Amerika Serikat 250 Tahun Merdeka: Sorotan Kemegahan dan Luka Sejarah Suku Asli

Heni Maulidya

Memasuki usia 250 tahun kemerdekaan, Amerika Serikat bersiap menggelar perayaan akbar yang dijadwalkan pada 4 Juli 2026. Peringatan penting ini, yang juga dikenal sebagai Semiquincentennial, akan diwarnai berbagai acara monumental. Presiden Amerika Serikat saat itu, Donald Trump, merencanakan agenda besar di National Mall, Washington D.C.

Perayaan ini tidak hanya akan menampilkan pidato kenegaraan dan rapat umum. Sebuah peluncuran kembang api terbesar dalam sejarah dunia dijadwalkan menjadi puncak acara, diselenggarakan oleh Freedom 250. Organisasi ini meyakini bahwa momen 250 tahun kemerdekaan akan menjadi kenangan tak terlupakan bagi generasi Amerika.

Freedom 250 menjanjikan pengalaman luar biasa, termasuk penerbangan lintas pertama ke Bulan sejak 1972. Ratusan ribu pengunjung diprediksi akan memadati area Monumen Washington. Mereka akan disuguhi pertunjukan udara, demonstrasi akrobatik, dan siaran langsung malam hari yang klimaksnya adalah pesta kembang api spektakuler.

Sebelumnya, Donald Trump pernah menyoroti agenda pemerintahannya dalam pidato di Mount Rushmore. Berlatar belakang patung para presiden pendiri, ia mengajak warga merayakan sejarah dan pencapaian bangsa. Trump juga sempat menyinggung isu kebangkitan komunisme dan tantangan terhadap identitas Amerika. "Anda tidak harus lahir di sini, tetapi Anda harus mencintai apa yang telah kita bangun," ujarnya kala itu.

Perjalanan kemerdekaan Amerika Serikat bermula dari Deklarasi Kemerdekaan yang diadopsi Kongres Kontinental pada 4 Juli 1776. Dokumen bersejarah ini menandai pemutusan hubungan 13 koloni Amerika dengan Britania Raya. Deklarasi ini menjadi landasan krusial untuk menggalang aliansi resmi dengan Prancis, yang kemudian memberikan bantuan dalam perang melawan Inggris.

Ketegangan antara kolonis Amerika Utara dan kebijakan imperial Inggris memuncak pada akhir 1760-an dan awal 1770-an. Kebijakan perpajakan dan perbatasan yang memberatkan memicu protes. Ketika upaya rekonsiliasi gagal, penutupan Pelabuhan Boston dan deklarasi darurat militer di Massachusetts mendorong pemerintah kolonial untuk berkoordinasi melalui Kongres Kontinental.

Perlawanan bersenjata pecah antara kolonis dan pasukan Inggris di Massachusetts. Kongres Kontinental bekerja sama dengan kelompok lokal untuk mengoordinasikan perlawanan. Otoritas Inggris semakin tertantang oleh pemerintahan lokal informal, meskipun sentimen loyalis masih kuat di beberapa wilayah.

Menjelang musim dingin 1775-1776, rekonsiliasi dengan Inggris dianggap mustahil. Kemerdekaan menjadi satu-satunya pilihan. Larangan perdagangan oleh Parlemen Inggris pada Desember 1775 dijawab Kongres dengan membuka pelabuhan kolonial pada April 1776.

Pamflet "Common Sense" karya Thomas Paine, yang terbit Januari 1776, kian mengobarkan semangat kemerdekaan. Diskusi mengenai aliansi asing pun mulai mengemuka. Pada 7 Juni 1776, Richard Henry Lee mengajukan mosi kemerdekaan. Meskipun beberapa koloni belum siap, Kongres membentuk komite penyusun deklarasi yang dipimpin Thomas Jefferson.

Dalam deklarasi tersebut, Jefferson merumuskan kalimat legendaris: "Kami menganggap kebenaran-kebenaran ini mutlak, bahwa semua orang diciptakan sama, bahwa mereka oleh Tuhan dikaruniai beberapa hak tertentu yang tak dapat diganggu gugat, bahwa di antaranya ialah hidup, kemerdekaan, dan usaha mencapai kebahagiaan."

Namun, di balik kemegahan perayaan ini, sejarah kelam hubungan Amerika Serikat dengan suku asli (Indian) terus membayangi. Gugatan dan tuntutan terkait pelanggaran hak dan wilayah oleh suku-suku asli Amerika masih menjadi isu yang belum terselesaikan. Perjuangan mereka untuk mendapatkan pengakuan dan keadilan terus berlanjut, melengkapi narasi kompleks peringatan 250 tahun kemerdekaan Amerika Serikat.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All