Jakarta – Kisah inspiratif dan penuh determinasi datang dari arena Kejuaraan Pencak Silat Tingkat Nasional Piala Presiden 2026. Octa Anggriyani, seorang pesilat muda berbakat asal Lampung, menunjukkan semangat juang yang luar biasa dengan menempuh perjalanan mandiri ke ibu kota, bahkan tanpa didampingi pelatih, demi menggapai mimpinya meraih medali di ajang bergengsi ini. Perjuangannya menjadi cerminan nyata dari keteguhan hati atlet muda Indonesia yang tak gentar menghadapi segala keterbatasan demi mengharumkan nama daerah dan olahraga pencak silat.
Atlet yang kini duduk di bangku kelas 12 sekolah menengah atas (SMA) ini tiba di Padepokan Pencak Silat Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur, pada Kamis (25/6) malam sekitar pukul 23.00 WIB. Kedatangannya di tengah malam itu menandai berakhirnya perjalanan lintas pulau yang cukup panjang dan melelahkan, ditempuh seorang diri menggunakan transportasi umum seperti travel dan kapal laut dari Lampung menuju hiruk pikuk Jakarta. Bagi seorang remaja, menavigasi perjalanan antarpulau sendirian tentu bukan perkara mudah, melibatkan tantangan fisik dan mental yang signifikan.
Octa Anggriyani mewakili Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) Ranting Panjang, Bandar Lampung, sebuah perguruan pencak silat yang memiliki sejarah panjang dan ribuan anggota di seluruh Indonesia. Kehadirannya di Piala Presiden 2026 menjadi kehormatan bagi rantingnya, namun keberangkatan Octa sejatinya diselimuti banyak tantangan yang hampir menggagalkan mimpinya. Pendaftaran yang dilakukan mepet menjelang penutupan menjadi kendala awal, ditambah lagi dengan kabar bahwa pelatihnya tidak bisa mendampingi karena urusan mendadak.
Situasi tersebut nyaris membuat Octa membatalkan partisipasinya di Kejuaraan Pencak Silat Tingkat Nasional Piala Presiden 2026, sebuah ajang yang sangat ia dambakan dan persiapkan. Namun, nasib baik berpihak pada kegigihan Octa. Berkat rekam jejaknya yang gemilang, termasuk sukses menyabet juara 1 pada IPB Championship di Bogor sebelumnya, seorang dermawan tergerak untuk memberikan bantuan. Sosok dermawan ini memfasilitasi seluruh akomodasi dan biaya pendaftarannya, memastikan Octa tetap bisa berkompetisi di panggung nasional.
Dukungan finansial dan logistik dari pihak ketiga ini sangat krusial, mengingat seringkali atlet muda dari daerah harus berjuang dengan keterbatasan dana untuk bisa berkompetisi di tingkat nasional. Bantuan ini tidak hanya meringankan beban Octa, tetapi juga menjadi bukti bahwa semangat gotong royong dan kepedulian terhadap pengembangan talenta olahraga masih hidup di tengah masyarakat. Ini memungkinkan Octa, yang telah berlatih pencak silat sejak kelas 7 SMP, untuk fokus pada pertandingan.
"Saya dari Lampung ke sini baru nyampe tadi malam jam 11, naik travel. Habis itu naik kapal," ujar Octa saat ditemui CNN Indonesia pada Jumat (26/6) di Padepokan Pencak Silat TMII. Ia menambahkan, "Tadinya kata pelatih enggak jadi karena ada urusan. Habis itu dadakan berangkat, jam 11 malam sampai sini, karena pelatihnya enggak bisa dampingi." Pengakuannya ini menggambarkan perjuangan tak kenal lelah yang ia tempuh, menunjukkan dedikasinya yang mendalam terhadap olahraga bela diri tradisional Indonesia ini.
Kejuaraan Pencak Silat Tingkat Nasional Piala Presiden 2026 sendiri merupakan turnamen berskala besar dan sangat prestisius, diinisiasi oleh CNN Indonesia bersama Pengurus Besar Ikatan Pencak Silat Indonesia (PB IPSI). Digelar selama empat hari, mulai 25 hingga 28 Juni 2026, di Padepokan Pencak Silat TMII, Jakarta, ajang ini menjadi magnet bagi sekitar 2.000 pesilat dari berbagai daerah di seluruh Indonesia. Kompetisi ini mempertandingkan dua kategori utama, yakni Tanding dan Seni, yang dibagi lagi dalam berbagai tingkat usia mulai dari SD, SMP, hingga SMA/SMK.
Octa Anggriyani sendiri turun di kelas remaja kategori tanding (prestasi), sebuah kategori yang menuntut kekuatan fisik, teknik, dan mental yang tinggi dari para pesilat. Menghadapi turnamen terbesar yang pernah diikutinya tanpa didampingi orang tua, rekan setim, maupun pelatih, Octa tidak menampik adanya rasa grogi atau deg-degan. Suasana kompetisi yang ramai dengan ribuan atlet dan penonton, serta tekanan untuk tampil maksimal seorang diri, tentu menjadi tantangan mental yang tidak bisa diremehkan bagi atlet muda seperti Octa.
Meskipun demikian, modal sebagai juara tingkat nasional dalam sebuah turnamen di Bogor sebelumnya memberinya kepercayaan diri yang penting. Pengalaman meraih podium tertinggi di IPB Championship menjadi bekal mental yang berharga, memupuk keyakinan di tengah kepungan ribuan kompetitor tangguh. Ia sadar betul bahwa persiapan mendadak dan ketiadaan pendamping bisa menjadi penghalang, namun semangat pantang menyerahnya lebih besar dari segala keraguan.
"Kurang pede [percaya diri], tapi ya… bisa dipede-pedein. Karena ini enggak ada persiapan sama dadakan juga," ucap Octa dengan tetap menebar senyuman. Pengakuan jujurnya ini justru menyoroti kekuatan mentalnya yang luar biasa, kemampuan untuk mengubah keraguan menjadi motivasi untuk tampil maksimal di setiap pertandingan. Ini adalah karakter yang membedakan seorang juara, bahkan di tengah situasi yang kurang ideal, membuktikan bahwa keyakinan diri adalah kunci utama.
Meski datang dengan segala keterbatasan dan tantangan yang mengiringi, Octa Anggriyani enggan sekadar jadi penggembira di panggung nasional ini. Pesilat yang mengidolakan aktor laga Ali Fikry ini tetap mengusung target tinggi untuk membawa pulang medali dari Jakarta. "Harapan ya, bisa membawa medali, kalau ya paling minim perak lah," ucapnya dengan nada optimistis, mencoba menepis segala kegundahan yang menyelimutinya. Target ini menunjukkan ambisinya yang besar untuk mengharumkan nama daerah dan perguruannya di kancah pencak silat nasional.
Kisah perjuangan Octa Anggriyani bukan hanya tentang kompetisi olahraga semata, melainkan juga tentang ketahanan, keberanian, dan tekad seorang remaja yang siap menghadapi segala rintangan demi mengejar impian. Kehadirannya di ajang seprestisius Piala Presiden 2026, meskipun dengan segala keterbatasan, diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi atlet-atlet muda lainnya untuk tidak menyerah pada keadaan. Ini juga menjadi pengingat akan pentingnya dukungan dan perhatian dari berbagai pihak untuk pengembangan potensi olahraga di Indonesia, memastikan talenta-talenta muda seperti Octa mendapatkan kesempatan terbaik untuk bersinar.











