Fenomena Drachin: Mengapa Pria Indonesia Kini Terbius Drama China Mikro, dari Lepas Penat hingga Raup Rupiah?

Danu Ilham

Demam drama pendek asal China atau yang akrab disebut "drachin" tengah melanda berbagai kalangan masyarakat di Indonesia, termasuk kaum pria. Apa yang awalnya hanya sekadar iseng, kini berubah menjadi candu yang mendalam, bahkan melahirkan komunitas-komunitas penggemar dan membuka peluang pendapatan tak terduga. Kisah Icuk, seorang pemandu wisata dari Banyumas, Jawa Tengah, dan Catur, pengemudi ojek daring di Tangerang Selatan, menjadi potret nyata bagaimana pesona drachin telah menjerat banyak pria Indonesia.

Icuk, yang di komunitasnya dijuluki "Raja Utara," awalnya tak sengaja terpapar cuplikan drachin di media sosial. Dari sana, tontonan singkat ini dengan cepat bertransformasi menjadi ritual wajib sebelum tidur. Setiap malam, Icuk bisa menamatkan satu judul drama, yang meskipun per episodenya hanya berdurasi 1-3 menit, totalnya bisa mencapai 100 episode dan menghabiskan sekitar dua jam. Rutinitas ini sering membuatnya begadang hingga dini hari demi menuntaskan rasa penasaran. "Sama itu. Kalau malam pada susah dihubungi karena lagi nonton drachin. Aku juga kalau ditelepon kadang susah pas malam, Raja Utara lagi drachin," ujarnya sambil tergelak. Menariknya, hobi ini tak hanya sekadar hiburan, melainkan juga bisa menghasilkan uang hingga ratusan ribu rupiah dari aplikasi tertentu.

Tak jauh berbeda, Catur, seorang pengemudi ojek daring, mengaku bisa menghabiskan berjam-jam menonton drachin. Kecanduannya terkadang membuatnya kesiangan saat mencari penumpang. Namun, di sela-sela waktu menunggu orderan, ia kembali melanjutkan maraton drachin. Catur bahkan sering bertukar rekomendasi judul dengan sesama pengemudi ojek daring yang juga terbius drama serupa. "Padahal ceritanya sama aja ya. CEO yang menyamar, drama kerajaan, menantu yang dijahatin mertua. Muter-muter aja. Tapi kok ya seru gitu tiap nonton," tuturnya dengan tawa. Kisah Icuk dan Catur hanyalah sebagian kecil dari fenomena yang lebih besar; Menteri Keuangan RI, Purbaya Yudhi Sadewa, bahkan sempat menyebut drama China sebagai salah satu cara menghilangkan lelah dan kepusingan.

Komunitas yang diinisiasi Icuk di Banyumas kini beranggotakan sekitar 40 orang, dengan mayoritas adalah pria. Komunitas ini menjadi wadah bagi para penggemar drachin di sekitar Banyumas, Purworejo, Cilacap, Purwokerto, Brebes, dan Kebumen untuk berbagi minat, bahkan mengadakan acara seperti buka puasa dan nonton bareng yang sekaligus mendukung UMKM lokal. Grup-grup penggemar di media sosial juga semakin hidup, saling berbagi informasi tentang jadwal kunjungan artis atau gosip terbaru. Hal ini menunjukkan bahwa kecintaan terhadap drachin telah membentuk ikatan sosial yang kuat.

Secara demografi, data dari Media Partners Asia (MPA) pada kuartal pertama 2026 menunjukkan peningkatan signifikan jangkauan konten drama China di Asia Tenggara, dengan Indonesia sebagai pasar dengan pertumbuhan tercepat di berbagai platform digital. Aplikasi iQIYI, misalnya, melaporkan lonjakan pelanggan berbayar hingga lima kali lipat per April 2026, dengan persentase pelanggan laki-laki yang terus menanjak, menunjukkan pergeseran tren yang menarik.

Lantas, mengapa drama China begitu digemari, khususnya di kalangan pria? Anggota komite film Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), Gietty Tambunan, menilai popularitas ini sebagai bentuk eskapisme. Menurut Gietty, eskapisme dapat menjadi cara seseorang untuk "mengambil kembali waktu untuk diri sendiri" di tengah kesibukan hidup. Ia membandingkannya dengan para ibu yang mencari pelarian dalam sinetron. Bagi para pria yang menonton drachin setelah bekerja atau di sela kesibukan, tujuan utamanya adalah mencari pelarian dari penatnya rutinitas sehari-hari.

Kemudahan akses menjadi salah satu kunci. Cuplikan adegan drachin yang sering berseliweran di media sosial dengan akhir yang menggantung (cliffhanger) secara efektif memancing rasa ingin tahu. "Itu human nature memang. Selalu pengin tahu kan bagaimana selesainya," jelas Gietty. Ketika akhir cerita seringkali happy ending, hal ini menambah rasa suka karena pada dasarnya manusia mencari kebahagiaan yang mungkin sulit ditemukan dalam kehidupan nyata. Drachin, dengan ceritanya yang sederhana, tidak berbelit, dan mudah diakses melalui gawai secara vertikal, menawarkan kebahagiaan sesaat di mana yang jahat pasti kalah dan yang baik pasti menang.

Konsep episode yang sangat pendek, hanya 1-3 menit per episode dengan total 60-100 episode per judul, memanfaatkan efek Zeigarnik dalam psikologi. Efek ini menjelaskan bahwa orang cenderung sulit melepaskan diri dari urusan yang belum selesai. Strategi ini, seperti "kue yang dijual per potong," membuat penonton terus terpancing untuk menonton episode selanjutnya tanpa berpikir panjang. Icuk mengakui awalnya ia sebal dengan drachin yang wara-wiri di media sosial, namun akhirnya terpancing dan tak bisa berhenti karena ceritanya yang menarik, dari drama kerajaan, klasik, hingga CEO. Ia juga merasa drachin memberinya waktu sendiri dan kesempatan untuk membayangkan kehidupan lain, seperti menjadi CEO atau hidup di masa kerajaan. Catur menambahkan, drachin menjadi pelarian dari tekanan ekonomi dan pekerjaan. "Bisa ketawa karena kadang kan aktingnya tuh kadang lebay atau malah kaku… Tapi bisa ngimpi juga kalau tiba-tiba ternyata ketemu CEO yang nyamar, bisa ikut kecipratan juga kan lumayan," candanya.

Namun, popularitas drachin juga diiringi dengan regulasi ketat dari pemerintah China. Cerita mengenai CEO yang jatuh cinta pada perempuan miskin kini dilarang karena dianggap mengagungkan kekayaan dan memberikan impian sukses instan yang semu. Administrasi Radio dan Televisi Nasional China melakukan inspeksi ketat terhadap konten yang menampilkan pornografi ringan, "pandangan menyimpang tentang pernikahan dan hubungan," serta "pamer kekayaan yang mencolok." Langkah ini merupakan bagian dari upaya pemerintah China di bawah Presiden Xi Jinping untuk membentuk norma sosial, mendorong pernikahan, dan mencegah ideologi yang dianggap merugikan, termasuk materialisme. Produksi drama mikro berprofil tinggi dan sensitif kini harus mendapat persetujuan pihak berwenang, dan platform besar seperti WeChat dan Douyin gencar menghapus materi yang tidak sesuai.

Secara global, industri drama mikro China tumbuh pesat sejak akhir 2010-an, didistribusikan melalui platform digital milik ByteDance, Tencent, dan Kuaishou. Ekspansinya mencapai momentum puncaknya selama pandemi 2020-2021. Jurnal "Micro-Drama: From Chinese Phenomenon to Global Trend" mencatat, industri ini meraup pendapatan 37,39 miliar yuan (sekitar Rp94 triliun) pada 2023, naik 267,65% dari tahun sebelumnya. Prediksi iResearch bahkan menyebut pendapatan bisa menembus 100 miliar yuan (sekitar Rp251,3 triliun) pada 2027. Ribuan studio kecil di China berlomba memproduksi drama mikro vertikal dengan biaya rendah, sekitar US$150 ribu hingga US$300 ribu (sekitar Rp2,5 miliar) per seri, dengan syuting hanya 8-10 hari dan mengandalkan aktor baru. Model ini berbeda dengan Quibi di AS yang gagal karena biaya produksi tinggi dan penggunaan aktor papan atas Hollywood. Dengan pertumbuhan tahunan majemuk di atas 16%, drama mikro diprediksi menjadi industri hiburan digital tercepat di dunia.

Data SensorTower pada triwulan I-2025 menunjukkan Amerika Serikat menyumbang pendapatan terbesar (hampir 50% dengan 100 juta unduhan), diikuti Asia Tenggara dengan 88,8 juta unduhan, China (44,4 juta), India (40,7 juta), dan Eropa (25,9 juta). Tingginya permintaan ini mendorong adaptasi drama mikro China oleh berbagai negara, termasuk Korea Selatan. Sutradara Korea, Kang Mi-so, menekankan pentingnya "momen-momen spektakuler untuk mencuri perhatian dalam sekejap" dalam produksi drama mikro, mengingat persaingan dengan aktivitas menggulir layar. Strategi pemasaran yang memberikan 5-10 episode pertama gratis sebelum beralih ke aplikasi berbayar terbukti efektif, bahkan mengungguli pendapatan box office di China pada 2024. Industri drama mikro Korea Selatan, seperti yang diungkapkan Neil Choi, CEO Vigloo, salah satu aplikasi drama pendek terbesar di sana, telah menunjukkan kelas dunia. Bahkan, kecerdasan buatan (AI) kini menjanjikan biaya produksi yang lebih rendah dan peluang lebih besar, dengan industri drama mikro China yang mulai beralih memanfaatkan AI.

Di Indonesia, pengaruh drachin juga sangat besar. Rick Masran dari Vision+ menjelaskan bahwa rumah produksinya telah memproduksi drama mikro Indonesia sejak tahun lalu, dengan 12 hingga 15 judul per bulan. Penonton drama mikro Indonesia ini bahkan melejit dibandingkan drachin asli Mandarin. Fenomena ini menunjukkan bahwa industri kreatif lokal mampu mengadaptasi tren global untuk memenuhi selera pasar domestik.

Pada akhirnya, pesatnya pertumbuhan drachin, baik dari sisi produksi, konsumsi, hingga pembentukan komunitas, adalah cerminan kebutuhan mendasar masyarakat modern akan hiburan dan pelarian yang mudah diakses di tengah beban hidup. Drachin, dengan segala karakteristik uniknya, telah berhasil mengisi celah tersebut, menawarkan kebahagiaan sesaat dan imajinasi yang tak terbatas, tanpa membutuhkan banyak syarat.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All