sebaliknya, ia menyamar hingga tampak sepenuhnya normal. Banyak perusahaan masih berharap fraud akan memicu alarm keamanan standar, padahal transaksi gift card yang disalahgunakan sering kali terlihat seperti aktivitas pelanggan sehari-hari," ujar Regal Star dalam keterangan tertulisnya pada Rabu, 17 Juni 2026.
Perusahaan keamanan siber yang beroperasi di Jakarta dan Singapura ini mengamati bahwa eksploitasi produk bernilai tersimpan (stored value products) seperti gift card semakin meluas di berbagai negara, termasuk di kawasan Asia Tenggara. Zentara Technologies mengidentifikasi bahwa para pelaku kejahatan siber kini lebih banyak mengeksploitasi kelemahan dalam proses operasional bisnis ketimbang mencoba menyerang infrastruktur teknologi secara frontal.
Pertumbuhan industri gift card di Indonesia memang tidak bisa diabaikan. Didorong oleh meningkatnya tren pemberian hadiah digital dan maraknya program loyalitas yang ditawarkan oleh perusahaan, pasar ini terus berkembang. Data dari Indonesia Gift Card Business and Investment Opportunities Databook memproyeksikan nilai pasar gift card nasional akan mencapai USD2,37 miliar pada tahun 2025. Proyeksi pertumbuhan yang lebih menarik adalah Compound Annual Growth Rate (CAGR) sebesar 9,1%, yang diperkirakan akan membawa nilai pasar ini menyentuh angka sekitar USD3,68 miliar pada tahun 2030.
Skala pasar yang besar ini tentu saja menarik perhatian para pelaku kejahatan. Sifat gift card yang mudah ditransfer dan sulit dilacak jika kodenya telah diakses, menjadikannya instrumen yang ideal untuk berbagai modus penipuan. Salah satu skenario yang umum terjadi adalah penipuan melalui telepon atau surel, di mana korban diminta untuk membeli gift card sebagai bentuk pembayaran atas denda palsu, tagihan yang tidak ada, atau untuk memenangkan undian fiktif. Setelah korban membeli dan memberikan kode gift card, dana tersebut langsung lenyap.
Dampak dari penipuan ini tidak hanya dirasakan oleh konsumen, tetapi juga oleh para pelaku bisnis. Bagi peritel, penipuan gift card dapat menyebabkan kerugian finansial langsung jika gift card yang digunakan berasal dari hasil pencurian atau penipuan. Selain itu, insiden ini dapat merusak reputasi merek jika konsumen merasa tidak aman dalam bertransaksi. Bank dan lembaga keuangan juga menghadapi risiko, terutama jika mereka menjadi penerbit atau fasilitator transaksi gift card.
Program loyalitas yang mengandalkan gift card sebagai insentif juga rentan. Jika sistem mereka tidak mampu mendeteksi aktivitas penipuan, nilai hadiah yang seharusnya mengikat pelanggan bisa disalahgunakan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab, mengurangi efektivitas program dan mengikis kepercayaan.
Untuk mengatasi tantangan ini, perusahaan seperti Zentara Technologies menawarkan solusi keamanan yang lebih canggih. Alih-alih hanya mengandalkan deteksi berbasis aturan (rule-based detection) yang mudah diakali, pendekatan yang lebih efektif adalah dengan menggunakan kecerdasan buatan (AI) dan pembelajaran mesin (machine learning). Teknologi ini mampu menganalisis pola transaksi secara real-time, mengidentifikasi anomali yang mungkin luput dari sistem tradisional, dan memberikan peringatan dini terhadap potensi penipuan.
Analisis perilaku pengguna (user behavior analytics) menjadi kunci penting. Dengan memahami pola normal transaksi seorang pelanggan, sistem dapat mendeteksi penyimpangan yang signifikan, seperti pembelian gift card dalam jumlah besar secara tiba-tiba, penggunaan gift card di lokasi yang tidak biasa, atau aktivitas yang tidak sesuai dengan profil pengguna.
Keterbatasan dalam mendeteksi fraud gift card ini menunjukkan bahwa keamanan siber perlu terus beradaptasi dengan modus kejahatan yang semakin canggih. Kolaborasi antara pelaku industri, regulator, dan penyedia solusi keamanan menjadi krusial untuk membangun ekosistem digital yang lebih aman. Edukasi publik mengenai modus penipuan yang beredar juga sangat penting untuk memberdayakan konsumen agar lebih waspada dan tidak mudah terjebak.
Di tengah pertumbuhan ekonomi digital yang terus melaju, ancaman penipuan gift card ini menjadi pengingat bahwa inovasi teknologi harus dibarengi dengan langkah-langkah keamanan yang adaptif dan proaktif. Tanpa upaya bersama, potensi kerugian finansial dan hilangnya kepercayaan konsumen akan terus menghantui.











