Timbul, seorang sopir becak motor (betor) yang sehari-hari mangkal di kawasan Malioboro, Yogyakarta, merasa heran dan terkejut saat mengetahui dirinya terdaftar dalam desil 9 pada Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS). Status ini, yang seharusnya menandakan tingkat kesejahteraan yang relatif baik, justru menimbulkan kebingungan baginya mengingat perjuangannya dalam memenuhi kebutuhan hidup, terutama untuk biaya pendidikan anaknya.
Pria asal Kulon Progo ini telah bertahun-tahun menjalani profesinya sebagai sopir betor di jantung pariwisata Yogyakarta. Kehidupan sehari-harinya diwarnai dengan upaya keras untuk mengumpulkan rupiah demi rupiah, agar putranya dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang perkuliahan. Namun, ia mengaku masih kesulitan untuk menutupi seluruh biaya kuliah tersebut.
“Saya kaget sekali, kok bisa masuk desil 9. Padahal, untuk kuliah anak saya saja saya masih pontang-panting mencari uang,” ujar Timbul dengan nada heran saat ditemui di kawasan Malioboro.
Desil 9 dalam DTKS umumnya menunjukkan bahwa seseorang atau keluarga berada pada kelompok kesejahteraan yang lebih tinggi dibandingkan desil-desil di bawahnya. Keterkejutan Timbul mencerminkan adanya kesenjangan antara data formal yang tercatat dan realitas ekonomi yang ia hadapi sehari-hari.
Ia berharap agar data tersebut dapat ditinjau kembali dan disesuaikan dengan kondisi sebenarnya. Timbul juga mengungkapkan harapannya akan adanya perhatian dan bantuan dari pemerintah, terutama untuk meringankan beban biaya kuliah anaknya yang menjadi prioritas utamanya saat ini. Baginya, bantuan tersebut akan sangat berarti untuk masa depan pendidikannya.
