Berat badan berlebih terbukti menjadi faktor signifikan yang mempercepat keausan pada sendi lutut. Kondisi ini tidak hanya meningkatkan beban mekanis pada persendian, tetapi juga memicu peradangan kronis yang dapat berujung pada atau memperparah kondisi osteoartritis lutut.
Penelitian terbaru menyoroti bagaimana akumulasi lemak tubuh yang berlebihan memberikan tekanan ekstra pada tulang rawan lutut. Tekanan ini, ditambah dengan respons inflamasi yang dipicu oleh jaringan adiposa, menciptakan lingkungan yang merusak bagi sendi. Akibatnya, tulang rawan yang berfungsi sebagai bantalan antara tulang-tulang di lutut menjadi lebih cepat terkikis.
Menurut dr. Siti Aminah, Sp.OT(K), seorang spesialis ortopedi, “Obesitas adalah beban tambahan yang sangat dirasakan oleh sendi penopang tubuh seperti lutut. Bukan hanya soal berat, tapi juga peradangan yang dikeluarkan oleh jaringan lemak itu sendiri.” Ia menambahkan bahwa kondisi ini secara progresif merusak struktur lutut, sehingga meningkatkan risiko seseorang untuk mengalami osteoartritis atau mempercepat perkembangannya jika sudah ada.
Osteoartritis lutut adalah kondisi degeneratif yang ditandai dengan nyeri, kekakuan, dan penurunan fungsi lutut. Faktor risiko utama untuk kondisi ini meliputi usia, jenis kelamin, cedera lutut sebelumnya, dan tentu saja, obesitas. Dalam konteks obesitas, perubahan fisiologis yang terjadi pada tubuh pasien secara langsung berkontribusi pada patologi penyakit.
Lebih lanjut, dr. Siti menjelaskan bahwa penanganan berat badan menjadi salah satu pilar penting dalam pencegahan dan pengelolaan osteoartritis lutut. “Mengurangi berat badan, bahkan hanya 5-10% dari total berat badan, sudah dapat memberikan perbedaan yang signifikan terhadap beban dan peradangan di lutut. Ini akan membantu memperlambat laju kerusakan dan mengurangi gejala,” ujarnya.
Upaya penurunan berat badan umumnya melibatkan kombinasi diet sehat dan seimbang serta peningkatan aktivitas fisik secara teratur. Namun, bagi individu dengan osteoartritis lutut yang sudah parah, aktivitas fisik mungkin perlu disesuaikan atau dilakukan di bawah pengawasan profesional untuk menghindari cedera lebih lanjut. Konsultasi dengan dokter atau ahli gizi sangat disarankan untuk mendapatkan panduan yang tepat sesuai kondisi masing-masing.
