Beberapa kiper di Piala Dunia 2026 tengah menghadapi masa-masa sulit, termasuk Luca Zidane dari Aljazair. Dalam dua pertandingan yang telah dilakoni, gawangnya telah kebobolan lima gol. Dua di antaranya, yang dicetak oleh Lionel Messi dan Nizar al-Rashdan dari Yordania, luput dari tangkapan tangan Luca, memberikan sorotan tajam atas performanya di panggung terbesar sepak bola dunia.
Luca bukan satu-satunya penjaga gawang yang mengalami nasib serupa. Edouard Mendy dari Senegal dan Ahmed Basil dari Irak juga dilaporkan kesulitan menahan laju bola meskipun sudah berusaha menjangkaunya. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan: apakah ada sesuatu yang tidak beres dengan bola yang digunakan?
Joe Hart, mantan kiper timnas Inggris, menjadi salah satu yang pertama menyuarakan kekhawatirannya. Ia kerap mengamati bahwa para kiper kesulitan membaca kecepatan bola resmi Piala Dunia 2026, Adidas Trionda. "Bola ini datang ke arah kiper jauh lebih cepat daripada yang dirasakan saat bola lepas dari kaki pemain," ujar Hart. "Zidane sebenarnya mampu menyelamatkan bola seperti yang dicetak Messi. Ketika kiper sudah terbiasa dengan bola Piala Dunia ini, kita akan melihat penyelamatan-penyelamatan seperti itu."
Komentar Hart dilontarkan sebelum Luca menjalani pertandingan keduanya. Namun, kegagalan Luca menahan tendangan Nizar al-Rashdan yang dilepaskan dengan bagian luar kaki di pertandingan melawan Yordania, justru semakin mengindikasikan bahwa masalah ini mungkin akan berlanjut. Untungnya, ada bantuan yang datang dalam bentuk penelitian ilmiah mendalam.
Sebuah makalah ilmiah setebal 18 halaman yang disusun oleh para akademisi dari Korea Selatan dan Jepang mencoba mengungkap misteri ini. Dengan judul "Orientation-Dependent Drag Crisis and Flight Response of the Fifa World Cup Match Ball Trionda", penelitian ini secara rinci menganalisis bagaimana bola Trionda berperilaku di udara. Para peneliti melakukan eksperimen dengan menembakkan bola melalui terowongan angin untuk mengukur efek gaya aerodinamis.
Pengujian dilakukan dari enam sudut berbeda dan hasilnya menunjukkan temuan yang konsisten. Apapun arah tendangan bola, jika mencapai kecepatan tertentu, bola akan terbang lebih cepat dari perkiraan. Fenomena ini dijelaskan melalui konsep "krisis seret" (drag crisis). Krisis seret terjadi ketika aliran udara di sekitar objek yang bergerak di udara beralih dari kondisi halus (aliran laminar) menjadi bergejolak (aliran turbulen).
Ketika aliran udara menjadi turbulen, hal ini mengganggu hambatan udara di belakang objek yang bergerak, sehingga memungkinkannya melaju lebih kencang. Para peneliti mencatat bahwa desain Trionda, dengan susunan jahitan dan alur yang disengaja, memungkinkan krisis seret terjadi pada kecepatan yang lebih rendah dibandingkan bola lain.
Hal ini tentu menjadi masalah bagi para penjaga gawang. Jika sebuah bola tidak melambat seperti yang diharapkan karena efek krisis seret, para kiper bisa saja tertangkap basah. Para peneliti juga menemukan faktor lain yang memperumit situasi. Mereka mengamati bahwa meskipun efek krisis seret terjadi terlepas dari titik tendangan bola, tingkat keparahannya dapat bergeser tergantung pada apakah bola mengenai jahitan atau panel.
Ternyata, mengenai jahitan cenderung menghasilkan hambatan yang lebih rendah. Selain itu, krisis seret juga bervariasi tergantung pada ketinggian. Semakin tinggi lokasi pertandingan, semakin kecil kemungkinan fenomena ini terjadi.
Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) sendiri tidak menutup-nutupi potensi aerodinamis dari bola Trionda saat peluncurannya. Salah satu inovasi utama yang diklaim adalah pergeseran ke desain empat panel, sebuah langkah yang baru pertama kali terjadi dalam sejarah turnamen. Sebagai perbandingan, Adidas Al Rihla yang digunakan di Piala Dunia Qatar empat tahun lalu memiliki 20 panel.
Menurut FIFA, konstruksi empat panel ini menggabungkan jahitan yang sengaja dibuat dalam. Tujuannya adalah menciptakan permukaan yang menghasilkan stabilitas optimal di udara dengan memastikan hambatan yang cukup dan terdistribusi merata saat bola melaju. FIFA juga menyebutkan adanya ikon timbul yang hanya terlihat dari dekat untuk meningkatkan cengkeraman saat menendang atau menggiring bola dalam kondisi basah atau lembab.
Namun, Adidas mengklaim bahwa Trionda telah melalui lebih dari 300 tes laboratorium sebelum disetujui. Desainnya diklaim memastikan "lintasan yang lebih dapat diprediksi." Bagi mereka yang mengingat Piala Dunia 2010, hal ini mungkin mengingatkan pada bola Jabulani yang kontroversial di Afrika Selatan. Bola tersebut dikritik keras oleh para pemain top seperti Iker Casillas yang menyebutnya "mengerikan" dan Gianluigi Buffon yang menganggapnya "sama sekali tidak memadai" karena kemampuannya tiba-tiba mengubah lintasan di udara. Berbeda dengan Trionda, Jabulani memiliki permukaan yang mulus.
Para akademisi Korea Selatan dan Jepang dalam makalah mereka mengamati bahwa krisis seret memengaruhi lintasan dan kecepatan bola. Di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, tampaknya masalahnya lebih berkaitan dengan kecepatan daripada lintasan. Makalah mereka, yang tersedia secara bebas di jurnal online Fluids, diharapkan dapat memberikan wawasan tambahan bagi para penjaga gawang selama jeda kompetisi di kamp mereka.
Fenomena ini menyoroti kompleksitas sains di balik olahraga populer, di mana inovasi teknologi terkadang membawa konsekuensi tak terduga yang dapat memengaruhi performa atlet di lapangan. Dengan semakin banyaknya pertandingan yang dimainkan, para penjaga gawang diharapkan akan terus beradaptasi dan mengembangkan strategi baru untuk mengatasi tantangan yang ditimbulkan oleh bola Trionda yang unik ini.











