Piala Dunia 2026 kembali menyajikan drama ketegangan di fase grup. Timnas Scotlandia menghadapi nasib yang menggantung setelah kekalahan dari Brasil, sementara Afrika Selatan berhasil mengukir sejarah dengan lolos ke babak gugur untuk pertama kalinya. Di tengah optimisme tuan rumah Meksiko yang tampil dominan, Kanada justru harus merelakan keuntungan bermain di kandang sendiri.
Kekecewaan menyelimuti kubu Scotlandia. Kekalahan dari Brasil membuat asa mereka untuk melaju ke babak 32 besar kini bergantung pada hasil pertandingan lain dan perhitungan selisih gol yang rumit. Kapten tim, Andy Robertson, secara jujur mengakui bahwa performa timnya belum cukup untuk memastikan kelolosan. "Jika Anda bertanya kepada saya sekarang, saya tidak berpikir itu cukup, saya tidak berpikir kami telah melakukan cukup," ujar Robertson, mencerminkan kegelisahan yang dirasakan para pemain dan pendukung. Pelatih Steve Clarke pun menyuarakan pandangan yang serupa, "Saya pikir kami akan pulang."
Perjalanan Scotlandia di turnamen ini terasa pahit. Mereka belum berhasil mencetak gol sejak kemenangan tipis atas Haiti berkat gol tunggal John McGinn. Tiga poin yang berhasil dikumpulkan kini harus diadu dengan selisih gol negatif tiga (-3) untuk bersaing memperebutkan tiket ke fase gugur dalam format 48 tim yang baru diperkenalkan di edisi kali ini. Format yang dianggap sebagian pihak masih memiliki celah struktural dalam menentukan kelolosan tim.
Kontras dengan nasib Scotlandia, Afrika Selatan justru merayakan pencapaian bersejarah. Kemenangan atas Korea Selatan di Monterrey memastikan "Bafana Bafana" melaju ke babak gugur Piala Dunia untuk pertama kalinya. Ini menjadi bukti bahwa awal yang kurang mulus tidak selalu menentukan hasil akhir. Kisah serupa pernah terjadi pada Spanyol di Piala Dunia 2010 yang kalah di laga pembuka namun akhirnya menjadi juara, atau Argentina yang sempat tertunduk lesu oleh Arab Saudi pada Piala Dunia 2022 namun tetap melaju jauh.
Gol tunggal yang dicetak oleh Maseko menjadi penentu kemenangan Afrika Selatan. Lolosnya tim ini ke babak gugur menjadi sorotan tersendiri, membuktikan bahwa semangat juang dan determinasi dapat membawa sebuah tim melampaui ekspektasi, bahkan setelah mengalami kekalahan di laga awal seperti saat melawan Meksiko dengan sembilan pemain.
Sementara itu, tuan rumah Meksiko menunjukkan performa yang impresif. Tiga pertandingan dilakoni, tiga kemenangan diraih, enam gol dicetak tanpa kebobolan satu pun. Penjaga gawang kawakan, Guillermo Ochoa, yang merupakan bagian dari skuad Meksiko di Piala Dunia 2006, turut merasakan euforia kemenangan ini. Keberhasilan Meksiko menjaga rekor sempurna juga mengeliminasi Republik Ceko dari persaingan, menegaskan dominasi mereka di fase grup.
Namun, di antara para tuan rumah, Kanada justru mengalami penurunan performa yang cukup mengkhawatirkan. Setelah menelan kekalahan dari Swiss, mereka terpaksa kehilangan keuntungan bermain di kandang sendiri. Pertandingan babak 32 besar Kanada akan digelar di Los Angeles, bukan di Vancouver, yang menandakan pergeseran posisi dan potensi hilangnya dukungan publik yang signifikan. Kekalahan dari Swiss ini membuat Kanada harus puas berada di posisi kedua klasemen grup, sementara Swiss keluar sebagai juara grup.
Piala Dunia 2026 dengan 48 tim memang menghadirkan dinamika baru. Format yang lebih besar ini membuka peluang lebih luas bagi negara-negara yang sebelumnya sulit menembus putaran final, namun juga menimbulkan tantangan dalam penentuan peringkat dan kelolosan. Situasi Scotlandia yang kini menunggu hasil akhir pertandingan lain menjadi gambaran nyata dari ketidakpastian yang dihadirkan oleh format baru ini.
Menjelang akhir fase grup, perhatian kini tertuju pada Grup E, F, dan D yang akan segera menyelesaikan pertandingan terakhirnya. Hasil dari grup-grup ini akan semakin memperjelas peta persaingan di babak gugur dan potensi duel-duel menarik yang akan tersaji. Para penggemar sepak bola di seluruh dunia menantikan kelanjutan drama Piala Dunia 2026, di mana setiap pertandingan menyimpan cerita dan kejutan tak terduga.











