Celtic, sang juara Skotlandia, mengalami salah satu momen paling memalukan dalam sejarah Eropa mereka setelah kebobolan lima gol tanpa balas oleh Lask, tim tuan rumah asal Austria. Kejadian ini terjadi pada Selasa malam, mengubah keunggulan agregat yang meyakinkan menjadi kekalahan telak.
Pada menit ke-21, Kapten Celtic, Callum McGregor, berhasil mencetak gol pembuka yang disambut sorak sorai. Dengan keunggulan empat gol secara agregat, tampaknya Celtic telah berhasil mengubur trauma kekalahan mereka di kompetisi Eropa setahun sebelumnya dari Kairat Almaty. Komentator pertandingan, Bill Leslie, bahkan menyatakan, “Dan dengan momen itu, pertandingan ini pasti lepas dari genggaman Lask.” Namun, ucapan tersebut terbukti jauh dari kenyataan.
Apa yang terjadi selanjutnya adalah sebuah kejatuhan yang dramatis dan tak terduga. Dari posisi yang terlihat sangat dominan, Celtic justru harus menderita lima gol tanpa bisa membalas. Kekalahan ini menjadi catatan kelam terbesar bagi klub yang dijuluki “The Grand Old Team To Play For” di kancah Eropa.
Komentar dari pembaca menunjukkan berbagai pandangan mengenai situasi ini. Phil Taverner menyuarakan keheranannya terhadap manajemen keuangan klub sepak bola modern, membandingkannya dengan transaksi jual beli barang bekas yang menguntungkan. “Saya sudah lama menyerah mencoba memahami keuangan sepak bola, tetapi saya tetap terkejut betapa banyaknya klub yang berhasil menyingkirkan rekrutan yang kurang berkinerja dengan harga jauh lebih tinggi dari yang mereka bayarkan untuk pemain yang (kini tidak diinginkan) di tempat pertama,” tulisnya.
Sementara itu, Ken Muir mengaitkan situasi ini dengan taktik Chelsea dalam Liga Primer. Ia merujuk pada surat dari Noble Francis mengenai “taktik aritmatika” Chelsea yang memenangkan pertandingan. “Yang lain mencetak sembilan gol, kami akan mencetak sepuluh, sepertinya itulah pola pikirnya. Untuk Chelsea melawan tim lain di Liga Primer, demi tim fantasi saya, saya akan senang jika mereka mengalahkan mereka,” ungkap Muir.
