Sebuah bangunan yang selama ini diagung-agungkan sebagai salah satu amfiteater Romawi tertua di dunia, yang diklaim berusia 2.000 tahun, kini terungkap sebagai sebuah rekayasa modern. Klaim keaslian situs bersejarah yang terletak di dekat kota Allepuz, Spanyol, ini terbantahkan setelah penelitian arkeologi mendalam.
Temuan ini mengejutkan banyak pihak, terutama mengingat promosi gencar yang telah dilakukan selama bertahun-tahun mengenai nilai historis situs tersebut. Bangunan ini bahkan sempat diidentifikasi oleh para ahli pada awal abad ke-21 sebagai peninggalan penting dari era Romawi.
Namun, analisis yang dilakukan oleh tim arkeolog dari Universitas Zaragoza, yang dipimpin oleh Profesor Philip Sablayrolles, menunjukkan hasil yang berbeda. Setelah melakukan penggalian dan pengujian material, tim tersebut menyimpulkan bahwa situs tersebut bukanlah amfiteater Romawi asli.
Menurut laporan yang dipublikasikan dalam jurnal Arqueologia & Patrimonio, bangunan tersebut sebenarnya dibangun pada akhir abad ke-20, sekitar tahun 1990-an. Hal ini berbeda jauh dari klaim awal yang menyebutkan usia 2.000 tahun.
Sablayrolles menjelaskan, “Kami menemukan bahwa material yang digunakan untuk membangun bangunan tersebut tidak sesuai dengan teknologi dan bahan yang digunakan pada zaman Romawi.” Ia menambahkan bahwa terdapat beberapa elemen konstruksi yang jelas berasal dari era modern.
Penelitian ini juga menyoroti adanya praktik yang kurang transparan dalam identifikasi dan promosi situs arkeologi. Para peneliti menyarankan agar setiap klaim mengenai situs bersejarah harus didukung oleh bukti arkeologi yang kuat dan terverifikasi sebelum dipublikasikan secara luas.
Kasus amfiteater ‘Romawi’ Allepuz ini menjadi pengingat penting akan perlunya ketelitian dan verifikasi ilmiah dalam bidang arkeologi, terutama ketika menyangkut penentuan usia dan keaslian sebuah situs bersejarah yang berpotensi menarik perhatian publik dan wisatawan.
