Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan peringatan keras mengenai potensi krisis energi global jika jalur pelayaran vital Selat Hormuz tidak segera dibuka. Menurut Trump, cadangan minyak global bisa terkuras habis hanya dalam waktu empat minggu jika situasi ini berlanjut tanpa adanya kesepakatan dengan Iran. Pernyataan ini disampaikan di sela Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G7 di Prancis, menyoroti betapa krusialnya Selat Hormuz bagi pasokan energi dunia.
Trump tidak merinci secara spesifik cadangan minyak negara mana yang dimaksud, apakah hanya Amerika Serikat atau cadangan global secara keseluruhan. Namun, ia menekankan bahwa situasi ini akan membawa konsekuensi yang sangat serius. "Cadangan (minyak) kami akan habis dalam waktu empat pekan," ujar Trump, merujuk pada urgensi kesepahaman (MoU) dengan Iran, seperti dikutip dari The Hill. Ia menambahkan, "Anda tahu, ada cadangan di seluruh dunia, dan kita akan benar-benar kehabisan, dan akan ada saatnya kita tidak bisa mendapatkannya lagi."
Presiden AS itu menggarisbawahi bahwa pembukaan Selat Hormuz melalui kesepakatan dengan Iran sangat vital untuk menjaga kelancaran pelayaran kapal-kapal tanker minyak. "Kesepakatan Iran ini memungkinkan kapal-kapal itu untuk berlayar," jelasnya. "Jika kita terus membom, kapal-kapal itu tidak akan berlayar," tegas Trump, menyiratkan kemungkinan eskalasi konflik yang bisa semakin memperburuk situasi.
Pernyataan Trump ini muncul menyusul penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Amerika Serikat dan Iran pada Rabu, yang dilakukan secara terpisah tanpa pertemuan tatap muka. MoU tersebut dikabarkan mencakup elemen-elemen krusial seperti upaya penghentian perang dan pembukaan kembali Selat Hormuz. Penutupan jalur pelayaran strategis ini telah berlangsung sejak awal Maret, menyusul operasi yang diduga diciptakan oleh Amerika Serikat dan Israel.
Gangguan terhadap jalur distribusi minyak global akibat perang dan penutupan Selat Hormuz terjadi di tengah kondisi pasokan minyak dunia yang memang sudah menipis. Sebelum krisis ini memuncak, sekitar seperlima dari total konsumsi minyak dunia dialirkan melalui Selat Hormuz, menjadikannya salah satu arteri energi terpenting di dunia. Ketidakpastian pasokan ini telah menimbulkan kekhawatiran signifikan di kalangan negara-negara konsumen minyak.
Badan Energi Internasional (IEA) sendiri telah berulang kali menyuarakan keprihatinan serupa. Pada Mei lalu, IEA memperingatkan potensi penurunan cadangan minyak global. Kepala IEA, Fatih Birol, menyatakan bahwa perang yang berlanjut dan penutupan Selat Hormuz dapat membuat persediaan cadangan minyak hanya cukup untuk beberapa pekan ke depan. IEA juga memberikan peringatan bahwa permintaan minyak pada tahun ini berpotensi melebihi pasokan yang tersedia, sebuah skenario yang dapat memicu lonjakan harga energi secara drastis.
Menanggapi kekhawatiran ini, Amerika Serikat dan negara-negara anggota IEA lainnya telah mengambil langkah darurat di awal konflik. Mereka mengumumkan pelepasan minyak dari cadangan strategis masing-masing untuk menambah pasokan di pasar global, dengan total penambahan mencapai 400 juta barel. Amerika Serikat secara khusus menyatakan akan melepas 172 juta barel dari cadangan minyak strategisnya. Pelepasan ini dijadwalkan akan berlangsung selama periode 120 hari.
Sebelumnya, cadangan minyak strategis Amerika Serikat tercatat sekitar 415 juta barel. Dengan pelepasan tambahan 172 juta barel, jumlah cadangan tersebut diperkirakan akan menyusut menjadi sekitar 243 juta barel, kecuali jika ada penambahan atau pengurangan lain yang tidak terduga. Langkah ini diambil untuk meredam dampak gangguan pasokan dan menstabilkan harga minyak di pasar internasional.
Namun, pernyataan Trump kini menyoroti bahwa langkah-langkah tersebut mungkin belum cukup untuk mengatasi ancaman jangka panjang jika Selat Hormuz tetap tertutup. Potensi kekacauan ekonomi dan sosial akibat kelangkaan energi yang parah menjadi risiko nyata yang dihadapi dunia. Kesepakatan dengan Iran menjadi kunci yang sangat diharapkan oleh banyak pihak untuk mencegah skenario terburuk tersebut. Perkembangan selanjutnya terkait negosiasi dan pembukaan kembali jalur pelayaran strategis ini akan terus menjadi sorotan utama dalam menjaga stabilitas pasokan energi global.











