Serangkaian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda Indonesia, khususnya di wilayah Kalimantan dan Sumatra, tidak semata-mata disebabkan oleh fenomena El Nino. Analisis menunjukkan bahwa aktivitas manusia menjadi faktor dominan pemicu terjadinya bencana ekologis ini, meskipun musim kemarau yang diperparah oleh El Nino memang menciptakan kondisi yang sangat rentan terhadap api.
Pernyataan ini diperkuat oleh berbagai pihak, termasuk Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). BMKG sendiri telah menegaskan bahwa meski El Nino berkontribusi pada peningkatan suhu dan penurunan curah hujan, pola kebakaran yang terjadi sangat berkaitan dengan tindakan manusia. “El Nino ini memang menciptakan kondisi yang kering, tapi itu bukan satu-satunya penyebab utama,” ujar Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, dalam sebuah kesempatan.
Penyebab utama kebakaran yang seringkali terjadi adalah pembukaan lahan dengan cara membakar. Praktik ini umum dilakukan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab untuk membersihkan lahan perkebunan atau pertanian. Kebiasaan lama ini, yang seharusnya sudah ditinggalkan, tetap saja menjadi akar masalah karhutla yang berulang setiap tahunnya, terutama di provinsi-provinsi yang menjadi langganan kebakaran.
Penggunaan api sebagai metode pembukaan lahan, baik untuk perkebunan kelapa sawit maupun komoditas lainnya, telah menjadi modus operandi yang terus menerus terjadi. Hal ini diperparah oleh kondisi geografis dan cuaca. Musim kemarau yang diprediksi akan berlangsung hingga bulan September 2023, ditambah dengan dampak El Nino yang membuat cuaca semakin kering dan panas, menciptakan kondisi yang ideal bagi api untuk menyebar dengan cepat dan sulit dikendalikan.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, juga menekankan pentingnya peran manusia dalam mencegah dan memadamkan kebakaran. Ia mengungkapkan bahwa penanganan karhutla memerlukan upaya kolaboratif dari berbagai pihak, mulai dari pemerintah, masyarakat, hingga sektor swasta. Edukasi mengenai bahaya kebakaran dan larangan membakar lahan perlu terus digalakkan agar kesadaran masyarakat meningkat.
Lebih lanjut, data menunjukkan bahwa titik api yang terdeteksi oleh satelit acapkali berada di area yang berdekatan dengan aktivitas perkebunan atau lahan yang baru dibuka. Hal ini semakin menguatkan dugaan bahwa pembakaran adalah metode pembukaan lahan yang masih marak digunakan. Meskipun upaya pemadaman terus dilakukan oleh tim gabungan, pencegahan dari akar masalah, yaitu aktivitas pembakaran lahan oleh manusia, menjadi kunci utama untuk menghentikan siklus tahunan karhutla di Indonesia.
