Sebuah usulan aturan baru dari Centers for Medicare & Medicaid Services (CMS) terkait program negosiasi harga obat Medicare berpotensi menimbulkan konsekuensi yang tidak diinginkan. American College of Rheumatology (ACR) dalam sebuah pernyataan kepada Administrator CMS, Dr. Mehmet Oz, mengungkapkan kekhawatiran bahwa putaran baru negosiasi harga obat Medicare dapat secara tidak sengaja membatasi akses pasien terhadap pengobatan yang diberikan di klinik dokter atau fasilitas rawat jalan lainnya.
ACR secara khusus menyoroti potensi dampak negatif pada praktik dokter dan akses pasien terhadap terapi. Pernyataan tersebut, yang ditujukan kepada Administrator CMS Mehmet Oz, MD, dengan tegas menyatakan bahwa aturan yang mengkodifikasikan Medicare Drug Price Negotiation Program ini dapat membawa dampak yang tidak terduga.
“Komentar ACR ini utamanya dimaksudkan untuk membantu CMS memahami,” demikian bunyi sebagian dari pernyataan ACR, yang menekankan bahwa pembatasan akses terhadap pengobatan Part B yang diberikan di kantor dokter atau pengaturan rawat jalan lainnya bisa menjadi konsekuensi yang tidak diinginkan.
Organisasi profesi reumatologi ini berpendapat bahwa perubahan dalam cara penentuan harga obat dapat memengaruhi ketersediaan obat-obatan penting bagi pasien dengan kondisi reumatologis. Mereka khawatir bahwa efisiensi yang dicari melalui negosiasi harga tidak sejalan dengan tujuan utama untuk memastikan pasien menerima perawatan yang tepat waktu dan efektif.
Lebih lanjut, ACR menggarisbawahi pentingnya menjaga kelancaran aliran obat-obatan yang vital dalam sistem perawatan kesehatan, terutama bagi mereka yang mengandalkan pengobatan yang diberikan di luar rumah sakit. Tujuannya adalah agar CMS dapat mempertimbangkan implikasi yang lebih luas dari aturan yang diusulkan, melampaui sekadar aspek penetapan harga.
