Venezuela diguncang oleh serangkaian gempa bumi berkekuatan magnitudo yang signifikan, memicu kepanikan dan kerusakan di berbagai wilayah, termasuk ibu kota Caracas. Lembaga Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) melaporkan dua gempa utama dengan kekuatan M 7,2 dan M 7,5 yang mengguncang negara tersebut pada waktu yang berdekatan. Gempa pertama tercatat pada pukul 18:04 waktu setempat, berpusat di dekat Kota San Felipe, sekitar 280 kilometer sebelah barat Caracas. Tak lama berselang, gempa susulan yang lebih kuat dengan magnitudo 7,5 kembali mengguncang, kali ini berpusat di kawasan Yumare, sedikit ke utara dari lokasi gempa pertama.
Dampak awal dari rangkaian gempa ini dilaporkan cukup parah. Laporan dari warga dan foto-foto yang beredar di media sosial menunjukkan sejumlah gedung mengalami keruntuhan, baik di Caracas maupun di La Guaira. Skala kerusakan secara keseluruhan masih dalam proses pendataan, namun indikasi awal menunjukkan potensi bencana yang luas. USGS bahkan mengeluarkan peringatan bahwa ada kemungkinan jumlah korban jiwa melebihi 10.000 orang, mengingat kekuatan gempa yang sangat besar dan risiko gempa susulan yang kuat di area terdampak. Selain itu, potensi tanah longsor dan likuifaksi juga menjadi ancaman serius bagi keselamatan warga dan infrastruktur.
Menteri Dalam Negeri Venezuela, Diosdado Cabello, dalam pernyataan melalui televisi pemerintah mengonfirmasi adanya rumah dan gedung yang runtuh akibat gempa. Ia menginstruksikan pengerahan seluruh badan keamanan, tim bantuan, perlindungan sipil, relawan, serta pemadam kebakaran dan polisi untuk segera merespons situasi darurat. Cabello juga menyerukan agar seluruh warga yang berada di wilayah terdampak segera meninggalkan bangunan mereka demi keselamatan.
Situasi di Bandara Internasional Maiquetía dilaporkan tegang, dengan video yang beredar menunjukkan puluhan orang berlarian dan berteriak di tengah kerusakan signifikan yang terjadi di fasilitas bandara. Sebagai langkah pencegahan, layanan gas alam yang memasok ribuan rumah di berbagai kota telah dihentikan untuk menghindari potensi kecelakaan lebih lanjut. Gangguan pada layanan listrik dan sinyal internet juga dilaporkan terjadi di beberapa bagian kota, menambah kompleksitas upaya penanganan bencana.
Gempa bumi yang terjadi bertepatan dengan hari libur nasional di Venezuela, memperparah situasi karena lebih banyak warga yang berada di rumah dibandingkan pada hari kerja biasa. Tanggal 24 Juni sendiri diperingati sebagai hari peringatan Pertempuran Carabobo pada tahun 1821, sebuah momen bersejarah bagi Venezuela.
Jurnalis dan kontributor BBC Mundo, Nicole Koster, yang merasakan langsung guncangan di apartemennya di pusat Caracas, menggambarkan pengalamannya sebagai gempa terkuat yang pernah ia rasakan seumur hidup. Ia menceritakan bagaimana jendela-jendela besar di apartemennya bergoyang hebat, dan ia segera mencari perlindungan di antara pintu masuk dan dinding batu yang ia anggap kokoh. Guncangan yang luar biasa kuat membuatnya merasa bangunan tempat tinggalnya terancam roboh. Dalam kesaksiannya, Nicole juga mendengar suara-suara orang meminta pertolongan dari balik reruntuhan bangunan.
Warga lain di Caracas, Maria Elise, melaporkan adanya keretakan pada dinding apartemennya. Ia juga menyaksikan tiang listrik tumbang dan kesulitan mendapatkan layanan listrik serta sinyal komunikasi. Seorang warga berusia 80 tahun di selatan Caracas bercerita kepada kantor berita Reuters bahwa bangunannya bergoyang hebat dan ia dibantu turun oleh polisi karena tidak mampu bergerak sendiri.
USGS sendiri telah mengeluarkan peringatan bahwa gempa susulan dengan kekuatan yang signifikan masih mungkin terjadi, sehingga warga diimbau untuk tetap waspada dan mengikuti arahan dari pihak berwenang. Potensi bencana susulan seperti tanah longsor dan likuifaksi juga menjadi perhatian serius dalam upaya penanggulangan pasca-gempa. Penanganan darurat dan pendataan korban serta kerusakan terus dilakukan oleh tim gabungan pemerintah dan relawan di seluruh wilayah yang terdampak.











