Caracas, Venezuela diguncang dua gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,2 dan 7,5 pada Rabu (24/6) malam waktu setempat, memicu kekhawatiran global. Pasalnya, Badan Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) mengeluarkan prediksi yang sangat mengkhawatirkan, memperkirakan jumlah korban tewas akibat bencana alam ini bisa mencapai angka fantastis, antara 10 ribu hingga 100 ribu jiwa. Prediksi mengerikan ini bukan tanpa dasar, melainkan diungkap oleh para ahli dengan menyoroti kerentanan infrastruktur di negara tersebut.
Gempa bumi yang melanda Venezuela itu tidak hanya dirasakan di ibu kota Caracas, tetapi juga di sejumlah wilayah lain, menyebabkan kepanikan massal di kalangan penduduk. Getaran kuat dari dua gempa beruntun tersebut menimbulkan pertanyaan besar mengenai kesiapan infrastruktur Venezuela dalam menghadapi ancaman seismik. Potensi jumlah korban yang diprediksi USGS ini tergolong sangat tinggi, bahkan untuk gempa dengan magnitudo yang besar sekalipun, memicu analisis mendalam dari berbagai pakar.
Seorang ahli teknik sipil terkemuka dari Amerika Serikat memberikan penjelasan krusial di balik prediksi suram tersebut. Menurutnya, alasan utama di balik potensi jatuhnya korban jiwa hingga puluhan ribu, bahkan ratusan ribu orang, adalah banyaknya bangunan tua yang tidak dirancang untuk tahan gempa di Venezuela. Struktur-struktur bangunan yang sudah lapuk ini menjadi sangat rentan runtuh ketika diterpa guncangan hebat.
Kenneth O’Dell, Kepala MHP Structural Engineers dan mantan Presiden Asosiasi Insinyur Struktur California, dalam wawancaranya dengan CNN, menggarisbawahi permasalahan serius ini. Ia menjelaskan bahwa sebagian besar bangunan yang diperkirakan akan mengalami kerusakan parah atau runtuh kemungkinan besar dibangun sebelum awal tahun 1970-an. Periode pembangunan ini sangat penting karena berkaitan erat dengan standar kode bangunan yang berlaku saat itu.
O’Dell menambahkan, jenis bangunan yang paling berisiko adalah struktur beton yang rapuh. Bangunan-bangunan ini didirikan berdasarkan versi kode bangunan lama yang digunakan di Venezuela, yang kemungkinan besar belum memiliki standar ketahanan gempa yang memadai seperti yang kita kenal sekarang. Kode bangunan lama seringkali tidak memperhitungkan secara serius dinamika guncangan gempa bumi, sehingga menyebabkan desain dan material yang digunakan tidak mampu menahan beban lateral akibat getaran.
Kondisi ini sangat kontras dengan perkembangan konstruksi modern. O’Dell menuturkan bahwa Venezuela sebenarnya telah mengadopsi kode internasional sejak saat itu, termasuk standar yang ditetapkan oleh American Concrete Institute (ACI). Adopsi kode-kode internasional ini bertujuan untuk memastikan bangunan-bangunan baru memiliki "kinerja yang lebih baik" dalam menahan guncangan gempa. Artinya, bangunan yang dibangun setelah adopsi kode baru tersebut seharusnya lebih aman dan kokoh.
Namun, keberadaan bangunan-bangunan tua yang belum diretrofit atau diperbarui sesuai standar modern menjadi bom waktu. Kerentanan struktural pada bangunan lama dapat diperparah oleh kurangnya pemeliharaan, degradasi material seiring waktu, dan kemungkinan adanya modifikasi yang tidak sesuai standar. Faktor-faktor ini secara kolektif meningkatkan risiko keruntuhan total saat gempa terjadi, menjebak ribuan orang di dalamnya.
Venezuela sendiri terletak di zona seismik aktif, dekat dengan batas lempeng tektonik Karibia dan Amerika Selatan. Wilayah ini secara alami rentan terhadap aktivitas gempa bumi, menjadikannya suatu keharusan untuk memiliki infrastruktur yang kuat dan tahan gempa. Sejarah menunjukkan bahwa negara-negara di sabuk gempa Pasifik atau "Ring of Fire" dan wilayah batas lempeng lainnya menghadapi tantangan serupa dalam memastikan keselamatan warga mereka dari bencana alam.
Prediksi USGS yang begitu tinggi menyoroti urgensi mitigasi bencana dan penegakan standar bangunan yang ketat di negara-negara rawan gempa. Kode bangunan modern dirancang untuk tidak hanya mencegah keruntuhan total tetapi juga meminimalkan kerusakan struktural, sehingga memberikan waktu bagi penghuni untuk mengevakuasi diri. Tanpa implementasi dan pengawasan yang ketat, serta program retrofitting untuk bangunan lama, risiko kerugian jiwa dan material akan terus membayangi.
Dampak dari prediksi korban tewas hingga 100 ribu jiwa ini akan sangat menghancurkan bagi Venezuela, baik dari segi kemanusiaan maupun ekonomi. Operasi penyelamatan dan pencarian akan menjadi tantangan besar, sementara sistem kesehatan dan infrastruktur dasar kemungkinan besar akan kewalahan. Pemulihan pasca-gempa akan membutuhkan sumber daya yang masif dan waktu yang sangat panjang, memperburuk kondisi sosial dan ekonomi yang mungkin sudah rapuh.
Situasi di Venezuela ini menjadi pengingat global akan pentingnya investasi dalam infrastruktur yang aman dan tahan bencana. Meskipun gempa bumi adalah fenomena alam yang tidak dapat dihindari, dampak yang ditimbulkannya dapat diminimalisir melalui perencanaan kota yang bijaksana, penegakan kode bangunan yang kuat, dan edukasi publik tentang kesiapsiagaan bencana. Prediksi USGS yang mengerikan ini bukan sekadar angka, melainkan panggilan darurat untuk bertindak.











