Perubahan signifikan pada respons imun tubuh dapat terdeteksi hingga satu dekade sebelum seseorang didiagnosis menderita Inflammatory Bowel Disease (IBD). Temuan ini berasal dari studi kasus-kontrol yang diterbitkan dalam jurnal Gut, yang mengungkap adanya perbedaan respons antibodi pada pasien IBD dibandingkan dengan individu sehat, bahkan bertahun-tahun sebelum gejala penyakit muncul.
Penelitian ini secara khusus mengidentifikasi perbedaan respons antibodi terhadap virus Epstein-Barr (EBV) dan flagellin bakteri sebagai penanda awal. Perubahan ini teramati hingga 10 tahun sebelum diagnosis IBD ditegakkan, menunjukkan bahwa proses penyakit telah berlangsung lama sebelum manifestasi klinisnya terlihat.
Dr. Saurabh Mehandru, selaku penulis studi, profesor gastroenterologi, dan direktur di sebuah institusi riset yang tidak disebutkan namanya, menyatakan, “Sudah menjadi jelas bahwa pada saat kita mendiagnosis penyakit Crohn atau kolitis ulserativa, proses penyakit tersebut biasanya telah berlangsung selama bertahun-tahun.” Temuan ini membuka potensi baru dalam deteksi dini IBD.
Studi yang melibatkan profil serologis ini membandingkan sampel pasien yang kemudian didiagnosis IBD dengan sampel dari kelompok kontrol sehat. Analisis mendalam menunjukkan bahwa pola respons imun yang unik mulai terbentuk jauh sebelum gejala awal IBD, seperti nyeri perut, diare kronis, atau penurunan berat badan, mulai dialami oleh pasien.
Identifikasi perubahan respons imun ini membuka jalan bagi pengembangan metode skrining atau deteksi dini yang lebih efektif untuk IBD. Dengan mendeteksi perubahan serologis ini lebih awal, intervensi medis dapat dilakukan pada tahap yang lebih dini, yang berpotensi mengubah perjalanan penyakit dan meningkatkan kualitas hidup pasien di masa depan. Penelitian lebih lanjut diharapkan dapat mengkonfirmasi temuan ini dan mengembangkannya menjadi alat diagnostik yang praktis.
